
"Bagaimana Nabila sekarang keputusan ada di tanganmu, kamu mau meminta pacarmu itu segera datang melamar atau kalian putus saja, dan kalau kamu masih bersikeras untuk memilih belum mau menikah dan tidak mau putus dari pacarmu itu mulai besok Bunda akan memasukkan mu ke pesantren saja," ucap Bunda final.
Aku pun tersenyum puas akhirnya si Nabila akan menikah juga kalau tidak mau ya putus sama Bara atau lebih parahnya lagi masuk pesantren ah senangnya hatiku akhirnya Nabila kena getahnya juga siapa suruh tega memperalatku hingga aku terjebak di pernikahan konyol ini.
"Kamu yakin mau putus sama Bara, Na? udah deh masuk pesantren saja biar kamu jadi Ukhti bukan Kunti," ucapku sambil cengengesan.
"Tutup mulutmu Sa!" ucap Nabila sambil melotot ke arahku. Aku pun semakin melebarkan senyumku, hari ini aku berhasil jadi setan penghasut.
Aku lihat Nabila sedang berfikir mungkin dia sedang menimbang mana yang harus dia lakukan untuk masa depannya.
"Bunda Nabila gak mau masuk pesantren, kan Nabila sudah menutup aurat Bun! jadi Nabila bisa jaga diri," ucap Nabila merengek merayu Bundanya.
Bunda terlihat sekali lagi menghela nafas kasar.
"Nabila kamu itu anak perempuan, memang kamu sudah menutup auratmu walaupun caranya belum sempurna tapi Na itu bukan berarti kamu sudah bisa menjaga diri karena saat dua orang berlainan jenis berdua sudah bisa di pastikan yang ketiga adalah setan dan Bunda belum yakin kalau kalian bisa menang melawan setan yang namanya hawa nafsu," ucap Bunda.
"Bunda yang kamu sudah tahu Nabila, kalau orang tua harus mempertanggung jawabkan semua perbuatan dan tindakannya selama dia mengasuh dan mendidik anak anaknya di hadapan Allah, Bunda takut Nabila jika kamu salah pergaulan, Bunda tidak sanggup menanggung semua konsekuensinya di akhirat nanti, jadilah wanita yang berakhlak mulia, senakal nakalnya kamu ingatlah Allah, ingat Nak seorang anak perempuan bisa menyeret ayahnya ke neraka jika salah mengambil keputusan, Bunda takut karena Bunda salah mendidik mu akan berakibat fatal untuk ayahmu yang sudah berada di sisi Allah mendahului kita," lanjut Bunda sambil mengelap sudut matanya yang tiba-tiba air mata meluncur tanpa permisi.
Nabila pun menunduk, dia merasa bersalah.
"Beri waktu Nabila untuk berfikir Bun!" pinta Nabila.
Ruang tengah yang sekaligus menjadi ruang keluarga ini pun tidak terdengar lagi suara, hening yang terdengar hanya detak jarum jam.
Kruuuuuukkkkkkk.
__ADS_1
Tiba-tiba perutku berbunyi, dasar ini perut tidak bisa di ajak kompromi, saat serius begini sempat sempatnya dia berteriak minta di isi bikin malu saja.
"Lapar Bun," ucapku cengengesan sambil memegangi perutku yang baru saja demo.
"Makan sana Sa! Bunda lihat kamu belum makan mulai dari tadi malam," ucap Bunda.
Bunda ini memang seorang ibu yang sangat perhatian walaupun aku bukan anak kandungnya dia pun selalu memperhatikan aku seperti anaknya sendiri.
"Iya Bun habisnya semalam sudah ngantuk Bun gara gara kemarin malam diancam Adnan jadi gak bisa tidur kemarin malam," ucapku sambil berdiri dan ingin pergi ke ruang makan untuk mengisi perut.
"Diancam bagaimana?" tanya Bunda terkejut.
"Tuh Bun tanya saja pada orangnya," ucapku sambil melanjutkan langkahku.
"Kamu ancam Sabila apa, Adnan?" ucap Bunda sambil menatap Adnan serius.
Aku pun masih bisa mendengar ucapan Adnan dan aku segera menyahut dari dapur.
