Mendadak Jadi Istri

Mendadak Jadi Istri
Telepon Dari Nabila


__ADS_3

Aku menatap punggung lelaki yang sudah menjadi suamiku selama hampir satu tahun ini, pria yang penuh kesabaran menghadapiku padahal sampai detik ini aku belum menjalankan kewajibanku sebagai seorang istri, aku ingin menjalankannya tapi entah kenapa setiap kali aku ingin memberikan ijin pada Adnan bibir ini terasa keluh, tidak ada satu katapun yang bisa aku keluarkan dari mulut ini. Aku belum sanggup untuk memberikan apa yang menjadi hak Adnan.


"Ya Allah entah berapa banyak dosa yang telah aku lakukan pada Adnan, beri aku kekuatan agar aku bisa mengatakan kalau diri ini rela menjadi milik Adnan seutuhnya, ya Allah," ucapku lirih.


Tiba-tiba ponselku bergetar dan aku lihat di sana terpampang nomor Nabila, sahabat yang sudah lama aku rindukan, kami hanya bisa melepas rindu melalui sambungan telepon saja, selama ini yang aku punya hanya Nabila dan ibunya, mereka sangat menyayangiku layaknya anak sendiri tidak seperti orang tuaku yang hingga kini tidak peduli aku masih hidup atau sudah mati.


Aku pun menghapus air mata yang tanpa aku sadari telah menetes di pipiku dan segera mengangkat sambungan telepon dari Nabila, aku tidak mau dia melihat kalau aku habis menangis.


"Assalamualaikum Nabila," sapaku spontan. Entah karena terbiasa atau memang saking seringnya mengucapkan salam, kata-kata itu kini mendarah daging di lidahku.


"Waallaikum salam Tante Kunti yang telah menjadi ukhti," jawab Nabila cengengesan.


Saat ini mereka sedang melakukan Video call terlihat di sana Nabila yang saat ini perutnya sudah terlihat membesar mungkin sebentar lagi wanita itu akan melahirkan.


"Eh itu perut kenapa bisa membesar seperti itu? kamu kuwalat ya? atau kena santet?" ucap Sabila tidak kalah santer menggoda Nabila.

__ADS_1


"Hust ngaco kamu, Sa! ini tuh akibat terlalu sering dipompa sama si Bara, makanya kamu coba minta dipompa sama pak ustadz aku jamin kamu akan ketagihan hingga perutmu melembung seperti ini," ucap Nabila terkikik.


"Dasar kamunya saja, Na yang doyan sama itu nganunya si Bara! Astaghfirullah apaan sih aku kok jadi ngelantur! kamu sih Na suka mancing -mancing orang tuh kan aku jadi khilaf," ucap Sabila cemberut.


Nabila pun semakin terkikik melihat sahabatnya yang kini sudah banyak berubah, Nabila bersyukur Sabila masih mau bertahan menjadi istri ustadz Adnan padahal dulu dia sempat takut kalau sahabatnya yang bar-bar ini kabur meninggalkan suami yang dia nikahi karena rencana jebakan Nabila, sebenarnya Sabila adalah pengantin pengganti yang sudah dia siapkan dan yang membuat Nabila lega ustadz Adnan pun mau menerima Sabila menjadi istrinya padahal Sabila saat itu adalah sosok gadis yang urakan dan suka memakai pakaian kurang bahan berbeda jauh dari kriteria wanita yang seharusnya menjadi pendamping ustadz Adnan yang merupakan anak dari pemilik sebuah pesantren dan anehnya lagi orang tua Adnan pun setuju kalau Adnan menikah dengan Sabila yang notabenenya buta ilmu agama.


"Aduh saudaraku ini ternyata sudah benar-benar berubah, kini dia sudah bisa fasih mengucapkan istighfar sebentar lagi tinggal menunggu dia memakai cadar seperti wanita yang ada di film ayat-ayat cinta, pasti semakin anggun," goda Nabila.


