
"Aku serius, Nabila!" ucap Sabila setengah berteriak karena kesal dengan sahabatnya ini. Saat dia ingin serius malah tetap saja dia goda.
"Ha-ha-ha aku juga serius, Sabila!" ucap Nabila masih cekikikan.
"Tau ah! Aku sebal sama kamu, Na! Teman bingung masih saja dibercandain, ngerti begitu tadi aku gak cerita sama kamu," ucap Sabila pura-pura merajuk.
"Eits merajuk dia! sudah seperti perawan pula kau ini!" ucap Nabila masih menggoda Sabila.
"Na... tolong serius kenapa! aku ini benar-benar dilema," ucap Sabila mengiba. Saat ini Sabila benar-benar bingung, dia ingin segera memberikan hak Adnan. selain memang itu sudah menjadi kewajibannya dan dia takut dosanya semakin bertambah, jujur saja Sabila juga takut Adnan mulai jenuh menunggunya dan akhirnya memilih untuk pergi meninggalkan dirinya dengan mencari wanita lain diluaran sana. Sabila yakin diluar sana banyak wanita yang lebih baik dari dirinya yang bersedia dengan senang hati menjadi istri Adnan. Sabila tidak mau sampai itu terjadi karena Sabila mulai bisa menerima kehadiran Adnan, dia sudah mulai jatuh hati pada pria yang sebelumnya dia katakan bukan tipenya itu.
"Berikan aku ide yang masuk akal, Na!" ucap Sabila. Kini nada bicara Sabila terdengar benar-benar frustasi.
"Katakan padanya terus terang, Sa! Katakan kalau kamu sudah bersedia menjalankan kewajibanmu," ucap Nabila.
"Tapi aku malu, Na!" ucap Sabila lirih.
"Sabila... Sabila sekarang kamu benar-benar telah berubah jadi Ukhti ya! Karena setahuku Sabila yang sosok kunti itu tidak pernah mengenal rasa malu atau sejenisnya, dia akan masa bodo dengan apa yang dia kerjakan yang penting dia happy dan tidak melanggar aturan," ucap Nabila mengompori sahabatnya itu.
"Bukan begitu konsepnya, Na! Ini beda cerita, kalau dulu aku melakukan sesuka hati kan tidak ada hubungannya dengan hal seperti ini! masalah ini sangat sensitif dan privasi," ucap Sabila.
__ADS_1
"Semua terserah kamu, Sa! Bagaimana caranya aku tidak bisa memberikan contoh atau tutor intinya kalau kamu benar-benar sudah ingin memberikan hak pada Adnan maka segerakanlah! Jangan mengulur waktu, selain semakin menambah dosamu bisa juga kalau kamu terlalu lama menundanya maka dia akan jenuh menunggu hingga akhirnya dia pergi meninggalkanmu dan mencari pengganti," ucap Nabila.
Sabila terdiam setuju dengan apa yang dikatakan oleh Nabila, memang ini sudah waktu yang cukup lama Sabila menggantungkan hak Adnan, Sabila seharusnya sudah memberikan apa yang seharusnya dia berikan pada Adnan karena dia telah menerima Adnan sebagai suaminya sejak saat ahad nikah diikrarkan.
"Baiklah Na aku akan mencoba untuk mencari cara bagaimana aku mengatakan ini semua pada Adnan! Walaupun sebenarnya aku masih bingung dan malu," ucap Sabila.
"Bagus, Sa! Aku yakin kamu bisa, jika ada niat baik pasti Tuhan memberikan jalan, Allah akan mempermudah semua urusanmu, bismillah saja!" ucap Nabila menyemangati sahabatnya.
"Ternyata Bara telah berhasil membuatmu seperti pendakwah ya, Na!" ucap Sabila cekikikan.
"Ihhh kamu, Sa! Menghancurkan suasana saja! Sudah aku tutup dulu menghabiskan pulsa saja! Sudah sana cepat pikirkan bagaimana caranya kamu mengatakan, unboxing aku bang pada Adnan," ucap Nabila cekikikan dan segera mematikan sambungan telepon tanpa mengucapkan salam karena dia takut kena amukan Sabila.
