Mendadak Jadi Istri

Mendadak Jadi Istri
Khilaf


__ADS_3

Aku semakin gelisah apalagi ucapan Nabila masih terngiang di telingaku, Nabila mengatakan kalau Adnan sudah berpengalaman dalam hal bercocok tanam karena dia sudah mempelajarinya dari buku buku yang sempat dia baca itu semakin membuatku ngeri. Segera aku bungkus tubuhku dengan selimut tebal.


Tiba tiba ide bagus melintas di otakku.


"Bagaimana kalau aku pura pura sedang datang bulan, pasti dia tidak akan meminta jatahnya toh haram hukumnya berhubungan suami-istri saat sang istri sedang datang bulan," aku pun tersenyum bahagia.


Kini aku bisa tenang sungguh otakku memang jenius saat ini cara yang paling ampuh untuk menghindari malam pertama adalah dengan mengatakan datang bulan," ucapku sambil tersenyum.


Aku pun merapikan kembali posisi tidurku kini aku bisa berbaring dengan cantik dan tenang.


Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka dan terlihat Adnan keluar dari sana pandangan matanya tertuju padaku.


"Kenapa belum tidur pasti menungguku ya?" ucapnya.


"Iya ..eh tidak," jawabku hampir keceplosan, ini bibir kadang kadang tidak bisa di ajak kompromi.


"Berarti kamu sudah siap menjalankan tugasmu sebagai seorang istri saat ini?" ucap Adnan berjalan ke arahku sambil terus menatapku.


Tatapan Adnan membuat tubuhku merinding, Adnan semakin dekat denganku tanganku pun spontan menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhku.


"Tidak perlu segugup itu aku hanya mau mengambil bantal, bukan mau merebut keperawananmu," ucap Adnan ketus.


Aku menatapnya dengan heran saat tahu dia mengambil bantal dan membaringkan tubuhnya di sofa yang ada di tengah kamar ini.


"Kenapa kamu tidur di sofa?" tanyaku sambil menyibak selimut ternyata gerah juga membungkus diri dengan selimut tebal.


"Saya tidak akan menyentuhmu sebelum kamu yang memulai memintanya," ucap Adnan sambil menatapku dan saat ini lagi lagi kita saling menatap.


"Jangan mimpi! itu tidak akan pernah terjadi sampai tumbuh gigi kuda nil," ucapku.


"Apa kamu yakin dengan perkataan mu? nafsu wanita itu lebih tinggi dari pada nafsu laki laki apa kamu bisa bertahan tinggal satu kamar denganku tanpa aku sentuh," ucap Adnan sambil tersenyum sarkas.


"Idih malah seharusnya aku yang bertanya seperti itu, apa kamu bisa bertahan hidup satu kamar denganku tanpa aku kasih jatah," ucapku tidak mau kalah.


"Hmmmm...bisa kalau aku tidak khilaf tapi kalau sampai aku khilaf entahlah," jawab Adnan santai.

__ADS_1


Aku pun melempar bantal hingga mengenai Adnan, sebal juga memiliki suami macam dia, padahal awalnya aku yang ingin menggodanya tapi kenapa malah aku yang di godanya habis habisan, aku pun memilih untuk segera tidur dengan posisi membelakanginya capek juga kalau terus berdebat dengannya pasti ujung ujungnya aku jadi emosi.


****


"Sabila bangun! sudah siang," samar samar aku dengar suara seseorang membangunkan ku.


Aku hanya menjawabnya dengan sebuah lenguhan dan mataku kembali terpejam karena mataku terasa berat untuk terbuka, rasa ngantuk masih menguasai ku.


"Sabila cepat bangun!" suara itu kembali terdengar sekarang semakin jelas.


Aku pun tidak memperdulikannya tapi tiba-tiba wajahku terasa basah seperti ada percikan air yang menetes di wajahku, aku pun kaget segera membuka mata dan langsung terduduk karena saking kagetnya, aku pun menatap kesal seseorang yang berdiri di samping tempat tidur sambil tangannya membawa sebuah gayung berisi air yang sengaja di ciprat ciprat kan ke wajahku.


