
"Kamu tahu gak Sa tadi aku sudah telfon Bara dan menceritakan semuanya, dia malah menanggapi dengan senang hati setengah jam kemudian ayah Bara menelfon ku dan menanyakan kapan boleh datang kemari," ujar Nabila bercerita.
"Bagus dong Na, itu tandanya orang tua Bara sudah setuju dengan hubungan kalian dan Bara pun serius dengan rasa cintanya padamu lalu apalagi yang masih membuatmu ragu," ucapku.
"Aku belum siap Sa, aku masih terlalu awam dengan dunia pernikahan. kita sama-sama masih muda aku takut kita tidak bisa saling mengontrol ego dan emosi dan ujung ujungnya cerai," ucap Nabila.
"Belajar dulu Na, jalani dulu jangan berfikir yang tidak tidak dulu, bismillah semoga tidak seperti yang kamu bayangkan," ucapku meyakinkan Nabila.
"Eh kok tumben kamu bisa ngucapin bismillah dan berkata bijak seperti itu? jangan jangan kamu beneran sudah jadi Ukhti," ucap Nabila cengengesan.
Aku sendiri juga heran kenapa ini mulut kok lemas sekali tidak seperti biasanya yang sulit sekali mengucapkan bismillah jangan jangan aku sudah tertular ilmu Adnan karena dua hari ini berada dalam satu kamar.
"Ah kamu Na, sudahlah tidak usah berpura-pura tidak mau segera menikah dengan Bara padahal kamu sudah ngebet kawin kan," ucapku mengalihkan pembicaraan. Aku tidak mau Nabila mendapat cela untuk mengolok-olokku.
Nabila pun mencebikkan bibirnya.
"Kawin... kucing kali ngebet kawin, nikah Salsabila Putri bukan kawin," teriak Nabila.
"Lagian aku belum punya cita-cita nikah muda, inginku sih menghabiskan masa muda bersenang-senang menikmati masa kebebasan, kan ada pepatah yang mengatakan nikmati masa mudamu sebelum kamu menyesal di masa tua dan mengulanginya lagi dimasa tua, aku gak mau di masa tua nanti aku bertingkah seperti anak muda yang baru puber," ucap Nabila.
"Oh begitu jadi kamu ingin menikah diumur 50tahun biar tidak merasakan puber kedua," ucapku bersikap seolah-olah tengah serius.
"Iiiiihhhh kamu nyebelin Sa!" teriak Nabila dan memukuli ku dengan guling yang sejak tadi aku peluk tiba tiba di rebut dan dipukul pukulkan padaku.
"Sabila... apakah kamu ada di dalam?" tiba-tiba terdengar suara Bunda memanggil dari luar.
"Ya Bunda Sabila di sini," jawab Nabila.
Tidak beberapa lama terdengar suara pintu terbuka dan muncullah Bunda masuk ke dalam kamar menghampiri kami berdua.
"Sabila ngapain kamu ada di sini Nak? ini tuh malam jumat," ucap Bunda padaku.
"Loh kenapa kalau malam jumat Bun? kenapa Sabila tidak boleh dikamar Nabila? ada hantunya ya Bun kalau malam jumat?" tanyaku penasaran.
Nabila pun menjitak keningku.
__ADS_1
"Enak saja apa kamu kira kamarku sarang kunti," ucap Nabila kesal.
"Iya kita kuntinya," jawabku cengengesan.
"Sudah... sudah jangan ribut saja! sana cepat kembali ke kamarmu Sa! ini malam jumat," ucap Bunda lagi.
"Ada apa sih Bun dengan malam jumat?" tanyaku semakin penasaran.
"Itu si Adnan tidak baik sendirian di malam jumat," ucap Bunda.
"Memangnya kenapa Bun kalau si Adnan sendirian di malam jumat? dia akan berubah jadi hantu gitu Bun?" tanyaku semakin bingung. Masa iya si Adnan yang seorang ustadz akan berubah jadi hantu di malam jumat seperti yang sering aku tonton di televisi.