"Dasar demit! Aku yang nelfon dia ngomong takut pulsa dia habis, memutuskan sambungan telepon tanpa mengucapkan salam lagi! Dasar Nabila somplak!" gerutu Sabila seorang diri.
Setelah beberapa kali menyusuri website google dan sebagainya akhirnya Sabila mengambil kesimpulan sendiri atas apa yang dia baca, Sabila ingin mempraktekkannya nanti soal hasil dia serahkan pada yang kuasa tapi jika gagal entah dia berani menatap wajah Adnan lagi entah tidak karena saking malunya.
Sabila pun segera bangkit dari posisinya, dia bergegas memasak untuk makan Adnan dan dirinya, khusus hari ini Sabila mau memasak makanan favorit Adnan, Sabila sekarang tahu apa saja makanan kesukaan Adnan karena dia sering ngobrol dengan juru masak yang ada di pesantren yang dulu sering membuat makanan untuk Adnan.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya Sabila pun segera mandi dan bersiap-siap untuk menyambut kedatangan Adnan. Dia ingin terlihat cantik saat Adnan datang nanti. Suara deru mesin mobil pun memasuki halaman rumah yang selama ini menjadi tempat tinggal Adnan dan Sabila, wanita itupun tersenyum bahagia saat mendengar suara deru mesin mobil tidak seperti biasanya perasaannya hari ini bercampur aduk antara bahagia, deg degan, dan juga takut. Sabila berjalan menuju pintu dan menyambut kedatangan suaminya dengan senyuman yang jarang sekali dia perlihatkan selama ini.
__ADS_1
Adnan tidak lama pun turun tapi Sabila merasa ada yang aneh sekilas dia melihat bayangan seseorang didalam mobil itu selain bayangan Adnan seperti dikursi penumpang sebelah kemudi ada seseorang yang duduk disana.
Dugaan Sabila benar, setelah Adnan turun selang dua menit pintu samping mobil terbuka dan tiba-tiba turun sosok gadis cantik yang usianya lebih muda dari Sabila, hati Sabila terasa remuk rendam pikiran yang tidak-tidak datang menghantui pikirannya.
'Siapa wanita cantik itu? Apakah dia wanita lain yang dibawa pulang Adnan untuk dijadikan istri keduanya karena aku tidak kunjung memberikan hak kepadanya?' ucap Sabila dalam hati.
Tanpa dia sadari kini Adnan sudah berada di depannya karena sibuk melamun Sabila tidak sadar kalau Adnan telah berada didekatnya saat ini.
"Loh kok malah bengong! Kesambet ya! Sabila Assalamualaikum!" ucap Adnan sambil melambaikan tangannya di depan wajah Sabila.
Sabila pun segera tersadar dari lamunannya.
"Waallaikum salam," ucap Sabila yang masih terdiam terpaku ditempatnya.
Adnan merasa sedikit kecewa dia berharap kalau saat ini Sabila meraih tangannya dan mencium punggung tangan itu seperti tadi pagi tapi ternyata itu hanya harapan hampa Adnan saja.
'Mungkin tadi pagi Sabila kesambet jin istri shalihah jadi tanpa ada angin dan tanpa ada hujan berlaku semanis itu nyatanya sekarang dia kembali seperti semula, seandainya aku boleh meminta aku lebih suka istriku kesambet jin istri shalihah setiap hari biar hidupku ada manis-manisnya gitu,' Ucap Adnan dalam hati.
"Oh ya Sabila kenalkan ini Humaira! Dia,_
__ADS_1
"Ayo masuk aku sudah menyiapkan makanan kalian pasti capek dan lapar!" ucap Sabila yang segera berlalu meninggalkan kedua orang itu masuk ke dalam rumah setelah memotong apa yang akan dikatakan oleh Adnan. Sungguh Sabila belum sanggup jika harus mendengarkan kabar berita kalau wanita cantik didepannya itu adalah calon madunya.
Adnan dan wanita cantik itu pun saling pandang hingga akhirnya mereka pun memutuskan untuk mengikuti Sabila masuk ke dalam rumah dan akan mengatakan siapa Humairah itu sebenarnya nanti setelah mereka makan malam.