
Baru saja aku meletakkan ponselku kembali berdering dan aku lihat Nabila lagi yang menelepon aku pun segera mengangkatnya.
"Ada apa lagi Na! aku ini lagi nunggu si Adnan kenapa ya dari tadi kok dia gak masuk masuk kamar," ucapku tanpa sadar karena aku merasa penasaran kenapa sudah lumayan lama aku berbaring di kamar ini yang seharusnya si Adnan sudah masuk tapi kok belum kelihatan batang hidungnya.
"Cie istri pak ustadz sudah tidak sabar untuk di unboxing," goda Nabila sambil tertawa terbahak-bahak.
"Diam kamu Na!" teriakku.
"Hahahaha aku kasih tahu ya Sa, yang aku dengar dari teman teman ustadz itu kelihatan halus dan lembut di luar tapi saat di ranjang liarnya melebihi serigala hutan," ucap Nabila masih dengan diselingi tawanya.
Entah kenapa tiba-tiba bulu kudukku meremang mendengar ucapan Nabila.
"Tutup mulutmu Na! cepetan pulang dan ambil kembali suamimu itu, seharusnya dia menjadi suamimu bukan suamiku, bodohnya aku mau saja mengikuti permainanmu dan akhirnya aku sendiri yang terjebak," ucapku garang.
"Hahahaha aku tidak mau pulang! Sabila sayang selamat bercocok tanam, tata cara dan doanya sudah aku kirim ke wa mu ya segera kamu pelajari sebelum suamimu masuk kamar agar kamu tidak kualahan menghadapinya, selamat menikmati Sabila," ucap Nabila dan sambungan telepon tiba tiba terputus sebelum aku sempat memakai makinya.
Benar saja tidak beberapa lama masuk pesan dari Nabila berisi doa doa entah doa apa ini aku pun hampir tidak bisa membacanya seandainya tidak ada terjemahan dengan tulisan latin bahasa Indonesia, kalau cuma tulisan arab alamat aku akan mati penasaran karena tidak bisa membacanya.
Mataku melotot saat melihat tulisan besar sebagai judul "Tata cara berjimak beserta doa" apa apaan ini bocah ingin rasanya aku cekik dia saat ini juga tapi apa daya tanganku tak sampai karena dia berada jauh entah di mana.
"Ih apa benar seperti ini caranya aku kok jadi ngeri," ucapku setelah membaca sedikit tata cara melayani suami. Segera aku hapus saja pesan dari Nabila agar tidak semakin membuatku stres, kenapa juga takdirku begini amat harus menikah dengan seorang ustadz yang sangat menyimpang dari gaya hidupku selama ini.
Aku pun menatap langit langit kamar cukup lama meratapi nasibku yang selama ini sangat mengenaskan, hingga tanpa sengaja tanganku menjatuhkan bantal yang ada di sampingku tiba-tiba aku kembali ingat kalau Adnan sampai saat ini belum masuk kamar.
"Ckkk...kemana sih nih orang? kenapa juga belum masuk masuk," tanyaku seorang diri.
Bukannya ini malam pertama pernikahan kita ya? seharusnya sebagai seorang laki-laki normal Adnan akan segera masuk ke kamar tapi kenapa nih orang tidak kunjung masuk sejak tadi.
__ADS_1
"Sebenarnya dia di luar sedang ngapain sih? jangan jangan dia sedang berbincang-bincang dengan bunda dan bunda menceritakan semua tentang aku termasuk juga kelemahan ku? waduh bisa gawat ini walaupun aku seorang istri tapi aku tidak mau di ancam menggunakan kelemahan ku, lebih baik aku mencarinya ke bawah jangan sampai kedahuluan bunda bercerita semua rahasiaku padanya," ucapku dalam hati.
Aku pun segera melompat dari tempat tidur dan bergegas menuju pintu membukanya untuk mencari Adnan di bawah tapi ketika pintu baru aku buka sosok Adnan sudah berada di hadapanku sepertinya dia akan masuk tapi aku lebih dulu membuka pintu dari dalam.
