
Adnan yang melihat tingkah istrinya pun tersenyum, saat ini Sabila sedang terbungkus selimut mulai dari ujung kaki hingga ujung rambut sudah seperti kepompong saja.
"Beneran kamu gak mau Sa?" goda Adnan.
"Ogah," jawab Sabila dari balik selimut.
"Beneran kamu gak penasaran rasanya? kata orang enak loh Sa, ayo kita coba," ucap Adnan semakin gentol menggoda Sabila.
Sabila yang mendengar ocehan suaminya pun bergidik ngeri tanpa membuka selimutnya Sabila berteriak.
"Kamu setelah makan bayam kenapa malah nyeremin, sana jauh-jauh!" teriak Sabila.
Adnan pun terkekeh melihat istrinya, kini menggoda Sabila menjadi kesenangan tersendiri bagi Adnan.
******Waktu dua minggu untuk mempersiapkan pernikahan Nabila tidak terasa tinggal beberapa hari lagi, bagi sebagian orang waktu dua minggu itu akan kurang dan sangat melelahkan beda dengan orang yang beruang mereka tinggal menggunakan uang untuk membayar orang lain untuk melakukan semua persiapan untuk pernikahan Nabila tuan rumah hanya tinggal ongkang-ongkang kaki saja.
Aku berniat untuk mengikuti semua ritual persiapan pernikahan Nabila, aku penasaran dengan semua ritual adat Surabaya ini karena berbeda dengan pernikahanku kemarin pernikahan Nabila ini full ritual adat kalau pernikahanku kan dilaksanakan secara instan hanya ijab kabul dan resepsi saja, berasa di anak tirikan saya.
Eiits jangan salah sangka ya pemirsa bukannya aku dianak tirikan sehingga acara pernikahanku kemarin tanpa ritual, itu semua karena Nabila menolak pernikahannya dengan Adnan dijalankan dengan kelengkapan ritual, dia beralasan tidak mau ribet ternyata dari awal dia sudah berencana kabur dan menumbalkan aku sebagai pengganti dirinya dasar teman setan.
Tapi biar bagaimanapun Nabila dan Bunda Nirmala sangat baik padaku, aku sudah menganggap mereka sebagai keluargaku sendiri bahkan lebih baik dari keluarga kandungku yang sampai saat ini tidak pernah peduli dengan keadaanku. Untung masih ada Bunda dan Nabila sehingga aku tidak merasa sendirian di dunia ini.
Besok akan ada pengajian di rumah ini, aku pun ingin mengikuti acara itu karena selama ini aku belum pernah menghadiri acara semacam ini ada rasa penasaran pingin ngerti bagaimana suasana di acara pengajian itu maka besok aku akan mengikutinya.
Saat ini aku sedang duduk di sofa yang ada di dalam kamarku sambil mewarnai kuku-kukuku dengan kutek berwarna merah fanta, dan menghiasi Henna di punggung tanganku tiba-tiba aku mendengar suara pintu terbuka dan aku melirik sekilas ke arah pintu kamar ternyata Adnan yang datang.
Adnan segera berjalan menghampiriku dan duduk di sofa tepat di sampingku, dia memperhatikan apa yang sedang aku lakukan saat ini.
"Besok katanya kamu mau mengikuti acara pengajian Sa," ucap Adnan membuka percakapan.
__ADS_1
"Iya aku pingin ngerti saja bagaimana suasana pengajian itu," jawabku tanpa menatap Adnan.
"Mau tak ajarin dulu sebelum acara besok? biar kamu sedikit bisa mengikuti," ucap Adnan.
"Gak usah! ngapain pakai belajar segala ribet, nanti saat di acara pengajian aku tinggal komat-kamit kan jadi, ngapain susah-susah belajar segala," jawabku.
"Sudah beralih profesi jadi dukun kamu kok pakai komat-kamit segala! mau dong di bacakan mantra," ucap Adnan sambil tersenyum.
aku pun menatapnya dengan menaikkan kedua alisku geram juga lama-lama bicara sama nih orang.
