Mendadak Jadi Istri

Mendadak Jadi Istri
Rukma dan Adnan


__ADS_3

Aku pun ikut mendengarkan pengajian rutinan di pesantren ini, dan parahnya lagi yang sedang dibahas kali ini dosa seorang istri yang menolak atau menunda untuk memberikan hak pada suaminya setelah Ahad nikah, aku pun gelisah dalam dudukku.


"Kenapa juga nih ceramah membahas yang begituan aku kan jadi ngeri?" gumamku dalam hati.


Pesantren ini memang kebanyakan santrinya sudah berusia remaja menginjak dewasa tidak heran kalau aku dengar kabar kalau suamiku termasuk salah satu ustadz idaman para santri di sini, katanya selain tampan dia juga pintar katanya sih! tapi kalau menurutku suamiku itu orangnya ya....iya sih lumayan tampan tapi belum bisa bikin hatiku terketuk untuk memberikan haknya.


Aku kembali fokus mendengarkan ceramah yang disampaikan oleh salah satu ustadz di pesantren ini.


"Allah menciptakan makhluknya secara berpasang-pasangan tanpa kecuali, sekecil apapun makhluk ciptaan Allah mereka tetap memiliki pasangan tidak terkecuali manusia.


Sebagai makhluk paling mulia dan Khalifah di muka bumi ini manusia memiliki tanggung jawab mematuhi ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Telah di tetapkan dalam firman-nya maupun dalam sabda Rosul-Nya. Salah satu ketentuan itu adalah tentang pernikahan dan tanggung jawab yang di timbulkan oleh hubungan itu.


Setiap manusia pasti punya keinginan untuk menikah dan membangun rumah tangga yang harmonis karena menikah adalah salah satu sunatullah. Tapi tidak kurang rumah tangga yang menjadi berantakan karena kurangnya pengetahuan antara pasangan itu, pernikahan adalah menyatukan dua insan yang berbeda cara pikirnya, berbeda kemauannya berbeda keinginannya menjadi satu dalam mahligai rumah tangga yang akan mencapai satu tujuan, maka anak-anakku kelak jika kalian semua sudah berumah tangga maka segera tunaikan tugas kalian sebagai seorang istri dengan baik, jadilah istri yang menyejukkan, jadilah istri yang menentramkan dan jadilah rumah ternyaman untuk suami kalian pulang," tutur ustadz itu.


Aku pun terus fokus mendengarkan ceramah ini karena aku merasa tertarik dengan tema ini, aku ingin belajar memperbaiki diri, aku rasa selama ini Adnan sudah cukup sabar menghadapi sikapku yang arogan dan mau menang sendiri.


Tadi juga aku sempat mendengar dari ceramah ustadz itu kalau seorang perempuan sangatlah berdosa dan di laknat Allah jika tidak menjalankan tugasnya sebagai seorang istri dan memberikan hak pada suaminya.


Aku sebenarnya merasa ngeri membayangkan itu semua tapi aku belum siap untuk memberikan haknya Adnan, aku masih bingung dan malu untuk mengatakan dan mengijinkannya untuk mendapatkan itu.


Setelah pengajian itu selesai kami pun segera keluar dari aula yang di isi oleh hampir empat ratus santri dan pengajar perempuan di pesantren ini, kami berjalan bergantian untuk keluar dari aula dan tanpa sengaja aku mendengar ada beberapa santri yang sedang membicarakan Adnan.

__ADS_1


"Aku lihat tadi ustadz Adnan sudah kembali," ucap salah satu santri itu.


"Iya aku juga melihatnya tadi, dia datang ke pesantren bersama istrinya," ucap yang lainnya.


Aku terus saja mendengarkan tanpa mereka ketahui kalau istri ustadz Adnan yang mereka maksud saat ini berada di belakang mereka.


"Iya istri ustadz tadi ikut datang ke pesantren, bagaimana perasaan ustadzah Rukma ya saat melihat kenyataan kalau ustadz Adnan sudah menikah?" ucap salah satu santri itu.