"Idih lama banget sih di luar! kenapa gak cepetan masuk!" ucapku sambil menarik tangan Adnan dan membawanya segera masuk ke dalam kamar.
"Memangnya kenapa? lagi nungguin jatah ya?" ucap Adnan dengan santainya.
Mataku melotot mendengar ucapannya yang sembarangan itu.
"Ih pede banget kamu, jangan mimpi kalau saat ini aku sedang menunggu jatah darimu," ucapku ketus.
Adnan pun melepaskan tangannya dari genggamanku tapi aku segera meraihnya kembali dan membawanya ke tempat tidur.
"Apaan sih ini main sosor saja," ucap Adnan.
"Lalu kenapa kamu menarik ku ke tempat tidur kalau tidak mau main sosor lagi," ucapnya santai.
Aduh nih mulut ustadz bisa juga ya nyerocos seperti petasan.
"Kita bahas pernikahan ini," ucapku sambil menatap matanya yang kali ini dia membalas menatapku tidak lagi memalingkan wajah seperti sebelumnya.
"Katakan!" ucapnya santai sambil ikutan duduk di tepi tempat tidur tepat di sebelahku.
"Sebenarnya aku sudah punya kekasih," ucapku memulai pembicaraan.
"Terus," ucapnya santai.
__ADS_1
"Aku masih mencintainya dan masih ingin melanjutkan hubungan kami, kita bisa putus dan bercerai jika suatu saat nanti kamu sudah menemukan orang yang cocok denganmu," ucapku terus terang.
"Maunya kamu hubungan kita ini seperti apa?" tanya Adnan sambil menatapku serius.
"Aku ingin kita menikah tanpa cinta dan bercerai jika kita masing-masing sudah menemukan orang yang kita cintai," ucapku gamblang.
"Aku tidak setuju," jawab Adnan tegas.
"Eh jangan begitu! kenapa kamu tidak mau toh kita menikah tidak di landasi saling mencintai," ucapku.
Walau bagaimanapun aku tidak ingin menjalani pernikahan yang tanpa cinta seperti ini, meskipun Adnan terlihat lebih tampan dari Faisal tapi aku lebih suka Faisal yang terlihat jauh lebih keren cara berpakaiannya dari pada Adnan yang selalu memakai baju koko dan celana bahan.
"Aku tidak peduli toh sekarang status kita sudah sah jadi suami-istri dan aku tidak mau bercerai," ucap Adnan yang kemudian berdiri dan berjalan ke arah kamar mandi.
"Tapi kita tidak saling cinta, apa kamu bisa bertahan dengan pernikahan ini tanpa melakukan hubungan suami-isteri?" ucapku yang aku tekankan pada kata hubungan suami istri.
Aku lihat Adnan tidak peduli dia terus melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi dan sosoknya menghilang di balik pintu kamar mandi.
Aku pun frustasi, ku usap wajahku dengan kasar.
"Nasib sepertinya aku harus benar-benar menjalani pernikahan ini, aku sudah tidak bisa mundur lagi, ah Nabila kamu membuatku terjebak dalam pernikahan ini," gumam ku sambil berguling guling diatas tempat tidur.
Tiba-tiba otakku bekerja mengingat kembali kalau ini malam pertama pernikahanku dengan Adnan aku khawatir kalau Adnan memaksaku untuk di unboxing bisa gawat, aku tidak mau melakukan itu kalau aku di unboxing sekarang dan hamil terus gagal dong aku minta cerainya.
"Ah lebih baik aku pura pura tidur saja sekarang, aku rasa ini lebih aman," gumam ku.
Aku berusaha memejamkan mata, tapi hanya bisa sebentar mata ini tidak bisa diajak kompromi tiba-tiba terbuka kembali. Pikiranku kalut memikirkan malam pertama sungguh aku merasa dah dig dug takut kalau Adnan akan memaksa untuk unboxing tubuhku ini.
__ADS_1