Mendadak Jadi Istri

Mendadak Jadi Istri
Henna dan cat kuku


__ADS_3

Jantung ini dah dig dug saat mataku menatap mata indah Adnan, kenapa juga aku baru sadar kalau suamiku ini sebenarnya sangat tampan, tapi itu bukan artinya aku sudah jatuh cinta padanya dengan hanya mengakui ketampanan si ustadz bawel ini.


Semakin lama aku menatap mata Adnan, detak jantungku semakin tidak karuan, ingin rasanya aku segera mengakhiri perang tatap mata ini, jika di teruskan bisa-bisa semakin sesak dada ini dihimpit perasaan yang tidak tentu, perasaan apa aku juga tidak paham rasanya dag dig dug seperti kena serangan jantung.


Akhirnya aku pun memilih untuk segera mengakhiri perang tatap mata ini, dari pada aku masuk rumah sakit gara -gara jantungku yang tidak beres ini.


"Sudah ah mataku terasa perih dan sakit kelamaan menatap kamu tidak berkedip," ucapku sambil mengucak mataku berulang kali.


"Pedih ya? sini biar aku tiup agar berkurang sakitnya," ucap Adnan sambil mendekap dan menyentuh wajahku.


Aku yang kaget dengan apa yang di lakukan Adnan pun mundur hingga tanpa sadar aku terjatuh dari sofa.


"Ihhhhh gara -gara kamu aku sampai terjatuh," ucapku kesal, aku pun memegang tangan Adnan untuk membantuku bangkit dari posisi jatuh.


"Kamu yang ceroboh malah menyalahkan orang lain," ucap Adnan.


"Semua gara-gara kamu sih main pegang -pegang orang seenaknya saja, haram tahu," ucapku kesal.


"Haram ya? Sabila... Sabila kalau haram kenapa juga sejak tadi kamu pegangin tangan aku," ucap Adnan sambil terkekeh.


Aku pun menatap ke arah tanganku yang tanpa sadar masih memegang lengan Adnan yang tadi aku gunakan untuk pegangan saat berdiri dari posisi jatuh dari sofa.


"Kan sudah nikah, bebas mau pegang -pegang," ucapku menyembunyikan rasa malu.


"Iya deh... iya kamu yang selalu benar! mana pembersih kuteknya? aku mau membersihkan ini kutek sebentar lagi waktunya sholat dhuhur aku harus pergi ke masjid," ucap Adnan padaku meminta cairan pembersih kutek.

__ADS_1


Terlintas ide jahil untuk mengerjai Adnan, aku penasaran bagaimana jadinya jika para tamu saat pengajian nanti melihat tangan Adnan yang dihiasi kutek warna merah fanta.


"Kamu mau pembersih kutek ini ya? ambil saja kalau bisa," ucapku.


Aku berdiri dan memasukkan botol cairan kutek itu ke kantong celanaku sambil ku tepuk -tepuk bokongku yang ada saku tersimpan cairan pembersih kutek di dalamnya.


"Sabila sini berikan pembersih kuteknya aku mau ke masjid," ucap Adnan yang kini tidak menggunakan kata saya lagi saat berbicara denganku.


"Sini ambil saja sendiri," ucapku lagi-lagi sambil menepuk bokongku.


Adnan semakin geram dan berjalan mendekati aku dia meraih pinggangku dan akan mengambil botol cairan pembersih kutek itu dari dalam sakuku tapi dengan cepat aku segera mengambilnya terlebih dahulu dan menggenggamnya erat di telapak tanganku.


"Sini Sa! ini sudah siang takutnya nanti tidak keburu aku ke masjid," ucap Adnan sambil terus berusaha untuk mendapatkan botol itu dari tanganku.


Aku yang hampir kualahan pun menginjak kaki Adnan dan membuat dia mengaduh menjauhkan tubuhnya dariku, kesempatan ini tidak aku sia-siakan, aku pun segera memasukkan botol pembersih kutek itu pada saku kaosku yang tepat berada di dadaku sebelah kiri.


"Sabila aku akan mengambilnya jangan salahkan aku kalau sampai aku menyentuh bahkan memegang sesuatu yang empuk," ucap Adnan sambil tersenyum licik.