"Sini tanganmu biar sekalian aku pakaikan Henna sebelum aku bacakan mantra," ucapku sambil menarik tangan Adnan dan aku ingin memakaikan kutek warna merah fanta ini di tangannya, siapa suruh sejak tadi berisik saja, ganggu kesenangan orang.
Adnan pun segera menarik kembali tangannya,
"Gak boleh pakai Henna pamali laki-laki pakai hiasan seperti itu haram hukumnya, dan kamu kukunya di pakaiin kutek itu juga gak boleh nanti gak sah sholatnya, mending kamu pakai pacar Makah atau inai saja," ucap Adnan.
"Bisa dibersihin kok! nanti kalau tiba waktunya sholat dibersihkan," ucapku sambil kembali menarik tangan Adnan yang kali ini tidak ada penolakan dari yang punya.
Aku pun tersenyum dan segera mengoleskan Henna di punggung tangan Adnan, jari-jari Adnan sangat bagus panjang dan lentik aku pun jadi ingin mewarnainya dengan kutek juga pasti terlihat cantik, seandainya dia seorang wanita mungkin sudah jadi model iklan kutek nih orang.
"Jari tangan mu bagus sekali," ucapku sambil terus mengolesi kuku Adnan dengan kutek. Kemudian aku meniup kuku Adnan yang telah aku olesi kutek hingga kering.
"Kamu sedang memuji suamimu ini ya?" ucap Adnan sambil menaik turunkan kedua alisnya.
Aku yang mendengar ucapan Adnan pun kembali kesal merusak suasana saja nih orang, aku pun segera menghempaskan tangan Adnan.
"Siapa juga yang sedang memuji kamu," ucapku ketus.
"Itu tadi barusan kamu bilang kalau jari tanganku bagus," ucap Adnan tidak mau kalah.
__ADS_1
Aku pun memutar bola mataku jengah,
"Iya aku bilang bagus, tapi bukan berarti aku muji kamu aku lagi muji jari tanganmu gak usah kepedean deh," ucapku sambil memanyunkan bibirku.
"Kamu terlihat cantik dan imut kalau manyun seperti ini," ucap Adnan sambil mengelus lembut rambutku.
Ada rasa aneh yang mengalir dalam dadaku serasa seperti ada sengatan listrik yang masuk ke dalam tubuh ini.
"Gak perlu muji aku! aku tetep tidak akan jatuh cinta sama kamu kok walaupun setiap hari kamu memujiku," ucapku menyembunyikan perasaan yang saat ini tengah berkecamuk dalam dadaku.
"Ah yang bener?" ucap Adnan.
Aku pun segera menganggukkan kepala dengan mantap karena aku sangat yakin hingga saat ini aku belum benar-benar jatuh cinta sama Adnan.
"Kalau begitu coba sekarang tatap mata saya kalau kamu benar-benar tidak cinta padaku," ucap Adnan dengan santainya.
"Apaan sih pakai acara tatap mata segala! sudah seperti tukang hipnotis di TV saja," ucapku sambil terkekeh karena saat aku mendengar ucapan Adnan malah ingat kata-kata yang sering diucapkan oleh salah satu ahli hipnotis di TV "Tatap mata saya".
"Aku hanya ingin mengujimu! aku ingin melihat apa benar yang kamu katakan kalau kamu tidak mencintai saya atau malah kamu sedang berbohong," ucap Adnan.
"Idih siapa juga yang sedang berbohong! memang aku benar-benar tidak mencintaimu," ucapku penuh penekanan.
"Makanya itu ayo buktikan! tatap mata saya berani gak?" tantang Adnan.
Aku pun kesal dan merasa tertantang dengan apa yang diucapkan oleh Adnan, saat ini aku benar-benar terpancing dengan apa yang diucapkan Adnan.
"Kamu nantangin aku ya! oke siapa takut," ucapku.
Adnan pun tersenyum dan kedua mata itu mulai menatapku dan aku tidak mau kalah, aku pun menatap manik mata berwarna coklat karamel itu, sungguh lagi-lagi ada rasa aneh dalam diri ini saat kedua mata kami saling menatap satu sama lain.
__ADS_1