"Sudah jangan banyak tanya Bunda bingung ngejelasinnya, lebih baik kalau kamu penasaran pergi temui Adnan dan tanyakan langsung padanya ada apa dengan malam jumat dan apa yang harus kamu lakukan," ucap Bunda serius.
Aku yang sudah terlanjur penasaran pun segera mengiyakan perintah Bunda, aku segera turun dari tempat tidur Nabila dan bersiap menemui Adnan.
"Baik Bunda saya akan temui Adnan," ucapku dan segera keluar dari kamar Nabila.
Aku pun mempercepat langkahku menuju kamar, aku sangat penasaran karena tadi wajah Bunda dan Nabila sangat serius saat membicarakan malam jumat seakan akan ada yang akan terjadi dengan Adnan di malam jumat ini.
Aku pun segera menghampiri Adnan.
"Adnan," panggilku.
"Hmmm," jawabnya masih serius dengan bukunya.
"Bunda menyuruhku untuk segera menemui mu karena katanya ini malam jumat," ucapku jujur.
Aku lihat si Adnan kaget, dia pun terbatuk-batuk, dia pun segera bangun dari posisinya berbaring menjadi duduk.
"Di tanya bukannya jawab malah batuk, lagi bengek ya?" tanyaku kesal.
Adnan pun mulai menatapku saat aku mengatakan kalau dia sedang bengek, aku pun tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk bertanya kembali tentang malam jumat yang di maksud Bunda.
"Sebenarnya ada apa sih Adnan di malam jumat?dan aku harus ngapain?" tanyaku penasaran.
__ADS_1
"Yakin kamu mau tahu?" tanya Adnan sambil menatapku intens.
Tiba tiba si Adnan berdiri dan berpindah tempat duduk di tepi tempat tidur aku yang sudah merasa sangat penasaran dengan malam jumat pun langsung mengikutinya, aku pun duduk di sebelahnya.
"Ayo dong katakan padaku ada apa sih di malam jumat itu?" tanyaku lagi.
"Malam jumat itu malam sunah," jawab Adnan.
Jawaban Adnan ini tidak membuat rasa penasaranku reda tapi malah sebaliknya aku semakin penasaran karena aku juga tidak tahu apa maksud malam sunah itu.
"Maksudnya gimana sih?" tanyaku lagi.
"Di malam jumat kamu bisa mendapatkan banyak pahala dengan cara membaca surat Yasin atau surat Al Kahfi, atau dengan ibadah lainnya," ucap Adnan menjelaskan.
"Ibadah lainnya itu apa?" tanyaku lagi.
Aku ini orangnya kalau sudah penasaran harus di jelaskan sedetail detailnya kalau tidak maka aku akan tetap penasaran karena aku tidak bisa mengerti kata penjelasan yang bersifat ambigu.
"Beneran kamu mau tahu?" tanya Adnan.
"Sudah jangan banyak tanya ayo cepat katakan," rengek ku.
"Melakukan hubungan suami istri," jawab Adnan enteng.
Aku pun kaget dan merasa dijebak oleh Bunda dan Nabila, aku pun segera bangkit dan menyilangkan kedua tanganku ke dada. Dan Adnan yang melihat tingkahku seperti itu pun ikut bangun dari posisinya, aku yang sudah berpikir macam-macam pun segera lari keluar kamar aku tidak mau Adnan melakukannya malam ini.
Aku berlari menuju kamar Nabila tapi betapa kesalnya aku saat melihat tulisan yang tergantung di gagang pintu.
"Yang sudah bersuami di larang ngungsi"
Aku tidak peduli dengan tulisan-tulisan itu masa bodo, aku masih tetap memutar handle pintu tapi pintu itu tidak bisa terbuka sial Nabila sengaja mengunci pintu kamarnya.
"Nabila buka pintunya!" teriakku.
Tapi entah kenapa Nabila tidak membuka pintu kamarnya, aku yakin Nabila sengaja melakukan ini.
__ADS_1
Aku pun kesal dan tanpa sengaja saat aku memalingkan wajah aku lihat Adnan berdiri di tengah pintu kamar sambil tersenyum, sungguh senyumnya malam ini terlihat mengerikan.