Aku sebenarnya jengkel mendengar ucapan Adnan tapi sebisa mungkin menahannya karena aku yakin Adnan tidak akan berani mengambil botol itu yang saat ini berada nyaman di atas gunung.


"Coba saja kalau bisa," ucapku sambil menjulurkan lidah.


"Baiklah kamu yang menantang maka jangan salahkan aku jika tangan ini memegang asetmu," ucap Adnan sambil menatapku tajam, entah kenapa tatapan Adnan membuatku bergidik ngeri bulu kudukku berdiri semua.


Adnan berjalan mendekatiku aku pun segera berlari keluar menuruni tangga menuju ruang tengah dan aku lihat Adnan terus mengejarku.

__ADS_1


"Sabila kenapa kamu berlarian di tangga Nak? awas kalau jatuh," teriak Bunda Nirmala.


"Itu Bun ada gorila mengejarku," ucapku sambil bersembunyi di balik punggung Bunda.


"Sabila sini... berikan botolnya," ucap Adnan sambil terus mengejarku dan aku pun terus berlari mengelilingi Bunda, kami berkejaran seperti anak kecil yang sedang berebut mainan.


"Adnan...Sabila... berhenti jangan berlarian mengelilingi Bunda seperti ini! Bunda pusing jadinya melihat kalian berkejaran seperti anak kecil," ucap Bunda sambil berteriak.


Mendengar Bunda yang mengomel pun aku segera menghentikan langkahku sejenak aku ingin mengatakan pada Bunda untuk menyuruh Adnan agar berhenti mengejarku tapi kelengahanku di manfaatkan oleh Adnan untuk mengambil botol pembersih kutek itu dari saku kaosku. Aku pun melotot kesal ke arah Adnan yang tersenyum puas dan berjalan duduk di sofa ruang tengah untuk membersihkan kuteknya.


"Adnaaaaan tanganmu menodai dadaku, enak saja kamu pegang-pegang dadaku yang masih perawan ini," teriakku kesal.


"Sabila...Adnan itu suamimu kenapa juga kamu teriak-teriak histeris seperti itu wajarkan kalau dia menyentuh mu," ucap Bunda.


"Tapi dia pegang-pegang dadaku Bun! kan jadi ternoda ini dadaku yang masih alami," gerutuku sambil mengikuti Bunda duduk di sofa dekat Adnan.


"Hmmmm sudah bersih, ini tinggal kamu yang bersihkan kutek di tanganmu itu! sebentar lagi waktu sholat dhuhur dan tidak sah jika kamu masih memakai kutek itu jangankan sholatmu wudhumu pun tidak sah," ucap Adnan sambil menyerahkan botol pembersih kutek itu padaku.


"Bodo amat! aku tidak mau membersihkan kutek ini, enak saja baru aku pakai kok di suruh membersihkan, kan sayang," ucapku sambil tidak mempedulikan perintah Adnan.


"Sabila benar apa yang dikatakan suamimu, bersihkan itu kutek di tanganmu, pakai lagi kalau kamu sedang datang bulan saat itu kamu free tidak sholat jadi kamu bebas untuk menggunakannya," ucap Bunda menasehati.


"Tapi Bun,_


"Sudah... sudah jangan banyak bantah ayo segera di bersihkan, lalu bersiaplah untuk sholat dhuhur," ucap Bunda sambil mengelus rambutku.

__ADS_1


Kalau bunda sudah bersikap lembut seperti ini aku sudah tidak sanggup lagi untuk membantah perintahnya, karena hati ini merasa nyaman dan damai saat mendapatkan perlakuan seperti ini dari bunda mungkin karena aku tidak pernah mendapatkan kasih sayang setulus ini dari orang tua kandungku jadi hatiku selalu lemah saat bunda memperlakukanku penuh kasih sayang seperti seorang putrinya sendiri.


"Iya Bun," ucapku sambil menuangkan cairan pembersih kutek itu pada sebuah tisu dan mengusap pada jari tanganku untuk membersihkan cat pewarna kuku yang masih setia menempel di tanganku.


__ADS_2