
Aku pun mengangkat kakiku dan menaruh di paha Adnan yang sedang duduk di sebelahku dia pun kaget dengan tingkahku yang tiba-tiba menaruh kaki seenaknya diatas pahanya.
Adnan menatapku dengan tatapan tanda tanya kemudian beralih menatap kakiku yang ada di pahanya dan berganti lagi menatapku, aku pun menghela nafas, aku tahu dia sedang bertanya padaku mengapa aku menaruh kakiku di atas pahanya dengan menggunakan isyarat.
"Bantu aku bersihkan cat kuku yang ada di kaki biar cepat bersih, aku bersihkan yang di tangan dan kamu bantu bersihkan yang di kaki," ucapku sambil menyerahkan tisu dan botol cairan pembersih kutek itu pada Adnan.
Aku pun tersenyum saat Adnan tidak menolak permintaanku dia dengan telaten membersihkan kakiku dari kutek dengan telaten dan hasilnya pun sangat bersih aku tersenyum melihat Adnan yang sangat penurut itu.
"Cie..cie yang sedang romantis...romantisan mentang-mentang pengantin baru pamer kemesraan," tiba -tiba suara cempreng si Nabila terdengar mengusik kedamaian telingaku.
"Apaan sih cie...cie berisik tahu," ucapku sambil melotot ke arah Nabila.
"Oh so sweet sekali kalian bahkan membersihkan cat kuku pun harus ayang beb yang membersihkan, Bunda apa Bunda tidak takut diabetes berada di dekat mereka, lihat itu manisnya tidak ketulungan," ucap Nabila cengengesan.
"Kan sekarang di temenin kamu Na jadi kalau Bunda diabetes kamu pun pasti tertular," ucap Bunda tersenyum menatapku dan Adnan yang sejak tadi tidak peduli dengan ocehan Nabila, dia masih fokus membersihkan kukuku dari kutek merah fanta itu.
"Ih melihat kalian seperti ini aku jadi bahagia deh, dan muncul satu pertanyaan di otakku," ucap Nabila sambil memegang dagunya seakan-akan sedang memikirkan sesuatu.
"Pertanyaan apa?" tanyaku penasaran tapi tidak merubah posisiku sedikitpun.
"Beneran mau dengar apa pertanyaanku? aku yakin kalian tidak akan sanggup menjawabnya," ucap Nabila sambil tersenyum sinis.
Aku pun terprovokasi dengan tingkah Nabila, dan aku pun mendesak agar Nabila mau mengatakan apa yang menjadi pertanyaannya secara aku selalu saja memiliki rasa penasaran yang teramat sangat tinggi dan jika tidak terjawab maka aku tidak akan merasa puas.
"Pertanyaan apa sih Na cepat katakan!" ucapku.
"Pertanyaan itu adalah kapan kalian punya anak aku sudah pingin gendong keponakan," ucap Nabila dengan entengnya.
__ADS_1
Aku yang mendengar pertanyaan Nabila yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya pun kaget dan dengan refleks ingin bangkit dan menghajar Nabila, tapi kakiku yang aku tarik secara spontan itu tidak sengaja menendang entah apa yang ada di balik sarung Adnan dan aku pun segera meminta maaf saat melihat Adnan yang kesakitan.
"Maaf ...maaf kamu tidak apa-apa Kan?" tanyaku dan aku spontan memegang sarung Adnan yang tepat mengenai sesuatu yang aku tendang tadi.
Wajah Adnan pun berubah jadi memerah seperti kepiting rebus, dia segera menampik tanganku agar menjauh dari sarungnya.
"A..aku tidak a.. apa-apa, aku permisi dulu mau ke masjid," ucap Adnan dan berjalan menuju tangga.
"Eh katanya mau ke masjid kok malah menuju tangga," ucap Bunda sambil menahan senyumnya.
Adnan yang mendengar ucapan Bunda pun sadar kalau saat ini arah yang dia ambil bukan arah menuju pintu utama tapi melainkan menuju tangga yang akan membawanya ke kamar. Adnan pun dengan wajah yang semakin memerah pun berbalik dan berjalan dengan cepat menuju pintu keluar dan beberapa detik kemudian Adnan sudah tidak terlihat lagi.
