Mendadak Jadi Istri

Mendadak Jadi Istri
Ganti Pakaian mu


__ADS_3

"Nabila Bunda tanya jadi kapan Bara dan keluarganya datang kemari untuk melamarmu?" tanya Bunda setelah kami menyelesaikan sarapan dan pindah dudu santai di ruang keluarga.


Aku yang mendengar pertanyaan Bunda pun sangat senang setidaknya Bunda kembali memastikan kalau Nabila pun akan segera bernasib sama sepertiku menikah muda.


"Sore ini mereka sampai di sini Bun," jawab Nabila.


Kami semua yang mendengar ucapan Nabila merasa sedikit lega setidaknya Bara memang serius dengan perasaannya untuk Nabila.


"Bagus! kalau begitu Sabila dan Adnan tolong pergi ke toko kue untuk membeli beberapa kue di toko langganan Bunda ya!" ucap Bunda sambil menoleh ke arahku dan Adnan.


Aku lihat Adnan pun menjawabnya dengan anggukan dan aku pun tinggal mengikuti saja.


"Aku ikut bersama Sabila dan Adnan ke toko kue ya Bun," ucap Nabila dengan tersenyum.


"Tidak! kamu di rumah saja bantu Bunda masak, Bunda tidak mau kamu melarikan diri lagi," ucap Bunda.


Nabila pun mencebikkan bibirnya.


"Siapa lagi yang ingin melarikan diri, toh ini pilihan Nabila sendiri Bun calon pengantinnya," ucap Nabila membela diri.


"Tetap Bunda tidak mau ambil resiko, lebih baik kamu tinggal di rumah bantu ibu memasak biar Sabila dan Adnan saja yang pergi berbelanja," ucap Bunda tegas.


****Setelah mendengar perintah Bunda yang menyuruh aku dan Adnan untuk berbelanja aku pun segera kembali ke kamar untuk bersiap siap dan Adnan pun mengikutiku.


"Mandi dulu sebelum berangkat belanja!" ucap Adnan sambil duduk di sofa yang ada di sudut kamar. Dia sudah mandi pagi tadi sedangkan aku seperti biasa mandi kalau hari sudah terasa panas dan gerah itu baru aku mandi.


"Untuk apa mandi segala toh aku sudah pakai minyak wangi jadi tidak bau tinggal ganti pakaian make up beres deh," ucapku santai.

__ADS_1


"Mandi itu membersihkan badan dari kotoran dan kuman Sabila, lagian kebersihan itu sebagian dari iman, apa susahnya sih mandi toh di sini tidak kekurangan air," ucap Adnan masih kukuh menyuruhku mandi.


"Bodo amat, ini tubuh-tubuh aku, yang tidak mandi juga aku kenapa kamu yang repot," ucapku sambil melangkahkan kaki menuju lemari pakaian untuk mengambil baju ganti.


Aku kaget karena tubuhku yang melayang, Adnan mengangkat tubuhku seperti memanggul karung beras dan memasukkan ke dalam kamar mandi.


"Mandi Sabila! aku akan menguncimu di sini kalau kamu tidak segera mandi," ucap Adnan berdiri di depan pintu kamar mandi.


"Iya...iya bawel amat sih jadi orang, sana pergi aku mau mandi!" ucapku kesal.


Adnan pun kembali ke sofa tempat duduknya tadi dan aku akhirnya terpaksa mandi pagi ini sebelum berangkat belanja. Setelah mandi aku bingung karena tadi aku belum sempat mengambil pakaian ganti , untungnya ada jubah mandi yang bisa aku gunakan untuk menutupi tubuhku saat keluar dari kamar mandi.


Aku pun berjalan menuju lemari tanpa menghiraukan keberadaan Adnan, aku memilih pakaian yang akan aku gunakan untuk pergi keluar bersama Adnan.


Aku memilih tank top dan celana jeans dan tidak lupa kemeja kesayanganku. Aku pun segera kembali ke kamar mandi untuk berganti pakaian karena tidak mungkin aku berganti pakaian di dalam kamar yang saat ini ada Adnan di sana bisa bisa aku beneran di vaksin yang efek sampingnya bunting.


