Mendadak Jadi Istri

Mendadak Jadi Istri
Buka Celanamu


__ADS_3

"Kenapa malam jumat terlihat sangat mengerikan, oh langit bisakah kamu cepat pagi," ucapku.


Aku yang enggan kembali ke kamar pun memilih menuruni tangga dan memutuskan untuk tidur di ruang tengah.


Rumah terlihat sangat sepi karena para penghuni rumah sudah masuk ke kamar masing masing tinggal aku sendiri yang terjebak tidur di luar karena balada malam jumat.


Aku berbaring di sofa dan mencoba untuk memejamkan mata, ketika aku hampir terlelap sayup sayup aku dengar suara seseorang yang sedang tertawa terdengar seperti tawa kuntilanak, tiba-tiba tubuhku terasa merinding, aku pun mencoba untuk tidak menghiraukannya dan kembali memejamkan mata tapi lagi-lagi suara itu terdengar kembali, aku ingat kalau malam ini malam jumat.


"Yaelah setan kenapa juga kamu keluarnya malam jumat gak jumat siang saja," ucapku sambil berlari terbirit-birit menuju kamarku lagi.


Tanpa sepengetahuan Sabila Bunda dan Nabila membekap mulutnya agar tawanya tidak lepas, sebenarnya tadi yang membunyikan rekaman suara tawa kuntilanak adalah bunda dan Nabila agar Sabila kembali ke kamarnya.


Sabila sudah tidak peduli lagi dengan apa yang tadi dia takutkan di dalam kamar baginya suara tawa kuntilanak itu lebih menakutkan, Sabila membuka pintu kamar dengan kasar dan segera menutupnya dengan cara membantingnya hingga menimbulkan suara yang cukup keras dan membuat Adnan yang sedang tertidur kaget dan segera bangun dari posisinya, Sabila pun segera menubruk tubuh Adnan memeluknya dengan erat dan menyembunyikan wajahnya di dada Adnan.


"Eh ini kenapa? apa tidak salah nih main peluk," ucap Adnan kaget.


"Diam kamu! di luar ada hantu," ucap Sabila masih dengan posisi memeluk erat Adnan.


"Ada hantu atau kamu sedang mau?" tanya Adnan jahil.


"Mimpi kamu," ucapku kesal dan segera melepaskan pelukanku.


Aku pun segera menggulingkan tubuhku ke sisi tempat tidur yang kosong di sebelah Adnan dan aku pun segera berbaring dengan posisi membelakanginya. Saat aku ingin memejamkan mataku kembali terngiang di telingaku suara tawa kuntilanak itu aku pun membalikkan badan dan memeluk erat punggung Adnan.


"Eh ini apa lagi?" tanya Adnan.


Aku sempat merasakan tubuh Adnan menegang tapi aku tidak peduli.


"Diam! aku cuma mau peluk pelit amat sih jadi suami mau peluk saja tidak boleh," ucapku sambil terus mengeratkan pelukanku.


"Bukannya tidak boleh tapi kalau aku sampai khilaf bagaimana?" ucap Adnan.


"Kalau kamu sampai khilaf aku pastikan burungmu akan aku potong," jawabku tanpa mengubah posisi.


"Lagian kamu modus katanya ada hantu segala padahal aslinya mau peluk peluk," ucap Adnan.

__ADS_1


"Di bilangin di luar beneran ada hantu ngeyel saja," ucapku kesal dan aku memutuskan untuk segera tertidur, aku malas untuk terus berdebat dengan Adnan yang sudah bisa di pastikan tidak ada ujungnya.


Tidur sambil memeluk Adnan ternyata nyaman juga aku sudah tidak bisa menahan kantukku lagi karena rasa nyaman ini.


*****


"Sabila lepaskan pelukannya, ayo bangun ini sudah subuh,"


Sayup sayup aku dengar suara Adnan tapi mataku ini masih berat untuk terbuka.


"Sebentar lagi masih ngantuk," jawabku dan semakin aku mengeratkan pelukanku.


"Sabila ini sudah subuh, lepaskan pelukannya aku mau pergi ke masjid ini sudah subuh," terdengar kembali suara Adnan.


"Ih bawel banget sih," ucapku kesal dan melepaskan pelukanku aku pun mengambil posisi membelakangi Adnan.


