Mendadak Jadi Istri

Mendadak Jadi Istri
Keputusan Sabila


__ADS_3

Hari-hari Sabilah dilalui dengan penuh semangat, wanita itu terus memperbaiki diri dia berusaha untuk membuat dirinya layak disebut sebagai istri Adnan. Dia tidak ingin suaminya itu malu karena memiliki istri yang benar-benar buta ilmu agama. Tidak bisa dipungkiri benih cinta telah tumbuh dihati Sabilah setelah melihat betapa sabarnya Adnan menghadapi tingkah dan sikap Sabila selama ini.


"Sa aku berangkat ke tempat kerja dulu nanti sepulang dari sana aku langsung mau ke pesantren, apa kamu juga akan pergi ke pesantren hari ini?" tanya Adnan saat mereka sedang sarapan.


Adnan mulai bekerja mengurus perusahaan yang ditinggalkan oleh mendiang ayahnya, Adnan bukan hanya putera pemilik pesantren semata tapi ayah Adnan juga memiliki sebuah perusahaan yang bisa dibilang lumayan besar selama ini perusahaan itu dihandle oleh orang kepercayaan keluarga Adnan dan kini Adnan mulai bekerja disana.


"Aku nanti akan ke pesantren setelah menyelesaikan pekerjaan rumah," Jawab Sabila.


"Apa perlu nanti aku jemput dulu?" tanya Adnan.


"Tidak usah aku bisa berangkat sendiri kesana, kamu nanti capek harus bolak-balik dari perusahaan pulang ke rumah dan balik lagi ke pesantren padahal ke pesantren lebih dekat posisinya dari kantor," ucap Sabila. Dia tidak ingin merepotkan Adnan. Sabila tidak tega melihat Adnan harus bolak-balik hanya demi menjemput dirinya.


"Cie sudah mulai perhatian, nih! So sweet!" ucap Adnan menggoda Sabila.


"Apaan sih! Sudah sana berangkat jangan sampai kamu terlambat gara-gara terus menggombal disini!" ucap Sabila mencoba menyembunyikan wajahnya agar Adnan tidak melihat semburat merah di pipinya.


"Tidak masalah jika aku terlambat toh aku pemilik perusahaan," ucap Adnan dengan menampilkan wajah tengilnya.

__ADS_1


"Atasan itu harus memberikan contoh yang baik untuk karyawannya! jangan mentang-mentang bos terus berangkat kerja seenaknya sendiri," ucap Sabila ketus.


"Iya...iya Bu Bos besar! Bawel amat padahal aku masih ingin berduaan denganmu, aku berangkat dulu ya istriku!" ucap Adnan menyodorkan tangannya pada Sabila.


Sabila pun menyambut tangan itu dan menciumnya dengan takzim, Adnan yang mendapatkan perlakuan seperti itupun merasa hatinya berdebar-debar. Tumben Sabila menerima uluran tangannya dan mencium dengan takzim biasanya ada-ada saja alasan Sabila menolaknya. Kadang wanita itu mengatakan kalau tangannya kotor, kadang mengatakan kalau dia habis pegang trasi tangannya bau terasi tapi pagi ini sangat berbeda. Adnan pun tersenyum bahagia. Pria itu melangkahkan kakinya dengan riang.


"Seandainya sejak dulu kamu bersikap seperti ini aku pasti tidak harus berpuasa hingga kurun waktu yang panjang seperti saat ini Sabila! Aku benar-benar sudah jatuh hati padamu sejak pertama kali bertemu walaupun penampilanmu yang urakan dan suka memakai pakaian kurang bahan tapi entah kenapa aku merasa dirimu sangat berbeda, aku benar-benar tergila-gila padamu, aku akan menunggumu sampai kamu bersedia menjadi istriku seutuhnya, Sabila," ucap Adnan seorang diri.


Sepanjang perjalanan pria itu selalu mencium tangannya yang masih menyisakan bayangan Sabila ketika mencium punggung tangannya tadi, seandainya Adnan tidak mengingat janjinya dulu yang mengatakan tidak akan memaksa Sabila untuk memberikan haknya tanpa Sabila sendiri yang menginginkannya maka Adnan sudah ingin sekali membuat Sabila hamil dari benihnya agar wanita itu tidak bisa pergi dari sisinya. Tapi Adnan tidak bisa melakukan itu karena sudah terikat oleh janji yang pernah dia ucapkan, setiap waktu hati Adnan pun gelisah dia takut kalau suatu saat nanti Sabila pergi meninggalkan dirinya, Adnan hanya bisa berdoa memohon pada pemilik hati agar menggerakkan hati Sabila secepatnya bisa mencintai Adnan supaya wanita itu tidak pergi meninggalkan dirinya.


