Mendadak Jadi Istri

Mendadak Jadi Istri
Terbuka Semua


__ADS_3

Sepanjang waktu makan malam, Sabila terlihat murung tidak seceria biasanya, walaupun mereka belum melakukan hubungan suami istri tapi beberapa hari ini hubungan mereka sudah lumayan membaik, Sabila sudah bisa bercanda dan lebih enjoy saat bersama Adnan yang sebelumnya mereka merasa canggung satu sama lain belakangan ini.


"Sabila aku mau mengenalkan wanita cantik dihadapan kita ini padamu, dia adalah,_


"Maaf Mas, aku ke kamar dulu! Aku sedang kurang enak badan!" ucap Sabila memotong ucapan Andrean. Sabila yang sejak tadi menahan rasa cemburu pun segera bangkit dan bangkit dari posisinya berjalan meninggalkan Adnan dan wanita itu. Dia tidak akan sanggup jika Sabila harus mendengar kenyataan kalau wanita cantik di depannya itu adalah istri muda suaminya, laki-laki yang telah berhasil mencuri hatinya. Sabila tidak bisa membayangkan betapa hancur perasaannya jika sampai semua itu terdengar dari mulut Adnan. Saat ini Sabila belum mendengar apapun tentang wanita itu saja hatinya sudah tidak sanggup, hatinya sudah merasakan sakit yang amat sangat, rasa sakit yang sebelumnya belum pernah dia rasakan. Sabila lebih memilih untuk pergi ke kamar dan mencurahkan semua perasaannya di sana.


Adnan dan Humairah pun saling pandang saat melihat kepergian Sabila tanpa mau mendengarkan penjelasan Adnan terlebih dahulu.


"Kak sepertinya kakak ipar salah faham, deh! Dia pasti cemburu dan mengira kalau aku kekasih atau mungkin istri tersembunyi Kakak," ucap Humairah sambil menatap kepergian Sabila.


"Hahaha kamu itu sok tahu, Uma! Mana mungkin Sabila cemburu!" ucap Adnan.


"Kakak ini tidak peka! Aku yakin saat ini kak Sabila salah faham! Dia mengira kita memiliki hubungan terlarang karena dia tidak tahu kalau aku adalah adik sepupumu, cepat samperin kak Sabila! Biar aku ke kamar sendiri, kamar tamu masih sama kan letaknya? Nanti kalau kak Sabila sudah tenang baru Kakak kenalkan aku padanya, sekalian malam ini aku mau istirahat jadi selamat menikmati dan menyelesaikan masalah kalian! Aku mau tidur dulu, capek setelah perjalanan panjang," ucap Humairah cekikikan. Gadis itu pun segera meninggalkan Adnan seorang diri di ruang makan.


Adnan pun penasaran dengan apa yang dikatakan Humairah, apakah memang benar Sabila cemburu? Apakah itu artinya Sabila sudah bisa menerima keberadaannya sebagai suami sekarang? Apakah itu artinya dia tidak harus lama-lama puasa untuk mendapatkan jatahnya? Adnan pun menggelengkan kepalanya mencoba melenyapkan pikiran nakal yang tiba-tiba mampir di otak briliannya itu. Pria itu pun segera bangkit dan berjalan menuju kamar dimana Sabila berada, dia ingin memastikan apa benar yang dikatakan oleh Humairah itu? Atau itu semua hanya karangan si Humaira yang sok tahu saja.

__ADS_1


Adnan berjalan menuju pintu kamar yang tertutup, dia mencoba memutar handle pintu tapi tidak berhasil, dia yakin saat ini Sabila mengunci pintu dari dalam untung saja Adnan selalu membawa kunci cadangan. Adnan pun segera memasukkan kunci cadangan itu ke lubang pintu dan benar saja seperti dugaan Adnan pintu itu dikunci dari dalam oleh Sabila.


Sabila kaget karena pintu tiba-tiba terbuka padahal saat ini dia sedang menangis meratapi nasibnya, hatinya terasa sakit saat melihat Adnan pulang dengan membawa seorang wanita cantik. Sabila yakin wanita itu adalah wanita lain dalam hidup Adnan. Sabila sadar kalau itu semua terjadi karena kesalahannya juga, karena dia tidak kunjung memberikan hak Adnan tapi apakah semudah itu seorang pria berpaling?