"Nabila bangun sholat subuh, sudah siang!" lagi lagi Adnan mengganggu tidurku.


"Sholat saja kamu Adnan aku mau lanjut tidur masih ngantuk," ucapku dan menutup seluruh tubuhku dengan selimut hingga ujung kepala.


"Adnan kamu rese sekali sih," ucapku kesal dan aku pun kembali menarik selimut yang tadi di tarik Adnan.


Aku pun tidak lagi mendengar suara berisik Adnan yang sibuk membangunkanku.


"Yes akhirnya dia pun menyerah, aku bisa lanjut tidur dengan tenang," ucapku dalam hati.


Ketika aku sedang ingin kembali memejamkan mata menikmati tidurku tiba tiba aku merasakan basah di wajahku, tidak hanya sekali tapi terus menerus.


"Bocor... bocor," teriakku dan segera aku bangkit dari posisi tidurku.


Saat aku membuka mata, aku lihat Adnan memegang gayung berisi air dan menyiprat nyipratkan ke wajahku.


Lagi lagi nih orang menggunakan air untuk mengganggu tidurku.


"Adnaaaaan rese sekali sih kamu!" teriakku.

__ADS_1


"Eh sudah bangun ya? baguslah ayo kita sholat!" ucap Adnan santai tanpa merasa bersalah.


"Aku lagi kedatangan tamu," ucapku.


Aku sengaja berbohong padanya karena aku tidak mau ikut sholat, jujur saja aku sudah lupa cara sholat bahkan bacaannya tidak satupun aku ingat saking lamanya aku meninggalkan sholat hingga tidak ada satupun cara dan bacaan yang masih tersisa di ingatanku.


"Beneran kamu lagi datang bulan?" tanya Adnan sambil menatapku curiga.


"Beneran," jawabku meyakinkan.


"Boleh aku melihatnya?" tanya Adnan.


Pertanyaan Adnan kali ini hampir membuatku pingsan bisa bisanya dia bertanya seekstrim itu. Aku pun berpikir yang tidak tidak, aku khawatir kalau Adnan tiba-tiba menyerangku. Aku pun menarik selimut dan menutupi seluruh tubuh, aku memegang selimut itu dengan sangat erat.


"Aku cuma mau melihat kamu beneran lagi datang bulan atau cuma lagi ngompol," ucap Adnan santai.


"Sebenarnya kamu lagi nafsu kan pagi pagi begini mau buka buka milik orang," ucapku memojokkan dia.


"Aku tidak sedang meminta hak ku Sabila! melainkan aku sedang memastikan untuk melakukan kewajiban ku, aku akan memastikan apa kamu beneran sedang datang bulan atau hanya sekedar berbohong untuk menghindari sholat," ucap Adnan.


Ucapan Adnan memang sangat benar aku sedang berbohong tapi aku tidak mau mengakuinya, aku tidak ingin dia menang.


"Katanya tadi kamu mau sholat subuh di masjid kenapa juga masih di sini? cepat sana pergi ke masjid nanti ketinggalan loh," ucapku mengalihkan pembicaraan.


"Hari ini saya tidak pergi ke masjid, saya akan menjadi imammu, kita akan sholat berjamaah jadi cepat bangun waktu subuh tidak lama," ucap Adnan sambil berjalan menuju kamar mandi.


"Aku tadi kan sudah bilang Adnan kalau aku sedang datang bulan," teriakku.


Adnan pun menghentikan langkahnya dan berbalik menatapku kemudian kembali berjalan menghampiriku.


"Cepat buka celanamu aku ingin melihatnya," ucap Adnan serius.


Aku pun kembali tercekat, aku tidak yakin kalau si Adnan beneran sanggup melihat aurat seorang wanita, aku yakin dia hanya menggertakku.


"Cepat Sabila waktu subuh itu pendek!" titahnya lagi.

__ADS_1


Aku pun menguatkan diri, aku yakinkan hatiku kalau Adnan hanya menggertakku saja, aku pun membuang selimut yang sejak tadi aku gunakan untuk menutupi tubuhku, aku memegang resleting celana yang aku pakai dan berniat untuk membukanya, sebenarnya tanganku sangat gemetar melakukan ini tapi sebisa mungkin aku bersikap biasa jantungku berdetak sangat kencang.


__ADS_2