
"Bunda ingin bicara serius dengan kalian, kita mulai dari kamu Nabila," sorot mata tenang dan serius juga tajam menatap Nabila, seakan-akan saat ini Nabila sedang berada di ruang persidangan.
"Apa maksudmu meminta Sabila untuk menggantikan dirimu mulai dari menjemput Adnan di bandara sampai kemarin di acara ahad nikah? kalau kamu tidak menyetujui perjodohan ini seharusnya kamu mengatakan dengan sejujurnya tidak dengan cara seperti ini kamu membuat malu keluarga besar kita saja," ucap Bunda.
Aku pun menarik nafas dalam-dalam ternyata Bunda sengaja mengumpulkan kami semua untuk di mintai penjelasan kenapa kami melakukan hal konyol tapi berakibat fatal ini.
"Itu Bun...," jawab Nabila sambil menundukkan kepalanya," Saya tidak mencintai ustadz Adnan, jadi saya pikir apa salahnya kalau saya mengenalkan Adnan dengan Sabila, siapa tahu mereka bisa dekat saling kenal dan saling menyukai, dan saya berharap jin yang ada di dalam tubuh Sabila kabur setelah Sabila menikah dengan ustadz Adnan dan berubahlah si Sabila jadi Ummu yang shalihah," jawab Nabila.
Aku pun melotot ke arahnya mendengar jawaban Nabila ingin rasanya aku jitak itu kepala sungguh isi otaknya sangat brilian sampai membuatku kelabakan dan harus menyerah terhadap nasib.
"Astaghfirullah Nabila, kamu ini kenapa bersikap seperti anak kecil kamu ini sudah umur 21th Nak! seharusnya kalau kamu tidak setuju ngomong baik baik tidak begini caranya, lalu yang mengganti nama di penghulu itu kamu?" tanya Bunda sambil memijat kepalanya yang terasa sakit karena ulah anaknya sendiri.
"Iya, kalau namanya masih namaku kan aku yang menikah Bun, jadi kalau orangnya sudah di gantikan Sabila namanya pun aku ganti nama Sabila jadi sah dia yang menikah," jawab Nabila enteng.
Bunda geleng geleng kepala mendengar penjelasan Nabila, kemudian Bunda pun menoleh ke arahku, aku pun sadar kalau sebentar lagi giliranku yang mendapatkan interogasi.
"Bunda tidak perlu bertanya aku akan ceritakan semuanya Bun, mulai awal hingga akhir aku berada di pelaminan," ucapku mencegah Bunda melontarkan pertanyaan karena aku yakin Bunda hanya ingin tahu kisah itu.
"Nabila memintaku menjemput calon suaminya di bandara, aku di minta berpura pura menjadi dia, aku pun di suruh menggoda ustadz Adnan agar merasa ilfil dan membatalkan pernikahan mereka, tapi bukannya membatalkan perjodohan ini di Adnan malah minta pernikahan di percepat akibatnya Nabila jadi frustasi dan memintaku untuk menggantikan aku di pelaminan, katanya kalau nama dan orangnya berbeda pernikahan itu gagal, tapi nyatanya aku di tipu sama curut satu ini, namanya pun di ganti dengan namaku, padahal aku hanya ingin membantunya karena aku sangat menyayanginya seperti saudaraku sendiri aku tidak ingin melihatnya hidup tertekan di perjodohan ini," ucapku menjelaskan semuanya.
"Kamu harus mengajariku ilmu agama dan ilmu yang lainnya juga agar aku tidak mudah di tipu seperti ini," ucapku melirik ke arah Adnan.
__ADS_1
Adnan pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Sekarang keputusan ada di kamu Adnan bagaimana sekarang menurutmu, memang dua malam sebelum pernikahan terjadi Nabila sudah pernah berterus terang tapi waktu itu terlalu mepet jadi tidak bisa untuk di batalkan sekarang terserah kalian berdua maunya gimana Bunda terima," ucap Bunda sambil menoleh ke arah Adnan.
Aku kaget mendengar perkataan Bunda jadi ternyata sebelumnya Nabila telah mengakui semuanya tapi berhubung waktu yang tidak memungkinkan untuk dibatalkan mereka setuju Nabila menjebakku? ah ini keluarga sekongkol menjadikan aku istri si Adnan, tapi kenapa si Adnan juga setuju? jangan jangan dia jatuh cinta padaku pada pandangan pertama?.