"Ngapain kamu masuk kesini?" Ucap Sabila ketus. Wanita itu pun dengan cepat menghapus air matanya agar tidak terlihat oleh Adnan kalau dia saat ini sedang menangis. Padahal Adnan sudah melihat kalau saat ini Sabila sedang menangis. Adnan pun tersenyum bahagia, dia berharap apa yang dilihatnya ini nyata, jika memang benar saat ini Sabila sedang menangis karena salah faham sebab dirinya membawa pulang seorang wanita itu artinya saat ini Sabila sudah bisa menerima kehadirannya, Sabila sudah mencintainya, Adnan pun merasa sangat bahagia tapi sebisa mungkin dia menyembunyikan perasaannya.


"Loh kenapa aku tidak boleh masuk kamar ini? Toh biasanya aku juga tidur di kamar ini, kalau aku tidak boleh tidur di sini lalu aku harus tidur dimana?" Ucap Adnan pura-pura tidak faham dengan apa yang sedang terjadi saat ini.


"Bodo amat, kamu mau tidur dimana! Bukankah itu lebih baik jika kamu tidak bisa masuk ke dalam kamar itu artinya kamu bisa tidur dengan wanita cantik yang baru saja kamu bawa pulang itu!" ucap Sabila ketus. Wanita itu tidak lagi bisa menyembunyikan kekesalannya.


"Hahaha kamu cemburu, ya?" ucap Adnan yang bukannya pergi tapi malah semakin mendekat ke arah Sabila dan duduk di samping wanita itu seakan-akan Sabila menangis bukan karena ulahnya.


"Siapa juga yang cemburu! Sudah sana pergi dan temani istri barumu itu!" ucap Sabila dan melempar bantal ke arah Adnan. Adnan sempat melihat butiran bening itu kembali jatuh membasahi pipi Sabila. Adnan tidak tega melihat orang yang dicintainya itu menangis, Adnan pun segera merengkuh tubuh Sabila ke dalam pelukannya berniat untuk menenangkan perasaan wanita itu karena Adnan tahu betapa sakitnya rasa cemburu. Sabila yang termakan amarah dan cemburu pun terus memberontak dalam pelukan Adnan tapi pria itu tidak mau melepaskan pelukannya walaupun Sabila memukul dadanya berkali-kali Adnan tetap diam dan terus memeluk Sabila hingga tangis dan tindakan memberontak dari Sabila reda.


"Sudah marahnya? Kalau sudah tolong tenang dan coba dengarkan dulu penjelasanku!" ucap Adnan tanpa melepas pelukannya.

__ADS_1


Sabila yang sudah tidak memiliki tenaga lagi karena terlalu lama menangis dan berusaha berontak dari pelukan Adnan pun hanya bisa pasrah diam dalam pelukan Adnan sekeras apapun dia lepas dari pelukan pria itu dia tidak akan pernah berhasil jika Adnan tidak berniat melepaskannya.


"Sabila... gadis yang ada di kamar tamu itu namanya Humairah, dia adalah adik sepupuku! Dia pantar wali denganku jadi tidak mungkin jika aku menikah atau memiliki hubungan dengan gadis itu dalam agama kita itu tidak diperbolehkan, dan satu lagi sejak kecil aku dan umi yang merawat Humairah setelah kepergian ibunya maka dia sudah aku anggap seperti adikku sendiri, dia baru pulang dari Mesir. Selama ini Humairah tinggal di sana menimba ilmu hari ini dia pulang dan ingin melihat kakak iparnya tapi sayangnya kakak ipar Humairah sudah keburu termakan api cemburu," ucap Adnan menjelaskan semuanya pada Sabila.


"Siapa juga yang cemburu!" ucap Sabila membela diri.


"Lalu kenapa kamu menangis di dalam kamar dan menguncinya dari dalam?" ucap Adnan menggoda istrinya.


"Siapa juga yang menangis!" ucap Sabila lagi-lagi menyangkal perasannya.


"Sabila jujurlah padaku! Apakah kamu sudah mulai mencintaiku? Apakah kamu sudah mulai bisa menerima aku sebagai suamimu?" ucap Adnan bertanya pada Sabila. Pria itu pun menatap mata istrinya dengan tatapan lembut dan memuja. Sabila tidak bisa bergeming dia seperti terhipnotis oleh tatapan mata Adnan tanpa dia sadari Sabila pun menganggukkan kepalanya. Adnan pun tersenyum bahagia melihat apa yang terjadi di depannya saat ini Sabila mulai mencintai dan menerima dirinya.


"Apakah kamu sudah siap memberikan hak ku sebagai seorang suami?" tanya Adnan.


Sabila terlihat diam dan menatap mata Adnan, mencoba menyelami mata indah bak samudera biru nan luas itu.

__ADS_1


__ADS_2