"Bagaimana penampilanku? cantik kan?" ucapku sambil berputar putar di depan Adnan.


Adnan menatapku dan berdiri menghampiriku, aku pun kaget dengan gerakan Adnan yang tiba-tiba mengancingkan kemejaku yang hanya aku pakai tanpa aku kancingkan karena aku sengaja memperlihatkan tank top serta bagian tubuhku yang menawan ini.


"Apa-apaan sih kenapa di kancing kemejanya? bagus tahu style seperti ini aku jadi terlihat waow begitu," ucapku sambil menyingkirkan tangan Adnan yang mengancingkan kemejaku dan aku membukanya kembali.


"Kalau begini kan terlihat lebih seksi," ucapku sambil mendesah. Sengaja aku melakukan itu untuk menggoda Adnan.


Aku dengar dia berdecak, aku pun terkikik sambil menutup mulutku, yes aku berhasil membuatnya kesal.


"Kamu boleh berpenampilan seperti ini setiap pergi kemanapun, kamu boleh memamerkan kemolekan tubuhmu pada pria di luaran sana, kamu bebas memakai pakaian yang memperlihatkan auratmu yang kalau menurut bahasamu seksi, tapi ada syaratnya," ucap Adnan.

__ADS_1


"Ngatur kamu ya," ucapku kesal.


"Aku berhak mengatur mu karena sekarang statusmu istriku," jawab Adnan tegas.


"Iya...iya pak ustadz aku faham, terus apa syaratnya?" ucapku kesal karena Adnan lagi lagi mengingatkan statusku yang sekarang telah bersuami.


"Kamu harus telanjang setiap kali ada aku di kamar ini," ucap Adnan enteng.


Aku pun menelan ludah dan melotot ke arahnya ketika mendengar Adnan mengatakan kata kata telanjang dengan entengnya.


"Eh gak mau...gak bisa seperti itu aturannya," ucapku kesal.


"Kenapa gak bisa? toh kamu istri saya jadi halal bagi saya untuk melihat kamu tanpa pakaian, menyentuhnya atau pun memasukan itu halal hukumnya," ucap Adnan santai tanpa beban.


Berbeda denganku yang mendengar kalimat ambigu seperti itu keluar dari mulut Adnan membuatku bergidik ngeri membayangkan yang iya ...iya.


"Kamu sangat mengerikan," ucapku sambil bergidik ngeri.


"Kamu baru sadar kalau aku bisa menjadi sangat mengerikan ya? sekarang terserah kamu mau ganti pakaianmu dengan pakaian yang lebih sopan atau nanti malam siap siap tidur telanjang," ucap Adnan.


Aku pun mundur karena ngeri mendengar ucapan Adnan yang semakin tanpa filter itu. Aku menatap bayanganku di cermin meja rias menurutku pagi ini penampilanku sangat menawan apalagi bagian perutku yang rata terekspos tindik berlianku di pusar menambah keseksian tapi si ustadz ini malah memberikan syarat yang mengerikan jika aku masih berpenampilan seperti ini.


Aku pun menghela nafas berat dan akhirnya setuju dengan perintah Adnan.


"Baiklah aku akan berganti pakaian tapi jangan paksa aku untuk memakai kerudung," ucapku kesal.


"Baiklah untuk sementara aku akan tolelir kamu belum mau memakai jilbab, tapi setiap kali kamu keluar rumah bersamaku atau tanpa aku wajib memakai pakaian yang sopan, kalau kamu menuruti perkataanku aku akan membebaskanmu dari kewajiban dan aku tidak akan memaksakanmu untuk memberikan hakku hingga kamu bersedia memberikannya sendiri tapi jika kamu berpenampilan seperti ini lagi tanpa segan-segan aku akan segera merampas apa yang menjadi hak ku," ucap Adnan tegas.

__ADS_1


Aku bergidik ngeri ternyata suami ustadzku ini bisa bersikap mengerikan seperti ini, sungguh aku tidak menyangka.


__ADS_2