
"Menyesatkan," ucap Adnan sambil menatapku.
"Ya aku memang sesat tapi kamu suka kan?" ucapku sambil mengerlingkan mata nakal pada Adnan tidak lupa aku pun meraba kakinya yang ada di bawah meja menggunakan kakiku, Adnan sontak kaget dengan ulahku dan dia menyemburkan air yang ada di mulutnya ke wajahku.
"Adnan....," teriakku.
"Maaf aku tidak sengaja," ucap Adnan sambil menyodorkan tisu padaku.
"Aku benci sama kamu! kita cerai," ucapku sambil mengambil kasar tisu yang di sodorkan Adnan padaku. Aku pun segera pergi meninggalkan Bunda dan Adnan dimeja makan karena aku kesal sama Adnan yang menyemburkan air ke wajah cantikku.
Aku sempat melihat Bunda yang menatapku dengan wajah menahan tawanya, sialan si Adnan ini.
Aku pun berjalan sambil menghentak hentakan kakiku menuju kamar dan segera masuk ke kamar mandi untuk mencuci mukaku.
Aku berdiri di depan wastafel dan segera mencuci mukaku berkali-kali dan masih saja terasa lengket, aku menyabunnya lagi dan membasuhnya berulang kali.
"Aku benci kamu Adnan, bisa bisanya kamu merusak make up ku, tunggu saja pembalasanku," gumam ku.
"Sabila, apakah kamu ada di dalam?" tanya sebuah suara yang tidak lain itu si Adnan yang menyusulku masuk ke kamar. Dia memanggil manggil namaku sambil mengetuk pintu kamar mandi.
Aku yang sedang kesal padanya tanganku terkepal erat dan ingin sekali meninju wajah tampannya itu sampai babak belur, tiba-tiba ide bagus muncul di otakku, aku pun segera mengambil odol dan menaruhnya di tanganku.
Aku segera membuka pintu kamar mandi dan sebelum dia sempat mengucapkan sepatah katapun aku sudah lebih dulu mengusap wajahnya dengan tanganku yang penuh odol, bukannya menghindar Adnan malah hanya diam saja dan membiarkan aku bertindak sesuka hati.
"Rasain kamu," ucapku sambil tanganku terus mengusap wajahnya, Adnan tidak melawan dia malah menutup matanya dan membiarkan aku melampiaskan kekesalan ku.
"Sebenarnya ini orang bodoh atau terlalu baik sih?" gumam ku dalam hati. Aku pun terdiam menatap wajah Adnan yang sudah rata dengan odol karena ulahku.
"Sudah puas?" tanyanya sambil membuka mata. Dia menatapku yang saat ini sedang keheranan dengan apa yang dia lakukan.
"Maafkan aku Sa, telah membuat wajahmu kotor," ucap Adnan.
Aku pun terpaku mendengar permintaan maafnya, aku tidak menyangka laki laki seperti Adnan ini rela meminta maaf padahal kesalahan itu terjadi juga karena ulahku.
__ADS_1
"Aku salah Sa telah membuat wajah cantikmu berantakan maafkan aku ya!" ucap Adnan lagi.
Aku memalingkan wajahku seakan-akan aku masih marah padanya padahal ucapan tulusnya itu membuat marahku sudah meluap entah kemana.
"Hmmm," jawabku singkat.
Adnan menatapku serius, aku pun heran kenapa nih bocah menatapku sampai segitunya.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu?" tanyaku pada Adnan.
"Tuh alismu luntur," jawab Adnan sambil nunjuk alis ku.
Aku pun segera berlari masuk kembali ke dalam kamar mandi tidak bisa di biarkan kalau sampai alisku luntur itu gawat dan harus segera di tata ulang.
Aku pun kembali berdiri di depan wastafel kamar mandi aku tatap pantulan diriku di cermin ternyata Adnan membohongiku, alisku masih cetar membahana dia bilang luntur.
"Adnaaaaaaannnnn," teriakku kesal setengah mati.