"Adnan mengancam mau memperkosaku Bun," teriakku.
Adnan pun menundukkan kepalanya saat mendengar teriakanku dari dapur, aku yakin saat ini dia sedang malu biar tahu rasa siapa suruh dia mau main main sama aku.
Malam pun tiba aku berjalan mengendap-endap di depan pintu kamar Nabila, aku putar gagang pintu ternyata pintunya tidak di kunci syukurlah, jadi malam ini aku bisa tidur tenang.
"Mau apa kamu ke sini, Sa?" tanya Nabila heran saat melihatku berada di kamarnya.
__ADS_1
Aku pun tidak menghiraukan pertanyaan Nabila, aku lebih memilih untuk melompat ke tempat tidurnya dan membaringkan tubuhku yang terasa lelah letih dan lesu ini. Nabila geram melihat tingkahku apalagi aku yang dengan sengaja mengabaikan pertanyaannya dia pun memukulku dengan boneka beruang yang sejak tadi dia peluk.
"Aku tidur di sini sama kamu ya, Na," ucapku sambil memeluk guling kesayanganku kalau aku tinggal di sini.
"Tidak boleh! kembali sana ke kamarmu sendiri kamu kan sekarang sudah punya suami ngapain tidur sama aku," ucap Nabila dengan matanya yang melirik sinis.
Ini anak tatapan matanya tidak seperti biasanya aku yakin saat ini dia sedang galau memikirkan hubungannya dengan Bara mau di bawa kemana selanjutnya. Aku pun tertawa dalam hati syukur akhirnya dia pun merasakan kebingungan siapa suruh tega menjebakku.
"Please ijinkan aku tidur di sini Na! aku takut kalau aku tidur di kamarku sendiri, aku takut besok pagi aku sudah tidak perawan lagi," ucapku cengengesan.
"Masyaallah Sa, dosa kamu menolak permintaan suami," ucap Nabila.
Nabila sedikit banyak tahu tentang hukum agama yang berkaitan dengan pernikahan dan juga lainya karena Nabila pernah belajar di pesantren walaupun dia suka keluar masuk pesantren karena katanya jenuh dan membosankan tinggal di sana. Gara gara suka keluar masuk pesantren jadi ilmu yang dia peroleh saat menuntut ilmu di pesantren tidak ada yang betah tinggal di otaknya itu sebabnya walaupun dia menutup aurat tapi masih suka berbuat seenaknya sendiri, kalau kataku sih ibarat dua kaki itu yang satu melangkah ke surga dan yang satunya melangkah ke neraka.
"Aku tidak dosa Na, apalagi istri yang durhaka tentu saja bukan diriku banget aku tidak pernah menolak permintaan suamiku lah dianya tidak pernah meminta haknya," ucapku cengengesan.
"Jangan bilang kalau kamu sedang menunggunya meminta jatah? ayo ngaku kamu Sa," ucap Nabila memojokkanku.
"Enggak...eh iya, ah kamu kepo Na," ucapku.
Nabila pun memukulku dengan boneka yang sejak tadi di peluknya aku pun terkikik oleh tingkah Nabila yang sebenarnya saat ini aku tahu dia sedang pusing memikirkan apa yang harus dia lakukan untuk mempertahankan hubungannya dengan Bara, sengaja aku menggodanya agar dia tidak terlalu stres memikirkan itu semua.
"Bagaimana Na apa kamu sudah bisa menentukan langkah selanjutnya?" tanyaku.
"Rasanya aku saat ini ingin mencekikmu Sa! gara gara kamu Bunda malah mendesakku agar segera menikah," ucap Nabila kesal.
__ADS_1
Aku pun tertawa melihat wajah jengkel Nabila.
"Na kalau aku sekarang membunuhmu dosa apa gak ya? gara gara kamu aku harus terjebak di pernikahan ini, aku harus menikah dengan Adnan orang yang sebelumnya aku tidak kenal sama sekali, aku tahu Adnan pun waktu menjemputnya di bandara dan sekarang statusku sudah istri Adnan, maka sebagai hukumannya kamu juga harus segera menikah dengan Bara, enak saja setelah menjebakku kamu mau main kabur saja," ucapku kesal.