
"Orang seusia kami ini sekarang tinggal menikmati sisa umur sambil momong cuci, makannya kalian nanti segera beri kami cuci," ucap Bunda sambil tersenyum.
Aku melirik Adnan yang tersenyum tipis sambil menuangkan tumis bayam ke dalam piringnya.
"Mari makan! aku mau coba tumis bayam yang disiapkan istriku dulu," ucap Adnan tersenyum dan menatapku sekilas sebelum memasukkan sesendok nasi campur sayur bayam ke mulutnya.
Nabila yang melihat itu pun ikut senyum-senyum sambil menyenggol tanganku.
"Kode itu Sa!" ucap Nabila sambil cengengesan.
"Ogah... pokonya nanti malam aku mau tidur di kamar kamu Na!" ucapku.
"Oh tidak bisa aku akan mengunci pintu kamarku rapat -rapat," sahut Nabila sambil menaik turunkan alisnya.
"Kita lihat saja nanti aku pasti bisa masuk ke kamarmu," ucapku.
Keluarga Bara pun pamit untuk kembali ke Jakarta untuk mempersiapkan apa yang di butuhkan untuk pernikahan Bara dan Nabila.
Dan Nabila pun menepati omongannya, dia semenjak masuk kamar langsung mengunci pintu kamarnya dan tidak lupa tulisan yang sama dia gantungkan di pintu kamar. Aku pun berdecak sebal kenapa ini temanku jadi pelit banget kalau aku mau tidur di kamarnya tidak boleh.
Akhirnya mau tidak mau aku pun kembali ke kamar, aku lihat Adnan berbaring di sofa sambil membaca buku entah buku apa yang di bacanya dia terlihat sangat serius dan asyik sekali membacanya.
"Kok belum tidur?" tanyaku sambil berdiri di samping ranjang dekat sofa tempat Adnan berbaring.
"Kamu sendiri juga belum tidur," ucapnya.
"Ckkk.. Nabila mengunci kamarnya aku tidak diperbolehkan tidur di sana," ucap Sabila kesal.
"Benar tuh Nabila...lagian kamu sudah punya kamar ada temannya pula masih pingin tidur di kamar orang," ucap Adnan tanpa berpaling dari bukunya.
"Ih berisik kamu! lagian apa sih yang kamu baca serius amat," ucapku sambil ingin melihat buku apa yang sedang di baca Adnan tapi dengan cepat Adnan menyembunyikan buku itu di belakang punggungnya.
Aku yang penasaran pun berusaha merebut dan ingin melihatnya tapi Adnan berhasil menyembunyikan buku itu di belakang punggungnya dan aku pun tidak bisa mengambilnya.
__ADS_1
"Lihat kenapa sih pakai di sembunyikan segala!" ucapku kesal.
"Kalau mau lihat dan baca buatkan aku bubur ayam dulu setelah itu aku akan pinjamkan buku ini dan mengajarkan cara melakukannya juga," ucap Adnan sambil tersenyum misterius.
Aku yang dasarnya orang yang suka penasaran pun merasa terpancing dengan sikap Adnan, aku semakin merasa penasaran tentang buku itu tapi aku tidak mau terlihat kalah di hadapan Adnan.
"Ogah buat saja sendiri," ucapku kesal.
"Beneran gak mau? yakin gak penasaran sama buku ini?" ucap Adnan sambil menaik turunkan kedua alisnya.
Aku pun terdiam sejenak sebenarnya aku memang sangat penasaran dengan apa yang sedang di baca oleh Adnan tapi jujur aku tidak bisa masak bubur ayam, tapi demi buku itu aku pun nekad menyanggupi permintaan Adnan.
"Baiklah aku buatkan," ucapku sambil mengerucutkan bibirku.
Aku melangkahkan kakiku menuju dapur sebenarnya aku sangat malas untuk memasak selain aku tidak begitu tahu caranya aku juga tidak tahu nama-nama bumbunya dapur jadi aku tidak mau ambil pusing lebih baik aku pesan makanan liwat gofood saja.
