
Aku pun segera turun dan meninggalkan Adnan sendirian di kamar, aku memilih menyusul Bunda dan Nabila di dapur, aku yakin nanti saat aku tiba di dapur sudah bisa di pastikan Nabila akan menghabisi ku dengan kata katanya, aku harus mempersiapkan mental dari sekarang.
"Ciye...yang baru saja selesai bikin adonan," ucap Nabila ketika aku baru saja menginjakkan kaki di pintu dapur.
"Apaan sih Na!" ucapku sambil melemparkan sayuran ke arahnya, sayuran yang aku dapatkan dari meja yang ada di depan Nabila.
"Idih kok rambutnya tidak basah! jangan bilang kamu medendengnya Sabila karena kamu malas mandi jadi kamu masih dalam keadaan junub saat ini," ucap Nabila semakin menjadi menggodaku.
"Apaan sih Na! berhenti ngoceh siapa lagi yang sedang junub," ucapku kesal, aku tahu ya arti junub karena kemarin aku tanpa sengaja membaca di internet waktu aku sedang mencari tahu tentang sunah malam jum'at karena aku penasaran dengan jawaban yang diberikan oleh Adnan.
"Idih sekarang sudah ada perkembangan ya, si Kunti sudah benar-benar menjelma menjadi ukhti, kini dia sudah tahu arti junub dan tadi aku lihat dia juga sudah memakai mukena," ucap Nabila cengengesan.
"Ihhh Nabila bisa diam tidak! Bunda ini Nabila nakal," ucapku mengadu pada Bunda sambil mengerucutkan bibirku.
"Sudah.... sudah kalian ini kalau bertemu mesti ribut terus, ayo bantu Bunda masak biar cepat selesai," ucap Bunda melerai kami.
Akhirnya kami pun hanya saling lempar sayuran dan bergegas membantu Bunda dengan tugas masing masing yang diberi Bunda.
Kami pun sibuk dengan tugas masing masing yang terdengar hanya suara suara yang ditimbulkan oleh alat dapur yang kami pegang masing masing.
Setelah selama satu jam sibuk di dapur akhirnya sarapan pun siap dan tertata rapi di atas meja makan.
"Sabila sana panggil suamimu untuk sarapan bersama!" perintah Bunda.
Aku pun sebenarnya enggan untuk melakukan itu mengingat apa yang terjadi tadi pagi masih membuatku kesal pada Adnan.
"Biar Nabila saja Bun yang panggil Adnan, aku bantu Bunda menyiapkan piring," ucapku.
"Loh kok aku, kan kamu istrinya," ucap Nabila.
"Iya istri pengganti," ucapku.
__ADS_1
"Eh tidak boleh begitu Sabila! bagaimanapun sekarang statusmu istri Adnan ayo sana segera panggil Adnan mungkin dia sudah merasa lapar," ucap Bunda menyuruhku untuk segera memanggil Adnan.
Akhirnya mau tidak mau aku pun menuruti perintah Bunda dari pada aku di marahi oleh Bunda bisa sampai besok ngomelnya.
"Iya Bunda," ucapku sambil berdiri dan berjalan menuju kamar.
"Ya begitu dong jadi istri yang berbakti," ucap Nabila sambil cekikikan.
Aku pun berbalik dan menatapnya dengan tatapan tajam, bukannya takut malah si Nabila ini tambah keras tawanya semakin membuatku kesal saja, akhirnya aku pun memilih untuk segera pergi dari sana dari pada jadi emosi sendiri.
Sesampainya di depan pintu kamar aku pun segera membuka pintu yang tidak terkunci aku lihat si Adnan sedang duduk sambil memainkan ponselnya.
"Enak sekali kamu sedang santai seperti di pantai," ucapku.
"Santai apaan pinggangku terasa sakit tahu tadi tertimpa entah apa berat sekali," ucapnya sambil berdiri dan memegangi pinggangnya yang seakan akan sedang merasakan sakit yang teramat sangat.
"Siapa yang berat?" tanyaku tidak terima, dengan kata lain dia mengatakan kalau aku gemuk dan berat tadi menimpanya sehingga membuatnya kesakitan.
