Mendadak Jadi Istri

Mendadak Jadi Istri
Penampilan berubah


__ADS_3

Acara pernikahan si Nabila dan Bara berlangsung sangat meriah, kadang aku iri dengan teman -temanku yang memiliki orang tua yang sangat menyayangi mereka tidak seperti aku yang bahkan orang tuaku tidak peduli dengan kehidupanku, entah aku makan atau tidak diluaran sana mereka tidak peduli.


Setelah seminggu dari hari pernikahan itu aku pun diajak oleh Adnan untuk kembali ke Lampung tempat dia mengajar pondok di sana dan aku sudah memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliahku lagi, biarlah aku tidak mau mejadi beban siapapun.


Sebenarnya Adnan mengijinkan aku untuk melanjutkan kuliah lagi dan mau membiayainya tapi untuk apalagi aku kuliah toh sekarang aku sudah menikah.


Kami tiba di Lampung tengah malam, aku pun sekarang merubah dandananku , kini aku belajar untuk memakai hijab walaupun masih berantakan, setelah mendengar ceramah dari ahli agama yang mengisi pengajian di pernikahan Nabila yang sampai membuatku menangis akhirnya aku pun mulai sadar kalau menutup aurat itu wajib hukumnya bagi setiap wanita muslim.


"Istirahatlah! besok pagi aku akan pergi ke pondok pesantren, kamu di rumah sendiri tidak keberatan kan?" ucap Adnan.


"Kalaupun aku keberatan apakah kamu mau mengajakku ke pesantren?" tanyaku.


Memang sejujurnya bukan karena aku merasa takut sendirian tapi aku ingin belajar agama Islam dengan serius karena selama ini aku hanya Islam dalam KTP saja.


"Baiklah kalau kamu mau ikut, besok kita pergi ke pesantren tapi jangan pakai celana pakailah rok atau gamis," ucap Adnan.


"Iya ," jawabku.


Kami pun berangkat ke pesantren menggunakan motor milik Adnan, di sana dia mengenalkanku dengan para pengajar di pesantren tempat dia mengajar.

__ADS_1


"Ini istrimu ya Ustadz?" tanya seorang pria mungkin usianya sama seperti suamiku.


"Iya ini istriku kenalkan namanya Sabila dan Sabila kenalkan ini namanya Surya dia temanku," ucap Adnan.


Aku pun ingin membuat Adnan tidak malu jangan sampai dia diomongin temannya yang bilang kalau istrinya sombong maka aku berniat untuk menyalami temannya itu tapi anehnya temannya itu tidak menyambut uluran tanganku malah dia melipat kedua tangannya di depan wajahnya sambil tersenyum ke arahku.


Aku pun membalas senyumannya ada rasa malu di sana aku pun segera menurunkan tanganku yang menggantung di udara, Adnan mungkin tahu kalau saat ini aku sedang malu dia pun segera mengajakku untuk dikenalkan dengan ustadzah dan ustadz lain di pesantren ini.


"Surya kami permisi dulu ya ! aku mau kenalin istriku pada yang lainnya," ucap Adnan.


"Iya silahkan ustadz,' jawab Surya sambil tersenyum ramah.


Kami pun berjalan menyusuri jalanan yang lumayan ramai oleh para santri yang lalu lalang, pesantren ini memang tergolong pesantren besar muridnya pun aku rasa ada ribuan, Adnan membawaku kesebuah ruangan yang di sana ada beberapa perempuan berpakaian rapi dan berjilbab sungguh mereka sangat cantik dan entah kenapa aku suka sekali melihat gaya berpakaian mereka padahal dulu aku paling ngefans sama yang namanya pakaian sexy tapi saat melihat cara berpakaian para perempuan ini aku kok merasa jadi tertarik ternyata gamis pun ada yang modis aku baru tahu ini atau memang dulu aku tidak pernah peduli dengan yang namanya gamis dan lainnya yang berbau tertutup seperti itu, Nabila berhijab tapi pakaian yang dipakai bukan gamis melainkan celana jins dan juga kemeja atau tunik aku pertama kali lihat Anisa pakai gamis saat lamaran saja.


"Waallaikum salam ...eh ustadz Adnan sudah kembali, eh siapa itu gadis cantik yang ada di samping ustadz?" tanya salah satu dari empat perempuan itu.


Adnan pun tersenyum dan mengenalkan aku pada teman-temannya ini.


"Ini istriku namanya Sabila, Sabila kenalkan itu teman teman mengajar di sini, " ucap Adnan.

__ADS_1


Entah aku yang salah lihat atau memang benar adanya dari keempat gadis itu ada yang salah satunya seperti kaget saat tahu kalau aku istri Adnan, tapi ya sudahlah aku juga gak mau pusing ngurusi itu.


"Oh ini istrinya ustadz ya... assalamualaikum kak kenalkan nama saya Sinta, itu Rita, yang ini Rukma dan yang ujung itu Dewi," ucap perempuan yang menyebutkan namanya Sinta itu.


"Waallaikum salam saya Sabila senang berkenalan dengan kalian," jawabku.


Walaupun aku orang begajulan kalau cuma jawab salam aku juga bisa jadi kali ini aku tidak malu lagi seperti tadi waktu kenalan dengan Surya.


"Oh ya aku titip istriku ya! temani dia ajak sekalian mengikuti pengajian biar dia gak bosan di sini, nanti kalau aku sudah selesai tak ambil lagi awas jangan sampai ada yang lecet kalau sampai ada yang lecet aku akan denda kalian," ucap Adnan tanpa senyum menghiasi bibirnya.


"Idihhh pak ustadz galak amat iya deh iya kami jaga itu istrinya," ucap salah satu perempuan yang tadi menyebutkan namanya Dewi.


"Sabila kamu disini dulu ya bersama mereka aku mau jalanin tugas dulu," ucap pamit Adnan.


Aku pun mengangguk sebagai jawaban.


"Assalamualaikum," ucap Adnan lalu meninggalkan kami di ruangan ini.


"Waallaikum salam," sahut kami bersamaan.

__ADS_1


"Ayo kak kita ke aula sekalian untuk mengikuti pengajian rutunan," ajak Rukma yang sejak tadi diam saja.


Kami pun segera melangkahkan kaki menuju aula yang di maksud Rukma tadi sebenarnya hati ini deg degan ini untuk pertama kalinya aku menginjakkan kaki di pesantren yang dulu waktu aku masih kecil adalah sebuah tempat yang mengerikan dalam pikiranku.


__ADS_2