Mendadak Jadi Istri

Mendadak Jadi Istri
Tolong


__ADS_3

Tiba-tiba Adnan menoleh ke belakang melihat diriku, aku pun berusaha untuk membuka mata dengan lebar walaupun harus bersusah payah melakukan itu.


"Apakah Kamu bisa membaca sebuah surat di dalam Al-Qur'an? jadi nanti aku akan menyesuaikan surat pendek sesuai yang kamu bisa baca," ucap Adnan.


"Bisa," ucapku mantap.


"Baiklah bolehkah aku mendengar kamu membacanya biar aku tahu surat apa itu," ucap Adnan.


Aku pun mengangguk dan dengan percaya diri aku pun membaca apa yang aku bisa.


Dengan bangganya aku memulai membaca surat itu.


"Baca bismillah dulu sebelum memulainya," ucap Adnan menginginkan ketika aku ingin membuka mulut untuk membacakan surat yang aku kuasai.


"Bismillahirrahmanirrahim...bismika Allahumma ahyaa wabismika amuud," bacaku dengan pedenya.


Kulihat wajah Adnan aku ingin melihatnya kagum padaku karena walaupun aku orang yang tidak faham agama setidaknya aku bisa membaca salah satu surat pendek dalam Al-Qur'an walaupun sebenarnya aku tahu bacaan itu sampai hafal karena di belakang pintu kamar Nabila ada tulisan surat itu aku sering mengulangi membacanya saat menginap di kontrakan Nabila oleh sebab itu saking seringnya aku hingga hafal.


Bukannya memuji atau memancarkan raut wajah bangga Adnan malah menepuk jidatnya sendiri.


"Itu bukan surat pendek yang boleh di baca saat sholat Sabila, itu doa mau tidur, ya sudah kamu ikuti saja apa yang saya baca dan lakukan tapi kalau saya sedang membaca surat alfatihah dan surat pendek ikuti dengan suara yang lirih saja hanya telingamu sendiri yang bisa mendengarnya," ucap Adnan.


Aku yang sudah gerah memakai mukena ini pun segera mengangguk mengiyakan saja apa yang di katakan Adnan , lebih baik aku menurut saja biar cepat selesai.


"Untuk niatnya cukup kamu baca bismillahirrahmanirrahim aku niat sholat fardhu subuh dua rakaat menghadap kiblat jadi makmum karena Allah taala, baca dalam hati saja setelah itu kamu tinggal mengikuti gerakanku saja," ucap Adnan lagi.


Aku pun mengangguk dan Adnan pun kembali menghadap ke depan dan aku berada di belakangnya membaca apa yang dia perintahkan tadi, dan setelah dia mengangkat kedua tangannya aku pun mengikuti semua gerakan Adnan.


Aku mendengarkan Adnan membaca surat pendek entah apa aku tidak mengerti dan tidak bisa membacanya jadi aku diam saja mendengarkan, suara Adnan terdengar sangat merdu membuat hatiku merasa nyaman dan tenang ini pun berakibat fatal bagi diriku yang tidak bisa menahan kantuk, mataku sering terpejam sendiri aku pun entah sudah berapa kali menguap, mataku yang sejak tadi masih mengantuk di tambah suara Adnan yang merdu semakin membuatnya terlena, mungkin jika Adnan bernyanyi pasti terdengar lebih sangat merdu, aku akan mencoba menyuruhnya bernyanyi suatu hari nanti.

__ADS_1


Tiba-tiba mataku tidak lagi bisa aku tahan kantuknya aku pun terjungkal jatuh di lantai, cepat cepat aku bangkit lagi dan kembali berusaha mengikuti gerakan Adnan yang terlihat sangat serius menjalankan sholatnya sangat berbeda dengan diriku ini.


Hingga tiba saatnya sujud dan semuanya berakhir bagiku, mataku tidak lagi bisa terbuka dan telingaku tidak lagi mendengar suara Adnan, aku pun terlelap dalam alam mimpi tidak bergerak lagi satu kelemahanku adalah aku tidak bisa menahan kantuk.


Aku bermimpi tubuhku digoyang gempa entah apa terasa sangat ketara sekali seperti seakan-akan ini bukan mimpi.


Tiba-tiba telingaku mendengar suara seseorang yang mengucapkan.


"Innalilahi wa innailaihi rojiun,"


Aku pun. kaget dan segera membuka mataku karena keadaanku yang antara sadar dan tidak sadar.