"Tutup mulutmu, Na! apakah kamu meneleponku hanya untuk mengejekku saja? kalau iya lebih baik aku matikan saja sambungan teleponnya," ucap Sabila pura-pura kesal pada sahabatnya ini, padahal dia sangat merindukan Nabila dan bunda Nurma.


"Sebenarnya ada apa kamu menghubungiku, Na! aku ini lagi sibuk!" ucap Sabila pura-pura sok sibuk.


"Idih sok sibuk kamu, Sa! padahal kamu lagi enak-enakan nongkrong di teras, mana suamimu?" ucap Nabila yang sejak tadi tidak melihat keberadaan Adnan.


"Oh jadi kamu meneleponku hanya untuk mencari suamiku? Dia sedang ada urusan di luar apa perlu aku sambungkan panggilan ini pada ponsel Adnan?" ucap Sabila menggodanya Nabila.

__ADS_1


"Bukan begitu, Sa! Sebenarnya aku ingin menanyakan sesuatu padamu, tapi aku bingung memulainya dari mana," ucap Nabila pura-pura menampilkan wajah serius.


"Ah gayamu, Na! sok bingung padahal biasanya juga kamu selalu bicara sesuka hatimu tanpa mempedulikan bagaimana perasaanku, cepat katakan apa yang sebenarnya ingin kamu tanyakan?" ucap Sabila. Sabila pun merasa ada sesuatu yang tidak baik yang dia yakin sebentar lagi akan menderanya, dia yakin Nabila pasti akan menanyakan sesuatu yang tidak-tidak.


"Sa apakah kamu sudah melakukannya dengan ustadz Adnan?" tanya Nabila yang saat ini benar-benar terlihat serius.


Sebenarnya Sabila faham dengan apa yang di tanyakan oleh Nabila tapi dia pura -pura tidak tahu saja biar wanita itu mengatakannya dengan jelas, Sabila yakin setelah menikah Nabila banyak berubah dia pun sekarang jarang sekali mengatakan hal -hal yang tabu sangat berbeda dengan dulu saat mereka masih sama-sama lajang tidak ada kata tabu yang bisa terlewati oleh mulut mereka.


"Melakukan apa, Na? katakan yang jelas! banyak hal yang telah aku lakukan dengan Adnan selama aku tinggal di sini karena kami memang hanya tinggal berdua, Ummu memilih tinggal di pesantren, jadi kami hanya tinggal berdua apapun juga dikerjakan bersama," ucap Sabila berusaha agar dia tidak tertawa, karena sebenarnya dia faham apa yang dimaksud Nabila tapi pura-pura tidak faham.


"Ckkkk...kamu ini benar-benar idiot atau pura-pura idiot sih, Sa! Baiklah aku katakan dengan jelas! Apakah kamu sudah menjalankan kewajibanmu sebagai seorang istri?" tanya Nabila.


Sudah tepat seperti dugaan Sabila pasti hal ini yang akan di tanyakan oleh Nabila karena sejak dulu dia dan bunda Nurma selalu saja mengingatkan akan kewajibannya sebagai seorang istri tapi sampai detik ini Sabila belum berani menjalankan kewajibannya.


"Belum," jawab Sabila singkat.

__ADS_1


Nabila yang mendengar ucapan Sabila pun membelalakkan matanya, dia tidak menyangka kalau sampai saat ini sahabatnya ini belum pernah menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri, dia kagum sama ustadz Adnan yang bisa bertahan hampir setahun tanpa menyentuh istri yang sudah halal baginya dan juga tinggal satu atap dengannya. Nabila yakin seandainya ustadz Adnan mau memaksakan keinginannya pasti Sabila tidak akan bisa melawan karena kekuatan seorang wanita tidak sebanding dengan pria, tapi ustadz Adnan sepertinya tidak punya niat untuk memaksakan kehendaknya, atau mungkin ustadz Adnan melakukan hal itu dengan wanita lain? ah itu tidak mungkin karena orang seperti ustadz Adnan pasti tahu hukum agama yang melarang berzina, Nabila kagum dengan kesabaran ustadz Adnan yang rela menunggu Sabila selama ini untuk memberikan haknya.


__ADS_2