
"Nggak ada Bun! Sabila asal saja kalau sedang ngelantur," ucap Nabila membela diri.
Nabila melotot ke arahku tapi aku pura pura tidak melihatnya.
"Hust sudah-sudah tidak usah bahas yang begituan sekarang, nanti saja kalau sudah hari H bisa itu di ajarin si Nabilanya," ucap Bunda melerai kami.
"Boro-boro mau ajarin Nabila sampai detik ini saja aku masih bersegel," ucapku yang kemudian langsung aku bekak mulut ini kenapa sampai kelepasan.
"Apa tadi katamu Sa! masih bersegel? apanya yang masih bersegel?" tanya Bunda penasaran.
"Gak Bun salah ngomong! gak penting juga," ucapku. Aku berharap Bunda percaya dengan ucapanku kali ini kalau tidak bisa panjang urusannya.
"Ya sudah lanjutkan pekerjaan kalian biar cepat selesai takut gak keburu," ucap Bunda.
"Baik Bun," sahutku semangat.
Aku bernafas lega Bunda tidak menanyakan kembali ape yang tadi sempat terlontar dari bibir ini, aku lihat Nabila cekikikan melihat wajahku yang tadi sudah panik takut Bunda mempermasalahkannya.
****
Masakan sudah siap terhidang di atas meja semua, cemilan, kue dan minuman pun sudah siap. Bunda menyuruh Nabila untuk masuk ke kamarnya bersiap-siap dan belum boleh keluar kalau belum di panggil Bunda nanti, sedangkan aku bebas karena aku punya tugas negara dari Bunda sebagai penyambut tamu sekaligus pramusaji menyajikan cemilan dan minuman untuk para tamu.
Terdengar bel pintu berbunyi dan kemudian diikuti dengan orang yang mengucapkan salam, Bunda dan Adnan menjawab salam itu kemudian bergegas membuka pintu aku mengikuti dari belakang.
Aku tersenyum lega akhirnya tamu penting itu tiba ini tandanya keputusan untuk pernikahan Nabila akan segera di bicarakan aku bahagia akhirnya ada teman nikah muda juga.
Adnan dan Bunda mempersilakan Bara beserta keluarganya untuk duduk dan aku pun segera bergegas ke dapur untuk mengambil cemilan serta minuman yang sudah di siapkan untuk Bara dan keluarganya.
"Sa.. Nabila mana?" bisik Bara ketika aku sedang menyajikan cemilan di atas meja.
"Cie yang sudah tidak sabar melihat calon istri," godaku pada Bara seperti yang biasa aku lakukan setiap kami bertemu.
"Bu bolehkah Nabilanya di panggil, kami ingin melihat calon menantu kami," ucap Tante Bara yang ikut datang ke rumah ini.
Bara langsung mengacungkan jempol ke arah tantenya yang meminta untuk memanggil Nabila keluar.
"Biar aku saja yang panggil Nabila Bun," ucapku pada Bunda dan di balas anggukkan oleh Bunda.
Aku pun segera bergegas ke kamar Nabila, dan aku lihat saat ini Nabila sedang clingukan di depan pintu kamarnya aku yakin tadi dia berdiri di ujung tangga untuk mengintip Bara dan keluarganya.
__ADS_1
"Ciee yang sedang curi-curi pandang pada calon suami dan calon mertua," godaku pada Nabila.
"Sudah boleh keluar pa belum?" tanya Nabila padaku.
"Gak sabaran amat Ning!" godaku.
"Diam kamu Sa! aku sudah rindu sama Bara tahu!" ucap Nabila sambil mengerucutkan bibirnya.
Aku pun tertawa melihat tingkah Nabila.
"Sudah boleh turun sekarang," ucapku sambil tersenyum.
Nabila pun tersenyum bahagia dia ingin segera berlari keluar tapi kemudian berbalik lagi menghampiriku.
"Kamu tetap di sampingku ya! sumpah aku deg-degan," ucapnya sambil merangkul tanganku.
Aku pun mengangguk dan kami pun turun bersamaan, sejak dari ujung tangga aku melihat Bara selalu menatap Nabila tanpa berkedip dan dia pun sampai tidak sadar kalau saat ini Nabila sudah ada di depannya.
