
Tapi bukan Sabila namanya kalau mau menyerah begitu saja dengan Adnan, di Kamis Sabila tidak semudah itu menyerah.
"Pak Ustadz aku mau tanya boleh?" ucap Sabila sok kalem.
"Kamu nanya? kamu bertanya-tanya?" ucap Adnan malah ngajak bercanda.
"Ih apaan sih aku serius ini," ucapku kesal.
"Aku juga serius Sabila kamu mau bertanya apa?" ucap Adnan mengubah wajahnya ke mode serius.
"Tadi kan kamu ngomong soal hak, kalau boleh tahu apa hak yang kamu maksud?" ucapku pura pura tidak mengerti aku ingin tahu bagaimana dia menjabarkan tentang hak yang dimaksud tadi, apakah dia akan mengatakan dengan fulgar atau malah diam tidak punya kata kata untuk menjelaskan.
"Hak yang aku maksud tadi adalah hak untuk melihat bahkan menyentuh seluruh tubuhmu mulai dari ujung kaki sampai ujung rambut," ucap Adnan.
"Eh sejak kapan kamu punya hak seperti itu? toh sekarang sudah tidak lagi jamannya perbudakan ya! sekarang jamannya emansipasi wanita jadi tidak boleh seenaknya memonopoli seseorang," ucapku sok bodoh.
"Sabila kamu jangan berlagak sok bodoh ya! atau jangan-jangan kamu memang bodoh!" jawab Adnan yang sukses membuatku memelototkan mata, enak saja dia bilang aku bodoh padahal bener juga sih ucapannya kadang kadang aku juga suka tidak nyambung kalau diajak bicara apalagi kalau sudah mengurus ke agama sudah nol tidak bisa berkutik aku.
"Baiklah untuk mengurangi kebodohanmu, aku akan menjelaskan sedikit!" lanjut Adnan.
"Seluruh tubuhku mulai dari ujung kaki sampai ujung rambut sudah menjadi milikku semenjak Ahad nikah terucap, jadi tidak ada seseorang yang bisa dan boleh melihatnya selain aku, begitu pula sebaliknya apa yang ada di tubuhku mulai dari ujung kaki sampai ujung rambut menjadi hak mu, menjadi milikmu tidak ada satu orang pun yang bisa melihat atau menyentuhnya selain kamu, jadi apa yang ada di tubuh kita hanya kita yang memang seharusnya tidak boleh diperlihatkan pada orang lainnya hanya kita berdua yang di halalkan untuk melihat satu sama lain," ucap Adnan menjelaskan.
"Oh begitu," ucapku mengangguk angguk seakan-akan aku mengerti penjelasannya padahal aku hanya pura pura saja.
"Jadi kalau aku memakai pakaian tertutup maka kamu akan membebaskan aku dari kewajibanku sampai aku mengijinkannya begitu maksudmu?" tanyaku.
"Ya," jawab Adnan mantap.
__ADS_1
"Walaupun aku menyentuhmu kamu juga akan tahan tidak menyentuhku jika aku belum mengijinkan?" tanyaku sambil berjalan maju mendekati Adnan yang berjalan mundur hingga tubuhnya membentur tembok.
Aku pun dengan jahil menyentuh wajah, lalu turun ke leher Adnan dengan memasang wajah menggoda, aku lihat Adnan meneguk ludah dengan susah payah, wajahnya memerah bahkan aku pun merasakan kalau tubuhnya bergetar mungkin ini untuk pertama kalinya Adnan di sentuh wanita seperti ini karena tubuhnya bereaksi sangat cepat.
"Kenapa Pak ustadz? gerah ya kok wajahnya memerah seperti itu?" godaku dengan suara yang aku buat seseksi mungkin.
"Sabila hentikan! atau kamu akan membangunkan sisi lain dariku," ucapnya dengan suara bergetar.
"Oh aku ingin lihat bagaimana sisi lain dari mu Pak ustadz toh kamu sudah berjanji untuk tidak menyentuhku sebelum aku mengijinkannya," ucapku terus menggoda Adnan.
Ketika aku ingin mengecup leher Adnan ringan tiba tiba sebuah teriakan menghentikan aktivitasku.