Sesampainya di dapur aku pun segera mengambil panci untuk memasak bubur ayam sesuai permintaan Adnan, demi menuntaskan rasa penasaranku aku rela memasak untuk Adnan.
Aku pun segera menuang air yang cukup banyak dan menyalahkan kompor menunggu air itu panas, aku pun berjalan menuju rak di mana tempat beras di simpan, aku mengambil beras lalu memasukkannya ke dalam air yang sudah panas.
Aku pun mengangkat bubur beras itu lalu memasukkan ke dalam piring yang sudah aku siapkan lalu aku taburi ayam suwir yang ada di dalam tudung saji makanan di atas meja sisa perjamuan tadi.
"Astaga kenapa warna bubur ayam ini berubah hitam begini sehitam cintaku padamu,hehehe," gumamku sambil cekikikan.
"Kira -kira ini bisa di makan apa gak ya? ah bodo amat yang penting aku sudah memasakkan bubur ayam terserah bisa di makan apa gak yang penting aku sudah memenuhi permintaannya dan dia harus memberikan buku itu," ucapku sambil melangkahkan kaki menuju kamar membawa mie itu pada Adnan.
Aku pun tersenyum dan berjalan menghampiri Adnan, aku merasa senang sebentar lagi aku tidak akan penasaran lagi dengan apa yang sedang di baca Adnan tadi.
"Adnan ini bubur ayamnya sudah jadi," ucapku sambil menaruh bubur hasil karyaku tadi di meja di depan Adnan.
Adnan pun menatap piring itu dengan tatapan horor.
"Apaan ini, Sa?" tanya Adnan sambil menggeser bubur dengan sendok yang dipegangnya.
__ADS_1
"Bubur ayamlah! katanya tadi kamu minta di masakkan Bubur ayam," ucapku kesal.
"Kok penampilannya aneh begini seperti rumah kebakaran," ucap Adnan sambil tersenyum.
"Sudah penting kan aku sudah memasaknya sini bukunya," ucapku.
"Tunggu sebentar aku akan foto dulu bubur ajaib ini, apa IG mu aku mau tandai," ucap Adnan sambil memoto mie hasil masakanku tadi.
"Apaan kamu mau membuat aku malu karena tidak bisa masak?" ucapku kesal.
"Tidak malah aku bangga dan merasa senang karena sudah di masakkan istri jadi aku akan pamer di media sosial," jawab Adnan sambil tersenyum.
"Kalau kamu sampai berani mengunggah foto bubur itu dan menandai IG ku akan ku cekik kamu," ucapku ketus.
"Idih istriku menyeramkan," ucap Adnan sambil cengengesan.
Pipiku pun memerah setiap kali mendengar Adnan memujiku, aku jadi salah tingkah dan ada rasa seperti sengatan listrik di dalam dada ini.
"Apaan sih kamu," ucapku sambil memalingkan wajahku ke arah lain.
"Masih penasaran dengan buku ini apa tidak?" tanya Adnan sambil menunjukkan bukunya padaku dan aku pun segera mengambilnya dan membaca judul buku itu.
"Jimak'
Sepertinya aku pernah mendengar kata ini tapi kapan dan dimana aku lupa.
"Gimana sudah tahu? atau mau aku kasih tahu sekalian praktek?" tanya Adnan.
"Praktek?" tanyaku sambil mengingat-ingat apa itu jimak.
"Iya praktek... kita praktekkan di sana," ucap Adnan sambil menunjuk tempat tidur.
Aku pun tiba-tiba ingat dengan apa yang di jelaskan Adnan waktu malam Jumat kemarin aku pun menatap Adnan horor
__ADS_1
"Ogah" teriakku.
Aku langsung berlari ke tempat tidur dan menutup seluruh tubuhku dengan selimut.