"Siapa yang meninggal... siapa?" tanyaku pada Adnan saat aku membuka mata yang aku lihat Adnan yang sedang duduk di sebelahku sambil memperhatikan diriku yang baru saja terbangun dari tidurku.


"Aku kira kamu sudah meninggal karena sejak tadi kamu tidak bergerak sama sekali, padahal aku sudah berulang kali mencoba membangunkan mu," ucap Adnan santai.


"Oh jadi kamu mendoakan ku agar meninggal terus kamu jadi duda gitu," ucapku kesal.


Mendengar ucapan Adnan aku pun melotot ke arahnya, tapi di pikir pikir aku juga gak mau meninggal dunia masih dalam status yang tidak jelas begini di bilang bersuami aku masih gadis di bilang masih gadis aku bersuami.


"Iya aku juga gak mau meninggal dunia dalam status gak jelas seperti ini di bilang gadis aku memiliki suami, di bilang bersuami aku masih gadis," ucapku sambil mencebikkan bibirku.


"Bagaimana kalau kamu memberikan hakku sebelum kamu meninggal dunia," ucap Adnan sambil menaik turunkan kedua alisnya.


Aku pun segera menggelengkan kepalaku cepat.


"Gak ... jangan harap itu terjadi," ucapku ketus.


"Beneran kamu tidak mau?" ucap Adnan sambil tersenyum penuh misteri.

__ADS_1


Adnan pun segera bergerak semakin mendekati ku.


Aku yang melihat tingkah Adnan seperti ini merasa sangat takut jika Adnan benar benar melakukannya pagi ini, aku pun bergerak mundur hingga tubuhku menyentuh tembok yang membuatku tersudut.


"Ah ... tolong," teriakku sambil ingin segera bangkit dan berlari meninggalkan Adnan yang mengerikan pagi ini.


Tapi bukannya berhasil lari dari Adnan malah naas yang aku dapatkan, aku menginjak ujung mukena yang aku pakai hingga mengakibatkan aku terjatuh dengan posisi aku berada di atas tubuh Adnan, kedua mata kami saling menatap.


"Ada apa Sabila? kenapa kamu pagi pagi...,-


Aku mendengar suara bunda yang seakan akan berhenti berucap mungkin karena melihat posisiku yang saat ini sangat membuat orang yang melihatnya pasti salah sangka.


Aku pun segera bangkit dari atas tubuh Adnan dan tersenyum canggung ke arah bunda dan aku melihat Nabila pun sedang menatapku dengan tatapan yang mengejek.


"Tidak ada apa-apa Bunda, maafkan Sabila yang membuat Bunda khawatir," ucapku sambil menundukkan kepala menyembunyikan rasa malu, aku pun menyikut tangan Adnan memberinya isyarat kalau ini semua salahnya.


"Makanya kalau lagi menjalankan tugas itu jangan teriak teriak, pintu dibiarkan terbuka lagi, membuat orang khawatir saja," ucap Nabila setelah mengucapkan itu dia pun mengejekku dengan menjulurkan lidahnya.


Sebenarnya aku ingin membalas Nabila tapi tidak ada yang bisa aku lakukan aku pun memilih untuk diam dan menunda kepala.


"Sudah ... sudah sana Sabila lepas mukenanya dan ayo turun bantu Bunda dan Nabila menyiapkan sarapan," ucap Bunda.


"Jangan ajak Sabila Bun! biar Nabila saja yang membantu Bunda masak," ucap Nabila.


Aku pun tersenyum senang tumben anak ini pengertian tahu saja kalau temannya ini masih mengantuk dan ingin melanjutkan tidurnya.


"Sabila kan ingin melanjutkan tugas negaranya Bunda, biarkan saja ayo kita pergi ke dapur jangan mengganggu Sabila dan Adnan yang mau bikin adonan," ucap Nabila sambil menarik tangan Bunda untuk segera meninggalkan kamarku.


Aku sempat melihat Bunda yang menahan tawanya, sungguh aku merasa sangat malu pagi ini. Aku pun berdiri dan menatap Adnan kesal.

__ADS_1


"Ini semua gara gara kamu, aku jadi malu sama Bunda," ucapku dan melangkahkan kakiku untuk menyusul Bunda dan Nabila setelah melepaskan mukenaku.


__ADS_2