"Sabila...Adnan...lama sekali kalian kenapa tidak keluar- keluar ini Bunda mau masak Nak takut gak keburu," teriak Bunda dari ujung tangga.
Aku pun menghentikan aktivitasku dan dengan enteng menarik tangan Adnan mengajaknya keluar.
Aku menatap Adnan kaget karena aku rasa tangan Adnan sangat dingin aku pun menatapnya.
"Loh kenapa itu tangan kok dingin banget?" tanyaku.
Adnan pun segera melepaskan tangannya dari genggamanku.
"Efek Baru saja di goda makhluk dunia lain," jawabnya sambil berjalan mendahului ku.
Aku pun cekikikan mendengar jawaban Adnan, yes kali ini aku menang. Aku pun berjingkrak jingkrak kegirangan di belakang Adnan sambil tertawa.
Adnan tiba-tiba berhenti di depan pintu dan menoleh menatapku tajam.
__ADS_1
"Sabila...," ucap Adnan.
Aku pun menghentikan aktivitas kehilanganku ketika mendengar ucapan Adnan yang penuh penekanan.
"Jangan lupa pakai itu jaket yang ada di kursi kalau kamu tidak mau nanti malam telanjang di depanku," ucapnya lalu keluar mendahuluiku.
Aku pun menghentakkan kaki kesal dengan Adnan yang lagi lagi berhasil membalasku, mau tidak mau pun akhirnya aku mengambil jaket itu dan memakainya demi keamananku nanti malam, setelah memakai jaket itu aku pun segera keluar menyusul Adnan untuk mengambil catatan belanja.
Kami berdua menuruni anak tangga dan segera menghampiri Bunda Nirmala yang sudah menunggu kami dengan catatan yang bertuliskan berbagai macam bahan yang sama sekali aku tidak tahu bagaimana bentuk dan rupanya.
"Nanti setelah kalian mengambil kue pesanan Bunda tolong sekalian belanjakan yang sesuai di catatan itu ya," ucap Bunda sambil menyerahkan uang untuk belanja.
"Bun kok banyak sekali yang dibeli," ucapku.
"Iya kan keluarga Bara akan datang kemari sekalian kita jamu masak iya mereka harus makan di warteg sih Sa! kasihan mereka jauh jauh kesini," ucap Bunda.
"Hehehehe iya ya Bun! ini kamu saja yang pegang aku kan tidak tahu bentuk dan rupa semua makhluk yang ada di catatan ini," ucapku sambil cengengesan menyerahkan catatan dan uang dari Bunda pada Adnan.
"Nak Adnan tolong sekalian nanti kamu perkenalkan semua bentuk dan nama bahan dapur pada Sabila, soal cara memasak Bunda janji akan mengajarinya jadi nanti kalau kamu membawanya kembali ke Jakarta dia sudah bisa menjadi istri yang sempurna yang sudah bisa menjalankan semua kewajibannya," ucap Bunda pada Adnan.
"Aku kan ratu Bun di rumah tangga, jadi aku tidak menyentuh dapur, lagian Adnan kan lebih suka punya istri yang pintar mijit daripada pintar masak, iya kan?" ucapku sambil menyenggol lengan Adnan dan aku kedipkan mata nakal ini menggoda Adna yang hanya di balas dengan senyuman oleh orang yang aku goda dan aku lihat Bunda pun geleng geleng kepala karena tingkahku.
"Wah...wah kalian so sweet sekali," tiba-tiba suara cempreng Nabila terdengar dari arah belakang kami.
"Wah sepertinya aku mendengar bisikan siluman," ucapku sambil mengelus leherku aku berekting seakan akan aku merinding karena merasakan kehadiran makhluk astral.
"Aku merasakan kehadiran makhluk halus di sini, ayo kita segera pergi!" ucapku sambil menarik tangan Adnan mengajaknya untuk segera meninggalkan tempat itu karena kalau aku tetap di sini bisa di pastikan acara buli membully akan tiada habisnya kalau Nabila sudah ikutan bicara.
__ADS_1
Aku sempat melirik ke arah Nabila sebelum meninggalkan ruangan itu dan aku lihat Nabila kesal karena aku segera berlalu pergi ketika dia baru akan mulai membully dan Bunda pun tersenyum melihat tingkah kami.