
Tanganku memegang resleting celana, gerakanku lambat, antara yakin dan tidak yakin untuk melanjutkan gertakan ini pada Adnan.
"Cepetan Sabila waktu subuh itu sangat pendek!" ucap Adnan lagi.
"Yakin kamu mau melihatnya? nanti kalau kamu bintitan gimana?" tanyaku mengulur waktu.
"Tidak apa aku bintitan yang penting aku sudah benar benar memastikannya," ucap Adnan.
"Ihhh bilang saja kamu mau mesum," ucapku sambil mencebikkan bibirku.
"Ah kamu kelamaan Sabila! bisa bisa waktu subuh terlewatkan, sini biar aku saja yang membukanya," ucap Adnan yang melangkah semakin mendekatiku kini jarak kami hanya tinggal selangkah lagi, Adnan mengulurkan tangannya dan hampir menyentuh resleting celanaku.
Jantungku semakin berdetak kencang sungguh aku belum siap Adnan melihat semua yang ada padaku walaupun aku istrinya. Aku berbohong padanya untuk menghindari ajakannya untuk sholat, aku sudah lupa gerakan maupun bacaan dalam sholat karena aku telah meninggalkan kewajiban itu dalam waktu yang sangat lama dan kini ada orang yang tiba-tiba mengajakku untuk sholat sungguh aku bingung memulai gerakannya dari mana. Tangan Adnan hampir saja menarik turun resleting celanaku dan aku pun berteriak untuk menghentikannya.
"Berhenti! iya aku bohong! aku tidak lagi datang bulan," ucapku akhirnya aku menyerah.
Aku pun menepis tangan Adnan dan berjalan mundur hingga tubuhku membentur tembok.
Adnan pun tersenyum puas.
"Bagus akhirnya kamu ngaku juga, kenapa tidak dari tadi buang buang waktu saja, ayo cepat kita sholat!" ucap Adnan.
"Aku tidak tahu caranya sholat," ucapku.
Hening mengisi kamar ini kami saling bertatapan untuk beberapa saat, Adnan pun. terlihat diam saja.
"Kenapa? kamu menyesal ya punya istri tidak tahu cara sholat? ayo kita pisah saja!" ucapku bahagia.
__ADS_1
"Siapa juga yang menyesal, aku akan seorang suami, tugas aku membimbing dan mengajarkan kamu tentang tata cara sholat, bacaan dan sebagainya, jadi mulai sekarang aku akan mengajarkan fiqih padamu, untuk apa aku menyesal aku malah merasa bahagia setidaknya aku bisa mengamalkan ilmu yang ku dapat untuk membimbing istriku," ucap Adnan santai.
Aku kembali kecewa mendengar jawaban Adnan, aku berharap dia akan marah marah dan berujung kita cerai tapi ternyata dia malah tersenyum bahagia, ini orang hatinya terbuat dari apa sih sulit sekali membuat dia menyerah.
"Ayo kita mulai dari wudhu, cara dan niatnya aku ajari kamu," ucap Adnan.
Aku menatap Adnan heran kenapa ada orang seperti ini, orang yang memiliki ilmu dan wawasan tentang agama yang luas tapi mau menerimaku orang yang hanya berstatus agama Islam hanya di KTP, aku yakin banyak orang orang yang berilmu memilih pasangan yang setara dengannya sama sama memiliki ilmu agama yang memadai untuk menjadi ibu dari anak-anaknya karena konon katanya tempat pendidikan pertama seorang anak adalah ibu, jadi kualitas ibu tergantung dengan bagaimana kualitas seorang ibu dalam mendidiknya. Adnan seorang yang mengerti akan agama dan pandai dalam ilmu umum lalu aku yang seperti ini terus bagaimana nanti anak anak kami?.
Tiba-tiba jantungku berdetak kencang, ketika aku memikirkan tentang anak kami, apakah pernikahan ini akan sampai ke jenjang sejauh itu secara pernikahan ini tanpa di sadari rasa cinta diantara kami.