"Entah apa tadi yang berat menimpaku seperti sekarung beras," ucapnya cengengesan.
Bukannya marah Adnan malah terkekeh dan menangkap kedua tanganku dan menggenggamnya.
Mata kami saling menatap, ada getaran aneh yang menjalar dalam tubuhku hingga tanpa sadari saat ini salah satu jariku telah masuk ke dalam mulut Adnan dan dia menggigitnya hingga memerah.
Aku pun kesal dengan perlakuan Adnan ini dan spontan aku memukul lengannya ketika tanganku sudah terlepas dari genggamannya.
"Ihhhh rabies...aku harus pergi vaksin biar gak terjangkit virus," ucapku sambil mengusap jariku dengan tisu.
"Sini biar aku yang vaksin," ucap Adnan berjalan mendekatiku.
"Iiihhh apaan sih Adnan," ucapku kesal.
__ADS_1
"Katanya mau vaksin biar aku saja yang memberikan vaksinasi tapi efeknya kamu hamil," ucapnya semakin mendekatiku.
Aku pun segera mundur dan aku yakin saat ini wajahku sedang memerah karena malu, aku dengar Adnan terkekeh mungkin dia merasa sangat bahagia karena sudah berhasil membuatku malu.
"Sudah berhenti ngaconya ayo keluar Bunda sudah menunggumu di meja makan untuk sarapan," ucapku sambil berjalan lebih dulu keluar dari kamar meninggalkan Adnan.
Kalau aku masih berada di kamar bersama Adnan bisa bisa jantungku lepas dari tempatnya karena ulah tuh orang.
Kami pun akhirnya berkumpul di meja makan untuk menikmati sarapan.
"Lama sekali sih panggilnya, gak tahu apa kalau aku sudah lapar, atau kalian tadi melanjutkan bikin adonan dulu," ucap Nabila ketika aku baru saja kembali ke meja makan.
"Berisik kamu Na!" ucapku kesal.
Nabila pun menanggapi kekesalanku dengan cengengesannya dan itu sukses membuatku semakin kesal.
Saat sedang sarapan tanpa sengaja aku menatap wajah Adnan yang duduk di depanku, tiba-tiba aku teringat kembali apa yang aku rasakan saat dia menggodaku tadi, ada getaran aneh yang aku rasakan menjalar di seluruh tubuhku, getaran aneh yang belum pernah aku rasakan sebelumnya.
"Eh malah bengong, sedang mengingat anu ya?" ucap Nabila sambil mencubit lenganku.
Posisi duduk kami bersebelahan jadi Nabila tidak kesulitan mencubit ku.
"Mengingat anu apa?" tanyaku penasaran.
"Itu anunya suamimu, kalau boleh tahu besar atau kecil ukurannya," ucap Nabila sambil berbisik di telingaku.
Aku yang mendengar perkataan Nabila yang tanpa disaring itu pun shock hingga membuatku terbatuk-batuk, Adnan pun menyodorkan air minumnya yang langsung aku terima dan aku tegak hingga tandas, dasar si Nabila anak jin beneran nih orang aku heran kenapa Bunda Nirmala yang anggun bisa memiliki anak yang tingkahnya seperti anak jin seperti ini aku kok jadi ragu kalau Nabila ini anak kandung Bunda.
"Nabila berhenti menggoda Sabila! kasihan dia sampai tersedak seperti itu," ucap Bunda memperingati Nabila.
Nabila pun cengengesan.
__ADS_1
"Biarkan saja Bun, biar si Sabila tahu rasa salah siapa dia kemarin jadi kompor sekarang biar dia tahu rasa pembalasanku," ucap Nabila sambil menjulurkan lidahnya ke arahku.
"Sudah... sudah ayo lanjutkan sarapannya dulu nanti kalau kalian mau perang terserah Bunda tidak peduli yang penting sekarang habiskan sarapan kalian! heran aku kalian ini sudah pada dewasa tapi tingkahnya masih seperti bocah saling serang terus tidak ada yang mau mengalah satu pun," ucap Bunda geleng geleng kepala melihat tingkah kami yang selalu saja bikin rusuh di setiap waktu.