Mendadak Jadi Istri

Mendadak Jadi Istri
Semangat Sabila


__ADS_3

Aku pun menjalani hari penuh semangat untuk belajar, entah kenapa aku merasa sangat semangat bahkan tidak pernah merasa bosan untuk belajar ilmu agama dari Sinta, entah karena dia mengajarkannya kepadaku dengan cara sederhana yang mudah aku mengerti atau terbawa suasana pesantren aku tidak mengerti tapi yang jelas aku sangat semangat untuk bisa menguasai apa yang diajarkan oleh Sinta. Selain belajar dari Sinta aku pun selalu mengikuti kajian yang diadakan di pesantren ini, kini sedikit-sedikit aku mengetahui tentang ilmu agama, aku semakin tertarik dan cinta dengan yang namanya Islam setelah sering berada di pesantren ini. Walaupun belum banyak yang aku ketahui tapi aku sudah jatuh cinta dan semakin semangat mempelajari semuanya, aku menyesal kenapa dari dulu aku tidak melakukan ini. Sekarang aku sadar entah seberapa banyak dosa yang telah aku lakukan selama ini, aku ingin bertobat dan memperbaiki diriku, kini aku pun lebih memperbaiki cara berpenampilan ku, aku lebih sering memakai gamis dari pada celana ketat dan pakaian kurang bahanku. Biarlah Adnan berpikir seperti apa terhadapku yang jelas saat ini aku sudah jatuh cinta pada Islam.


Saat ini aku sedang bersantai di teras rumah sambil membaca buku tentang agama milik Adnan yang ada di perpustakaan mini di rumah ini, aku merasa bersyukur setidaknya Adnan memiliki koleksi buku agama yang lengkap mulai dari pemula hingga yang ahlinya. Setidaknya itu membantuku untuk lebih memahami apa itu Islam.


"Aku sedang mencari sesuatu tapi kenapa akhir-akhir ini tidak ketemu?" ucap Adnan yang tiba-tiba duduk di sampingku.


Aku pun menutup buku yang sedang aku baca dan menatap Adnan, aku ingin mengetahui apa yang sedang dia cari barang kali aku bisa membantunya.

__ADS_1


"Kamu sedang mencari apa? Barang kali aku bisa membantumu untuk menemukannya?" Ucapku. Sampai detik ini aku belum menjalankan kewajibanku sebagai seorang istri dan aku pun bersyukur setidaknya Adnan menepati janjinya tidak memaksaku untuk melakukan kewajibanku sebelum aku sendiri bersedia dan rela hati menyerahkan semua kepadanya. Adnan memang sosok yang baik dia selalu bersabar menghadapi diriku.


"Beneran kamu mau membantuku? Tapi jujur aku sebenarnya tidak ingin menemukan itu lagi, sepertinya sekarang aku menyukai yang ada sebagai pengganti yang dulu," ucap Adnan yang terdengar ambigu di telingaku.


Aku pun menatap Adnan penuh penasaran, sebenarnya apa sih yang sedang dia cari.


"Sebenarnya apa yang sedang kamu cari sih, Ustadz?" Tanyaku. Semenjak beberapa bulan yang lalu panggilanku terhadap Adnan berubah yang awalnya aku memanggilnya dengan sebutan Adnan sekarang berganti menjadi ustadz dan Adnan pun memanggilku dengan sebutan Habibah entah apa artinya aku tidak tahu artinya tetapi aku merasa suka dipanggil seperti itu oleh Adnan.

__ADS_1


Aku pun berdecak sebal, lelaki ini kadang-kadang membuat tensiku naik juga, tapi aku berusaha untuk sabar, karena kemarin aku mendengar dari ceramah ustadz kepala di pesantren kalau meninggikan suara pada suami itu besar dosanya, aku tidak mau melakukan itu karena aku merasa sudah terlalu banyak dosa yang aku lakukan, sudah cukup aku tidak mau menambahnya lagi. Aku takut masuk neraka karena apa yang digambarkan oleh Sinta tentang neraka kemarin sangat mengerikan.


"Terserah kamu saja, Ustadz mau mengatakan padaku atau tidak!" ucapku berusaha untuk sabar. Seandainya aku masih Sabila yang dulu yang bar-bar sudah aku pastikan saat ini aku sudah mencak-mencak menghadapi kelakuan Adnan.


"Hahahaha sungguh aku menyukai ini, aku suka sekali dengan perubahan yang terjadi padamu Habibahku! Tetaplah seperti ini selalu semangat mempelajari Islam, selalu Istiqomah untuk berhijrah menuju kebaikan," ucap Adnan tertawa bahagia.


"Maaf Ustadz tidak nyambung! apa yang tadi sedang kita bicarakan tidak ada hubungannya dengan apa yang aku lakukan saat ini, jangan terlalu memujiku aku takut kamu akan jatuh cinta," ucapku asal.

__ADS_1


"Tentu ada! Apa yang aku cari dengan apa yang ada di hadapanku saat ini! Aku sedang mencari sosok urakan dan sering memakai pakaian kurang bahan yang dulu hampir setiap detik menguji imanku, aku lebih suka kamu dengan penampilan seperti ini, lebih terlihat anggun dan bersahaja, teruslah berusaha dan belajar tentang agama ini, mari kita sama-sama belajar untuk menjadi lebih baik, dan satu lagi seandainya aku jatuh cinta padamu aku pun tidak keberatan karena cintaku itu sudah halal, aku mencintai istriku sendiri, Assalamualaikum," ucap Adnan. Pria itu mengelus pucuk kepalaku yang kini tertutup jilbab sebelum pergi meninggalkan aku seorang diri di teras rumah. Menatap kepergiannya dengan heran.


"Waallaikum salam," ucapku menjawab salam Adnan.


__ADS_2