
"Dulu ustadz Adnan dan ustadzah Rukma pernah dekat tapi hanya sekedar dekat dalam artian sesama pengajar di sini tapi lambat laun kedekatan mereka banyak dibicarakan di pesantren ini, entah siapa yang mulai tapi berita kalau ustadz Adnan dan ustadzah Rukma saling menyukai pun cukup cepat tersebar bahkan ada yang mengatakan kalau ustadz Adnan akan melamar ustadzah Rukma, tapi entah bagaimana ceritanya tiba-tiba Ummu membawa ustadz Adnan pergi ke pulau Jawa katanya mau melanjutkan perjodohan ustadz Adnan dengan teman masa kecilnya," ucap Sinta menjelaskan.
"Apakah ustadz Adnan dan ustadzah Rukma saling mencintai?" tanyaku penasaran.
"Aku tidak begitu mengerti tentang perasaan mereka tapi yang aku lihat ada rasa cinta dimata ustadzah Rukma saat menatap ustadz Adnan, opss maaf saya keceplosan!" ucap Sinta membekap mulutnya.
"Tidak apa-apa aku malah lebih suka kamu bercerita jujur seperti ini, tenang saja aku tidak akan marah atau sakit hati itu kan masa lalu," ucapku pada Sinta meyakinkannya agar mau menceritakan semuanya yang dia ketahui tentang hubungan Adnan dan Rukma.
"Iya benar itu hanya masa lalu yang terpenting sekarang ustadz Adnan sudah menjadi milikmu," ucap Sinta.
"Oh ya apakah ustadz Adnan pernah berpacaran dengan Ustadzah Rukma?" tanyaku lagi yang masih penasaran.
"Di lingkungan kami tidak ada yang namanya pacaran yang ada ta'aruf dan saya rasa hubungan ustadz Adnan dan ustadzah Rukma belum sampai ke jenjang itu, yang saya lihat hanya ustadzah Rukma yang mencintai ustadz Adnan buktinya ustadz Adnan tidak menolak saat Ummu menjodohkannya denganmu," ucap Sinta.
Rasanya aku ingin tertawa saja mereka yang tidak tahu bagaimana aku sampai bisa menjadi istri Adnan pasti mengira kalau akulah menantu pilihan Ummu yang telah dijodohkan sejak kecil dengan Adnan seandainya mereka tahu bagaimana awal kisahku mungkin mereka akan menertawakanku dan mengatakan kalau aku tidak pantas bersanding dengan Adnan.
__ADS_1
"Aku ada satu permintaan, apakah kamu mau mengabulkannya?" tanyaku pada Sinta.
"Apa itu Kak? kalau aku mampu pasti akan aku kabulkan," ucap Sinta.
"Maukah kamu mengajariku ngaji? Aku ingin bisa ngaji seperti penghuni pesantren ini," ucapku.
Aku yakin kalau Sinta pandai dan banyak mengerti tentang ilmu agama setidaknya dengan aku belajar dari dia aku tidak akan terlalu mempermalukan Adnan saat kami berkumpul dengan orang-orang yang menguasai ilmu agama setidaknya aku bisa sedikit mengerti tentang apa yang sedang mereka bahas tidak seperti ini aku yang hanya seperti kambing congek tidak mengerti sedikitpun tentang ilmu agama.
"Hahahaha Kakak jangan bercanda! Aku yakin Kakak menguasai banyak ilmu agama dari pada aku kenapa Kakak merendahkan diri, tidak mungkin Ummu menjodohkan puteranya dengan seseorang yang awam agama secara ustadz Adnan adalah penerus pemimpin pesantren ini yang pasti istrinya pun harus perempuan yang sama-sama mengerti tentang agama agar mereka bisa saling bahu membahu menjalankan pesantren ini," ucap Sinta.
"Maukah kamu mendengarkan ceritaku? Aku ingin menceritakan siapa dan bagaimana sebenarnya aku sebelum menjadi istri ustadz Adnan, terserah kamu mau tertawa atau menghinaku yang terpenting kamu sudah tahu seperti apa aku ini sebenarnya, untuk kamu tetap ingin menjadi temanku atau tidak aku pasrah," ucapku.
"Aku mau mendengarkan ceritamu dan aku senang kamu sudah percaya padaku padahal kita baru bertemu, aku pun sangat mau menjadi temanmu," ucap Sinta sambil tersenyum.
Aku pun segera menceritakan semuanya mulai dari awal pertemuanku dengan Adnan sampai sekarang aku bisa berada di sini, aku lihat beberapa kali Sinta tertawa saat aku bercerita entah bagian mana yang menurutnya lucu aku tidak faham.
__ADS_1
"Baiklah Sabila! Bolehkah aku memanggil namamu secara kita sekarang berteman?" ucap Sinta menatapku.
"Tentu," jawabku.
"Baiklah Sabila aku akan mengajarimu tentang semua ilmu yang sudah aku fahami tapi saranku sebaiknya kamu juga belajar dari ustadz Adnan beliau yang memiliki ilmu yang lebih mumpuni," ucap Sinta.
Aku pun mengangguk setuju dengan apa yang diucapkan Sinta.
"Oke mulai kapan kita belajar?" tanyaku.
"Terserah kamu saja menurutku lebih cepat lebih baik," jawab Sinta.
"Baiklah aku mau kita mulai hari ini asal kamu tidak keberatan," ucap Sabila.
"Baiklah, ayo kita pergi ke mushola itu! Aku akan mengajarimu di sana, di mushola itu tempat yang tepat untuk kamu belajar karena pada jam segini suasana di sana sepi dan tenang itu akan memudahkanmu dalam belajar," ucap Sinta.
__ADS_1
Aku pun mengangguk setuju yang terpenting untukku sekarang adalah aku belajar ilmu agama berusaha memantaskan diriku bersanding dengan ustadz Adnan walaupun aku tidak sepandai Rukma setidaknya aku mengerti sedikit tentang agama yang selama ini tidak pernah aku pedulikan jangankan untuk menjalankan sesuai syariat untuk mempelajarinya saja aku tidak pernah, tapi sekarang demi untuk tidak membuat Adnan malu seperti tadi aku akan berusaha untuk belajar.