"Pernikahan sudah terjadi Bun, juga sudah sah menurut negara dan agama, menurut saya memang tuhan telah membuat saya Sabila berjodoh hanya caranya mempersatukan kita berbeda," ucap Adnan santai.
"Apa berjodoh?" ucapku sambil melotot ke arahnya.
"Iya kita berjodoh, tangan Tuhan telah mempersatukan kita dalam pernikahan itu tandanya kita berjodoh tinggal bagaimana caranya kita mempertahankan pernikahan ini sampai akhir hayat kita," ucap Adnan lagi.
Aku pun tercengang mendengar jawaban Adnan ingin rasanya aku berteriak kalau aku terpaksa menerima pernikahan ini karena aku takut membuat malu keluarga Bunda tapi mulutku keluh tidak dapat berkata apa-apa.
"Satu pertanyaan lagi Adnan, apakah kamu siap menjalani kehidupan pernikahan dengan Sabila?" ucap Bunda serius.
Aku menatap Adnan, ku gelengkan kepalaku memberikannya isyarat agar menjawab tidak pada pertanyaan bunda kali ini.
"Aku sudah menyetujui pernikahan ini, insyaallah aku akan siap menghadapi apapun Bunda, aku tidak akan mundur apapun yang terjadi nanti," ucap Adnan yakin.
Aku pun melotot ke arahnya.
__ADS_1
"Tapi aku Bun..,_"
"Sudahlah Sabila, jalani saja pernikahan ini cinta bisa datang seiringnya waktu Nak! Bunda malah lega dan tenang kamu menjadi istri Adnan, setidaknya ada yang menjaga dan membimbingmu ke jalan yang lebih baik dan yang terpenting kamu memiliki tempat untuk berkeluh kesah tidak merasa sebatang kara lagi," ucap Bunda tulus seakan-akan aku adalah anaknya sendiri.
Lidahku terasa keluh tidak dapat berkata apa-apa lagi, setiap kali Bunda mengatakan sesuatu menyangkut kehidupanku yang kacau dan kurang kasih sayang hatiku terasa sangat lemah karena selama ini hanya bunda dan Nabila tempatnya mendapatkan kasih sayang yang tulus.
"Baiklah Bun... toh ini sudah terlanjur terjadi, ibarat kata sudah terlanjur basah ya sekalian mandi," ucapku.
"Eh memangnya tadi pagi kamu mandi Sa? aku kok tidak yakin," ucap Nabila cengengesan.
"Memang aku tadi pagi tidak mandi tapi wangi kok, eh kenapa ini kok malah bahas aku mandi atau tidak sih Na!" ucapku kesal dan melemparkan sebuah kotak tisu ke arah Nabila yang di balas cengengesan olehnya.
"Bun Nabila sudah punya pacar loh suruh cepat nikah saja dia biar gak terjerumus dalam hal yang tidak tidak," ucapku biar tahu rasa si Nabila sekali kali aku mau jadi kompor.
"Eh mulutmu ya Sa! awas kamu mau jadi kompor meleduk nih anak," ucap Nabila sambil melotot ke arahku.
Aku pun menjawabnya dengan menjulurkan lidah ke arahnya, biar tahu rasa tuh anak jadi kalau dia di suruh nikah aku ada temannya nikah muda.
"Astaghfirullah Nabila jadi yang kamu katakan tempo hari itu beneran kalau kamu punya pacar? Bunda kita itu hanya alasanmu saja untuk menghindari pernikahan dengan Adnan," ucap Bunda geleng geleng kepala.
"Kita pacaran tidak keliwat batas kok Bun, paling cuma pegang pegangan doang," ucap Nabila.
__ADS_1
"Astaghfirullah Nabila itu ajaran sesat dari mana! di Islam tidak ada kata pacaran wajar itu sudah pasti mengandung dosa Nak," ucap Bunda kesal.
Aku pun menatap Nabila dan tersenyum mengejeknya, syukur biar dia tahu rasa siapa suruh dia menjebakku dalam pernikahan ini sekarang dia pun harus merasakan nikah di usia muda sama sepertiku.