Sementara itu ditempat lain Sabila mulai berpikir untuk menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri, dia merasa kasihan pada Adnan cukup sudah pria itu bersabar, Sabila pun khawatir kalau suatu saat nanti Adnan pergi meninggalkan dirinya karena terlalu lama menggantung perasaan Adnan. Sabila sadar kalau diluaran sana banyak wanita yang berharap untuk menjadi pendamping hidup Adnan tapi mereka tidak seberuntung Sabila tapi mengapa Sabila malah menyia-nyiakan pria yang sempurna itu?


Ingin rasanya Sabila menelepon sahabatnya dan meminta bantuan pada Nabila untuk membimbingnya agar bisa mengatakan itu semua pada Adnan tapi Sabila yakin Nabila pasti akan menertawakan dirinya. Sabila menghela nafas biar bagaimanapun dia harus melakukannya malam ini, dia tidak mau sampai Adnan jatuh pada wanita lain. Dengan penuh pertimbangan akhirnya Sabila pun menghubungi Nabila dia ingin menceritakan semuanya pada Nabila.


Deringan ponsel Sabila pun segera diangkat oleh Nabila setelah beberapa kali berbunyi.


"Assalamualaikum Nabila," sapa Sabila saat sambungan telepon telah tersambung.

__ADS_1


"Waallaikum salam, Sa! Ada apa tumben jam segini kamu menghubungiku? Apa kamu tidak pergi ke pesantren?" tanya Nabila.


"Memangnya tidak boleh ya aku jam segini menghubungimu? Ya sudah deh aku tutup saja teleponnya," ucap Sabila pura-pura ngambek.


"Eh begitu saja ngambek! Aku cuma bertanya, Sa! Ada apa tumben kamu meneleponku," ucap Nabila.


Sabila pun mengigit bibir bawahnya, dia ragu ingin menanyakan ini semua pada Nabila tapi dia tidak bisa mempercayai orang lain untuk menceritakan apa yang saat ini sedang dia rasakan, satu-satunya orang yang dia percaya cuma Nabila sahabatnya sejak dulu yang sudah seperti saudara bagi Sabila.


"Aku ingin bertanya sesuatu padamu apakah kamu saat ini sibuk?" tanya Sabila.


"Aku tidak sedang tidak melakukan apapun, Sa! sejak aku hamil besar Bara tidak mengijinkan aku melakukan apapun itu sebabnya aku kadang merasa jenuh dan kesepian ingin rasanya aku terbang untuk menemuimu, ceritakanlah apa yang ingin kamu tanyakan padaku!" ucap Nabila.


Sabila terdiam sejenak dia pun kembali memikirkan apakah ini merupakan keputusan yang tepat atau tidak? Setelah yakin akhirnya Sabila pun memutuskan untuk menceritakan semuanya pada Nabila.


"Na...aku berniat untuk memberikan hak Adnan, tapi aku bingung bagaimana caranya mengatakan itu semua pada Adnan, apakah kamu bisa membantuku?" tanya Sabila pada akhirnya. Wanita itu mengumpulkan keberaniannya untuk menceritakan masalah yang saat ini sedang berkecamuk dalam benaknya pada sahabatnya itu.


Nabila yang mendengar itu pun tersenyum, dia bersyukur dalam hati, akhirnya Sabila bisa menerima kehadiran Adnan, itu artinya Sabila sudah mulai mencintai Adnan dengan sepenuh hati buktinya dia sudah mulai ingin menyerahkan apa yang sangat berharga dan selama ini dia jaga pada Adnan suaminya walaupun awal pernikahan mereka adalah karena rencana Nabila. Tapi bukan Nabila namanya kalau dia tidak ingin menggoda sahabatnya itu terlebih dahulu sebelum memberikan solusi padanya.

__ADS_1


"Katakan pada Adnan, Sa! Mas ayo unboxing aku!" ucap Nabila cekikikan.


Sabila pun berdecak sebal, sudah dia duga pasti sahabatnya satu ini akan mengejeknya sebelum memberikan solusi tapi entah kenapa dia lebih nyaman dan care kalau bercerita dengan Nabila dibandingkan dengan orang lain.


__ADS_2