"Awas nanti kalau matanya juling loh," ucapku sambil terkekeh.
Bara pun seperti terkejut karena ucapanku, dia kaget dan segera menggaruk tengkuknya karena malu ketahuan kalau sejak tadi memperhatikan Nabila tanpa berkedip.
"Iya cantik sekali," ucap Papa Bara.
"Ayo dong Pa nikahkan kami besok," ucap Bara asal.
Orang-orang yang ada di sana pun tertawa mendengar ucapan Bara. Dan Nabila pun wajahnya semu memerah karena malu.
"Papa sih terserah kalian maunya kapan," ucap Papa Bara.
"Bun bagaimana menurut Bunda kapan baiknya itu kedua calon pengantin sudah tidak sabar untuk segera di nikahkan," ucapku sambil menyenggol lengan Bunda agar Bunda segera merespon ucapan Papa Bara.
"Sebentar lagi puasa jadi bagaimana kalau dua Minggu lagi kita langsungkan pernikahan mereka apakah Bapak setuju?" tanya Bunda pada papa Bara.
"Baiklah saya setuju, lebih cepat lebih baik agar mereka tidak sampai membuat dosa yang fatal," jawab papa Bara.
Keputusan tentang kapan tanggal pernikahan Nabila dan Bara pun sudah diumumkan, aku melihat Nabila dan Bara saling senyum-senyum mereka saling curi pandang, aku sengaja menutup mata Nabila dengan kedua tanganku tapi Nabila bergegas menyingkirkan tanganku dari wajahnya dan kembali menatap Bara sambil senyum tersipu.
Bunda pun mengajak kami semua berpindah ke meja makan untuk menikmati hidangan yang sudah di siapkan.
__ADS_1
Aku pun segera menyeret kursi yang ada di sebelah Bunda, aku berniat duduk di sebelah Bunda tapi Nabila segera menarikku menjauh dari sana.
"Duduk di sebelah suamimu sana!" ucap Nabila.
Aku pun sebal dengan tingkah Nabila akhirnya mau tidak mau aku pun duduk di kursi sebelah Adnan.
"Kak Adnan itu bayam spesial di siapkan Sabila untuk Kakak loh," ucap Nabila mulai membuat keributan denganku.
"Eh bohong Kak itu tadi Nabila yang memasaknya katanya buat testimoni," ucapku sambil melotot ke arah Nabila.
Adnan menatap tumis bayam yang ada di hadapannya.
"Terima kasih sudah memasaknya untukku, masih ingat saja sama ucapan ibu-ibu penjual sayur itu," ucap Adnan sambil terkekeh.
Wajahku pun memerah karena ucapan Adnan, ini semua gara-gara Nabila.
"Bukan aku yang masak itu si Nabila, dia bilang mau tahu buktinya buat testimoni," ucapku mencari pembelaan.
"Testimoni apaan Sa?" tanya Bunda penasaran.
"Pokoknya menyangkut hal yang berkaitan dengan orang-orang yang sudah menikah Bun," jawabku malu-malu.
"Ha-ha-ha kok saya jadi ingat dulu waktu saya masih muda dulu juga biasa di masakkan bayam oleh mamanya Bara," celetuk papa Bara.
Aku pun tersenyum mendengar ucapan papa Bara ternyata tim bayam juga.
"Sekarang tidak ada lagi yang memasak bayam untuk Om karena mamanya Bara sudah lama meninggal," ucap Papa Bara sedih.
"Gimana kalau Om menikah saja sama Bunda jadi ada yang masakin buat Om," ucapku spontan.
"Hust mana boleh seperti itu Sa!" ucap Bunda sambil menyenggol tanganku.
"Kenapa tidak boleh Bun kan Bunda janda papa Bara duda," ucapku.
"Eh ngawur kamu Sa kalau aku anak pungut bisa papa nikah sama bunda dan gue nikah sama Nabila tapi ini gue anak kandung kalau bunda sama papa nikah batal dong gue gak bisa nikah sama Nabila, gak ...itu gak boleh terjadi," ucap Bara.
"Tuh calon pengantin takut amat kalau gagal nikah," ucapku sambil tersenyum.
Mereka yang mendengar pun tertawa melihat Bara dan Nabila yang salah tingkah.
__ADS_1