Bunda dan Nabila pun segera melepaskan tawanya yang sejak tadi mereka tahan.
"Kenapa sih Adnan kok wajahnya memerah? pakai acara salah arah lagi," ucap Sabila bingung.
"Hahaha kamu ini bodoh atau pura-pura bodoh sih Sa," ucap Nabila di sela tawanya.
"Bodoh atau pura-pura bodoh gimana sih Na? aku beneran heran sama si Adnan kenapa wajahnya berubah jadi memerah seperti kepiting rebus, dan juga salah arah," ucap Sabila.
"Kan kamu pegang aset berharga tuh orang, ketar ketir lah anak orang takut itu burung bangun dan memaksa minta di carikan sarangnya yang hangat," ucap Nabila sambil cengengesan.
Bunda pun tersenyum dan memukul lengan Nabila.
"Kamu itu Na sudah pandai rupanya ya," ucap Bunda.
"Ha-ha-ha cuma ngarang saja Bun," jawab Nabila.
__ADS_1
"Serius Na yang aku pegang tadi burungnya si Adnan?" ucapku tanpa aku saring dulu.
Si Nabila semakin mengencangkan tawanya hingga wajahnya memerah dan Bunda hanya senyum-senyum tidak jelas.
"Hahaha nanti untuk lebih jelas dan lebih pastinya kamu tanya langsung pada suamimu sepulang dari masjid ya!" ucap Nabila dengan tawanya yang belum bisa berhenti.
Aku jadi penasaran apakah benar yang dikatakan Nabila itu? ah daripada aku penasaran lebih baik nanti kalau Adnan sudah pulang dari masjid aku tanyakan saja.
Hari sudah berubah jadi gelap, kami pun sudah makan malam tanpa menunggu kehadiran Adnan, tumben tadi Bunda mengajak kami makan tanpa harus menunggu Adnan pulang seperti biasanya.
Aku pun duduk dengan gelisah di sofa ruang tamu, kadang aku melihat jam yang menempel di dinding, kadang aku berdiri dan berjalan-jalan mondar mandir sambil sesekali melirik ke arah pintu.
Ini semua karena ulah Nabila aku jadi penasaran apakah benar yang aku pegang tadi itu aset berharga si Adnan? aku kan orangnya gak bisa kalau penasaran, sekali penasaran harus cepat ketemu jawabannya.
"Cie...cie yang lagi nungguin suami, baru di tinggal sebentar saja sudah kelimpungan," goda Nabila.
"Ih apaan sih Na! siapa juga yang lagi kangen, ini semua gara-gara kamu aku kan penasaran dengan apa yang aku pegang tadi," ucapku pada Nabila.
Nabila yang mendengar ucapanku malah ketawa cekikikan dan berjalan meninggalkan aku, dia berjalan menuju tangga aku yakin dia akan segera masuk kamarnya dan tidur, dasar teman durhaka bikin temannya penasaran tapi tidak mau menemani untuk menunggu mencari jawaban.
"Sa pergilah ke kamar jangan tunggu Adnan! dia masih ada urusan di luar," ucap Bunda.
Aku pun mengangguk dan mau tidak mau aku harus menahan rasa penasaranku menunggu sampai Adnan kembali.
Aku pun berjalan mengikuti Nabila yang sudah lebih dulu naik ke lantai dua, ketika tiba di depan kamarnya Nabila berhenti dan menengok ke arahku.
"Selamat tidur istri ustadz Adnan," ucap Nabila lalu masuk kamarnya dan mengunci pintu kamar itu.
__ADS_1
Aku pun kesal dan aku hentak -hentakkan kakiku berjalan menuju kamar sungguh hati ini sudah tidak sabar menunggu Adnan yang tidak kunjung pulang, seandainya bisa aku sudah akan menyeretnya agar segera pulang rasa penasaranku ini harus segera mendapatkan jawaban.
.