"Apaan sih pakai main ciprat ciprat air segala kamu kira aku ini pohon yang kekurangan air apa? aku masih ngantuk woii lagian ini masih terlalu pagi untuk bangun," ucapku kesal.


"Udahan ngocehnya," ucap Adnan.


Aku pun mengangguk sambil menguap entah kenapa aku kok jadi agak penurut sama ini orang.


"Ada apa sih, pagi pagi buta suruh orang bangun? aku masih ngantuk tahu semalam aku tidak bisa tidur gara gara kamu bilang khilaf," ucapku dan kembali ingin membaringkan tubuhku ke tempat tidur.


"Astaghfirullah Sabila!" ucapnya.


"Diam jangan berisik! aku masih ngantuk salah siapa semalam kamu bilang khilaf jadi aku tidak bisa tidur, takut tiba tiba kamu khilaf dan merampas hak mu itu sungguh mengerikan," ucap Sabila dengan mata terpejam.


Adnan pun menghela nafas kasar.


"Lalu sekarang yang memancing orang untuk khilaf siapa?" tanya Adnan.


Aku pun segera membuka mataku lebar dan aku lihat kini posisiku sedang memeluk erat Adnan, aku pun cengengesan dan segera melepaskan pelukanku.


"Kalau aku yang khilaf tidak apa-apa karena itu tidak berbahaya beda lagi kalau kamu yang khilaf," ucapku.


"Cepetan bangun! Bunda sudah menunggumu di bawah," ucap Adnan.


"Kalau aku tidak mau bangun mau apa kamu," ucapku kembali menggodanya.

__ADS_1


"Bangun atau...,"


"Atau apa?" ucapku menantangnya.


"Atau aku cium kamu," ucapnya sudah mulai berani mengancam ku.


Aku pun merasa tertantang, aku pun segera mengecup pipi kirinya.


"Sudah," ucapku.


Adnan tiba tiba terdiam tidak bersuara.


Aku pun sangat senang ini tandanya aku menang dari dia. Aku pun segera bangkit dan turun dari tempat tidur sebelum aku melangkahkan kakiku menuju kamar mandi lagi lagi aku kecup pipi kanan Adnan dan aku belai rahangnya.


"Jangan coba-coba mengancamku Sayang," ucapku menggodanya.


Aku pun memilih untuk segera bergegas ke kamar mandi aku takut nanti kalau dia terpancing dan melemparku ke tempat tidur dan dia mulai bercocok tanam wah itu bisa lebih gawat.


Sebelum aku masuk ke kamar mandi aku sempatkan menoleh ke arahnya dan aku kerlingkan sebelah mataku menggodanya.


Cepat cepat aku masuk ke dalam kamar mandi dan segera aku kunci pintunya, aku takut kalau dia nekat menerobos masuk.


Aku sandarkan tubuhku di balik pintu kamar mandi.


"Berani-beraninya kamu menggodaku, aku pasti akan membalasmu dengan lebih dahsyat, aku akan membuatmu benci dan ilfil padaku hingga akhirnya dengan sendirinya kamu memutuskan untuk pergi meninggalkan aku," tekadku dalam hati.


Seperti kebiasaanku yang malas mandi, aku pun hanya berdiri di depan wastafel menyalakan kran, lalu mencuci muka dan menggosok gigi setelah itu aku pun keluar dari kamar mandi.


Adnan yang saat ini telah berpindah duduk di sofa menatapku heran.


"Cepat sekali di kamar mandinya? mandi atau cuma cuci muka kamu itu," ucapnya.


"Untuk apa mandi segala, boros air," jawabku.


Aku berjalan menuju lemari dan segera mengambil celana pendek sepaha milikku tidak lupa kaos lengan pendek kesayanganku.

__ADS_1


Aku pun kembali ke kamar mandi, saat ada Adnan di dalam kamar ini aku tidak berani mengganti pakaianku sembarangan seperti saat bersama Nabila, aku takut Adnan tidak kuat iminnya saat melihat tubuh seksiku sedang berganti pakaian di hadapannya dan tiba-tiba menyerangku.


__ADS_2