"Hallo...kok malah bengong kesambet setan pojokan nih orang! ayo cepetan waktu sholat subuh sebentar lagi habis," ucap Adnan sambil melambaikan tangannya di depan wajahku.
Aku pun menggaruk kepalaku yang tidak gatal dan mengikutinya dari belakang menuju kamar mandi.
"Masuk... sebelum wudhu sebaiknya kamu buang air kecil dulu!" ucapnya sambil berdiri di depan pintu kamar mandi.
Aku tersenyum penuh kemenangan ternyata dia malu juga, aku yakin saat ini wajahnya sedang memerah, tadi saja sok-sokan mau membuka celanaku sekarang giliran mau di bukakan dia malah memalingkan wajahnya.
Aku pun masuk kamar mandi dan menutup pintunya, aku punya ide suatu waktu nanti akan menggoda Adnan dengan menggunakan lingerie merah, aku penasaran bagaimana reaksinya nanti jika aku menggunakan baju setan itu di depannya. Aku pun tersenyum membayangkan reaksi Adnan.
"Sabila ... sudah apa belum? cepetan!" teriak Adnan dari luar kamar mandi.
"Iya bawel sebentar!" teriakku.
Aku pun segera membuka pintu kamar mandi dan melihatnya yang sedang berdiri dengan gelisah di depan pintu kamar mandi.
"Keluar dulu kamu Sa! aku mau buang air kecil dulu," ucap Adnan.
__ADS_1
Bukannya keluar aku hanya menyingkir sedikit hingga dia ada jalan untuk masuk kamar mandi, aku tetap berdiri di tengah pintu.
"Buang air saja kamu, aku akan berdiri di sini menunggu," ucapku jahil.
"Keluar Sabila!" ucap Adnan kesal mungkin karena dia sedang menahan sesuatu yang ingin segera di keluarkan.
"Tidak mau aku ingin di sini saja melihatmu membuka celana," ucapku sambil cengengesan.
"Jangan Sabila, cepat keluar! aku khawatir kalau aku sudah membuka celana dan kamu tetap di sini akan berakibat kamu hamil," ucap Adnan sambil tersenyum miring.
Aku bergidik ngeri mendengar ucapan Adnan, aku pun segera keluar dan menutup pintu kamar mandi dengan membantingnya hingga menimbulkan suara yang lumayan keras.
"Ih nyeremin juga si Adnan!" ucapku sambil bergidik ngeri.
Niatnya aku yang ingin mengerjainya tapi malah lagi lagi aku yang kalah.
Aku bergidik ngeri membayangkan bagaimana kalau aku hamil, mulai dari mual-mual, muntah tiap hari, badan lemas, oh tidak aku belum mau merasakan itu, belum lagi sakitnya melahirkan reportnya menyusui dan mengurus anak, oh tidak akan pernah aku ijinkan si Adnan membuat aku hamil, kalau dia berani coba-coba melakukan itu padaku aku akan memotong asetnya yang paling berharga itu.
Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka dan aku pun segera masuk setelah Adnan memerintahkan aku untuk masuk dan akan segera mulai mengajariku tata cara berwudhu.
Entah kenapa pagi ini aku menjadi sosok yang penurut, semua arahan Adnan aku lakukan tanpa membantahnya sedikitpun.
Adnan dengan sabar mengajariku cara berwudhu, gerakan wudhu di mulai dari mencuci tangan hingga gerakan terakhir mencuci kaki, tidak lupa dia mengajarkan niat wudhu padaku, dia beberapa kali mengajarkan dalam bahasa arab tapi aku sulit mengikutinya akhirnya dia pun mengajariku dengan menggunakan bahasa Indonesia, katanya tuhan mendengar dan tahu semua doa walaupun doa itu diucapkan dengan bahasa yang berbeda beda tidak menggunakan bahasa arab saja.
Walaupun wajah ini sudah basah dan terkena air entah kenapa rasa ngantuk tidak hilang malah semakin menjadi.
Aku pun memakai mukena dan berdiri di belakang Adnan yang sedang memakai kopiah hitam, aku beberapa kali menguap sungguh mata ini terasa sangat berat untuk terbuka.
__ADS_1