Aku pun kaget dengan apa yang aku dengar sebenarnya ada apa dengan Adnan dan Rukma? apakah Rukma yang dimaksud adalah Rukma yang bertemu denganku di dalam salah satu ruangan tadi? Aku pun semakin menajamkan pendengaranku mendengarkan apa yang dibicarakan para santri itu.


"Pasti patah hati ustadzah Rukma, orang yang selama ini dia idam-idamkan tiba-tiba sudah berstatus suami orang," ucap salah satu santri yang lainnya.


"Bukan cuma ustadzah Rukma kali yang mau sama ustadz Adnan secara siapa yang tidak mau jadi istri pemilik putra pemilik pesantren ini, sudah tampan pintar lulusan Kairo lagi, aku juga mau kali," ucap santri itu cengengesan.


Dalam hati aku pun bertanya-tanya kenapa juga Adnan saat itu langsung menerima perjodohan denganku yang hanya sebagai pengganti Nabila padahal banyak gadis yang lebih baik dariku di pesantren ini.


Aku pun termenung dan duduk menyendiri di bawah sebuah pohon dihalaman pesantren tiba-tiba ada seseorang yang menghampiriku.


"Kok sendirian ustadzah? mari gabung bersama kami di sana!" ucap perempuan yang aku tahu namanya Sinta saat tadi Adnan mengenalkannya di ruangan itu.


Rasanya aku ingin tertawa terbahak-bahak saat ada seseorang yang memanggilku dengan sebutan Ustadzah mereka belum tahu saja bagaimana aku aslinya hingga mereka memanggilku ustadzah seandainya mereka tahu yang sebenarnya pasti mereka pun akan merasa kalau panggilan itu tidak pantas untukku.

__ADS_1


"Maaf Ustadzah tolong jangan panggil saya dengan panggilan Ustadzah panggil saja dengan sebutan kakak karena saya merasa tidak pantas panggilan itu di sematkan pada saya," ucapku sambil tersenyum.


"Jangan begitu kamu kan istrinya ustadz Adnan sudah sepantasnya saya memanggil dengan sebutan Ustadzah secara menurut aturan pesantren kamu adalah Bu nyai di sini," tutur Sinta.


"Tolong ya panggil aku Kakak saja sungguh terdengar aneh panggilan itu di telingaku," ucapku sambil tersenyum.


"Baiklah bagaimana kalau aku memanggilmu Ukhti?" ucapnya lagi.


Aku pun rasanya ingin tertawa mendengar kata Ukhti itu aku malah ingat Nabila yang mengatakan padaku kalau kunti telah berubah jadi ukhti, tiba-tiba aku merindukan sahabatku itu.


"Aku lebih suka kamu memanggilku kakak saja," ucapku lagi.


"Baiklah...ayo Kak kita bergabung dengan yang lainnya di mushola sana!" ucapnya lagi.


"Duduklah! bolehkah aku menanyakan sesuatu padamu? " ucapku.


"Tanyalah Kak! kalau aku bisa menjawabnya pasti akan aku jawab," ucap Sinta.


"Apakah ada hubungan antara Adnan dan Rukma? tolong ceritakan padaku sungguh aku tidak merasa apa-apa hanya ingin tahu cerita tentang mereka saja," ucapku sambil tersenyum.


Sinta pun menatapku sekilas dan menghela nafas.

__ADS_1


"Benarkah kamu mau mendengarkannya?" tanya Sinta.


Ucapan perempuan ini semakin membuatku penasaran sebenarnya ada apa antara Rukma dan Adnan. Aku pun mengangguk sebagai jawaban. Aku sudah tidak sabar untuk mengetahui cerita antara Adnan dan Rukma, entah kenapa saat tadi aku mendengar para santri itu membicarakan tentang Adnan dan Rukma ada sedikit rasa aneh yang merayap di hatiku, aku juga heran rasa apa ini terasa dada ini sesak dan panas rasa ini sebelumnya belum pernah aku rasakan sama sekali.


__ADS_2