"Kamu bohong ya... tidak aku sangka kamu tukang bohong," ucapku kesal
"Sa aku serius minta maaf padamu," ucapnya sambil mengelap pipiku yang masih basah karena sisa air waktu aku mencuci muka tadi, manik mata hazel itu menatapku, aku pun membalasnya ada ketenangan dari sorot mata Adnan yang membuatku enggan berpaling darinya. Tanpa aku sadari kepalaku pun mengangguk sambil tersenyum menandakan kalau aku sudah memaafkannya.
"Hmmm rupanya ada yang sedang bermesraan, maaf aku mengganggu," tiba tiba sebuah suara yang tidak asing terdengar di telingaku, aku pun segera menjauhkan tangan Adnan dari pipiku dan menengok ke arah asal suara ternyata si Nabila sudah berdiri di depan pintu kamar mandi yang tidak tertutup.
Aku pun berjalan keluar meninggalkan Adnan yang masih tenang berdiri di depan wastafel, aku pun segera mendekati Nabila yang sedang cengengesan.
"Ambil balik tuh suamimu!" ucapku sambil melotot ke arah Nabila.
"Aduh Sabila masih marah saja, jangan suka marah marah tahan emosi secara kamu sekarang kan sudah menjadi istri ustadz harus sabar, oh ya enaknya kamu aku panggil apa ya? umi atau aunty, ni?"ucap Nabila cengengesan sambil mengikutiku keluar dari kamar.
"Antibiotik," ucapku ketus.
Nabila pun kembali tertawa karena melihatku yang sedang marah padanya.
__ADS_1
"Iya anti... biotik," ucapnya sambil tertawa.
Aku pun melototi Nabila tapi tidak di hiraukan dia malah asik ketawa ketiwi cekikikan sendiri.
"Oh ya Sa di mana Bunda?" tanya Nabila saat kami menuruni tangga menuju kamar bunda.
"Tadi aku sudah melihatnya ke kamar Sa tapi tidak ada," ucap Nabila.
"Mungkin sedang buang air," jawabku.
"Masa orang sakit bisa buang air sendiri Sa?" ucap Nabila.
"Bunda itu bukan sakit stroke jadi bisa jalan sendiri ke kamar mandi tidak perlu pakai pempers," ucapku kesal.
"Bunda...Bunda ini anak durhaka sudah pulang," ucapku setengah berteriak dan aku pun membuka pintu kamar Bunda, aku lihat Bunda baru keluar dari kamar mandi.
"Bunda... maafkan Nabila Bun," ucap Nabila sambil berhambur ke pelukan Bunda.
Tangis haru terlihat diantara mereka berdua tanpa terasa air mataku juga ikutan menetes.
"Kutuk dia jadi kecoa Bun karena dia sudah tega mendzolimi aku," ucapku mencairkan suasana.
"Oh itu tidak mungkin Bunda kan sangat menyayangiku jadi tidak mungkin Bunda mengutukku, iya kan Bunda," ucap Nabila sambil mengecup pipi Bunda kanan kiri bergantian.
"Bunda mau bicara serius sama kalian berdua," ucap Bunda menatapku serius tanpa senyum seperti biasanya kemudian menoleh ke ara Nabila, Bunda melepaskan tangan Nabila dan berjalan keluar dari kamar.
Aku dan Nabila saling pandang, penasaran apa yang akan di katakan Bunda pada kami berdua, kami pun berjalan mengikuti Bunda sampai di ruang tengah dan di sana sudah ada Adnan yang tengah duduk santai di depan Bunda.
"Duduk!" perintah Bunda.
Aku dan Nabila saling sikut, kemudian kami berjalan mendekati Bunda dan memilih duduk di samping Bunda.
Kami sangat tegang melihat wajah seriusnya Bunda yang sebelumnya belum pernah kami lihat, ini sungguh membuatku merinding, aku menatap Adnan memberinya isyarat apakah dia tahu apa yang akan di bahas Bunda tapi Adnan dengan santainya memalingkan muka, dasar suami tidak peka apakah dia tidak tahu kalau saat ini istrinya sedang dilanda kegalauan.
__ADS_1