Mendadak Jadi Istri

Mendadak Jadi Istri
Pergi ke Pasar


__ADS_3

Ini pertama kalinya aku keluar dengan Adnan setelah sah menjadi istrinya, tapi sebenarnya ini untuk kedua kalinya aku berada satu mobil bersama Adnan, yang pertama waktu aku menjemputnya di bandara tapi kali ini beda dia yang mengemudikan mobilnya dan aku duduk di sampingnya seperti seorang istri beneran.


Kami pergi mengambil roti ke toko langganan Bunda dulu dan setelah itu kami melanjutkan ke pasar untuk membeli beberapa bahan masakan yang telah di tulis oleh bunda tadi.


"Kita lanjut ke pasar ya!" ucap Adnan.


Aku pun hanya mengangguk mengikuti dia toh catatan belanja beserta uangnya ada pada dia jadi otomatis aku hanya menemani dia berbelanja saja karena aku pun tidak begitu faham dengan bentuk dan rupa apa-apa yang ada dalam catatan yang bunda tadi berikan.


Kami pun segera melangkahkan kaki menuju pasar tradisional setempat setelah kami memarkirkan mobil di tempat yang aman.


"Eh mbak cantik," sapa tukang sayur langganan Bunda.


"Iya Bu," jawabku sambil tersenyum.


"Ke pasar sama suaminya Mbak?" tanya pedagang sayur itu.


"Iya Bu," jawabku tidak menutupi kenyataan kalau aku pergi ke pasar dengan Adnan yang statusnya suamiku karena kemarin ibu ini juga hadir di acara pernikahanku jadi aku tidak bisa mengelak lagi.


"Ih pengantin baru kok repot - repot pergi ke pasar seharusnya kan kalian sedang asyik bermesraan di kamar secara lagi senangnya jadi pengantin baru," ucap seorang wanita seumuran bunda ikutan nimbrung.


"Iya...ya Bu kenapa juga malah sibuk ke pasar," sahut pedagang sayur itu lagi.


"Kalau di kamar terus bisa kelaparan dong Bu memangnya kami tidak lapar apa," jawabku asal asalan.


"Eh masa merasa lapar? bukannya di kasih jatah sama suaminya? kok merasa lapar," goda ibu yang aku dengar tadi namanya Wati.


"Jatah apaan Bu?" tanyaku tidak faham.

__ADS_1


"Halah ini pura pura polos atau memang tidak ngerti sih pengantin baru ini? itu loh Mbak jatah nafkah batin secara kalau kita happy terus dan merasa melayang kan tidak terasa tuh laparnya," jawab Bu Wati sambil cengengesan.


Aku pun jadi melongo mendengar jawaban Bu Wati ,aku pun melirik Adnan yang wajahnya tanpa ekspresi seakan-akan dia tidak mendengar percakapan kami dia dengan tenangnya memilih sayuran.


"Di kasih jatah tujuh kali dalam sehari Bu," jawabku asal setengah berbisik agar yang mendengar hanya kami bertiga.


Bu Wati dan pedagang sayur itu pun tergelak.


"Semoga cepat hamil ya Mbak, biar tambah bahagia," ucap Bu Wati sambil mengelus tanganku," aku permisi dulu mau lanjut belanja," pamitnya kemudian.


Aku pun bernafas lega akhirnya satu orang julid telah pergi jadi aku aman tidak menanggapi pertanyaan yang berbau tentang jatah pengantin baru.


"Mas tak kasih ini ya biar tambah kuat," ucap Ibu penjual sayur sambil menyerahkan tas kresek yang berisi bayam, daun seledri dan juga daun selada pada Adnan.


Adnan pun menatapku dengan tatapan yang sulit aku mengerti aku pun hanya menanggapinya dengan cengengesan dan menggaruk tengkukku yang tidak gatal.


"Iya Bu makasih," ucap Adnan sambil menerima pemberian ibu penjual sayur itu.


"Semua seratus ribu Mas," jawab ibu itu.


Adnan pun menyerahkan selembar uang ratusan sambil tersenyum dan menganggukkan kepalanya sebagai tanda untuk berpamitan pada ibu penjual sayur itu.


"Eh Mas tunggu dulu!" ucap wanita itu menghentikan langkah kami yang ingin meninggalkan lapaknya.


"Ada apa Bu? apakah uangnya kurang?" tanya Adnan dengan sopan.


"Bukan Mas! ibu cuma mau mengingatkan jangan lupa di makan sayur yang ibu berikan tadi biar tambah strong dan tahan lama biar istrinya makin puas," ucap ibu itu sambil tersenyum.

__ADS_1


"Iya Bu terima kasih, kami permisi dulu," ucap Adnan yang kemudian segera berjalan meninggalkan ibu itu.


Aku lihat wajah Adnan memerah karena malu mendengar perkataan ibu pedagang sayur tadi, aku pun masa bodo sebenarnya tadi aku hanya asal asalan saja tapi malah di tanggapi serius sama ibu ibu di pasar itu.


"Cocok ini dapat bonus dari ibu penjual sayur nanti siap di praktekkan," ucap Adnan yang membuatku kaget setengah mati. Bisa bisanya ini orang menanggapi serius perkataan ibu penjual sayur itu.


"Eh apa maksudnya ini?" tanyaku sambil melotot ke arah Adnan.


Adnan tidak memperdulikan pertanyakanku dia berjalan mendahuluiku tanpa menjawab sepatah katapun, aku pun segera mengejarnya dan mensejajarkan langkah kami.


"Kamu tidak berniat macam-macam kan malam ini?" tanyaku padanya dengan wajah serius.


"Kita ke pasar ikan tadi Bunda menyuruh kita membeli ikan segar," jawab Adnan.


Aku pun semakin kesal karena jawaban Adnan menyimpang dari pertanyaanku.


"Kamu kan sudah janji tidak akan macam-macam padaku sebelum aku mengijinkannya? aku pegang omonganmu jadi kamu tidak bisa melakukan seenaknya laki-laki sejati itu yang di pegang omonganya," ucapku lagi sungguh gara-gara bonus yang di berikan ibu penjual sayur tadi membuatku ngeri dan was-was aku takut kalau malam nanti Adnan benar-benar mempraktekkan apa yang di katakan ibu penjual sayur itu.


"Hemmm," jawab Adnan sambil mengangguk.


Ya Tuhan kenapa ini suami irit banget bicaranya, menjawab iya saja kok enggan banget apa saat ini dia sedang menghemat kuota? apa aku pikir suamiku ini paket data ya? ingin rasanya aku tertawa dengan apa yang ada di otakku saat ini masa suami tampanku aku samakan dengan paket internet.


Aku pun berjalan mengikuti Adnan memasuki pasar ikan sambil clingukan melihat sekeliling yang terdapat banyak sekali macam-macam ikan yang berjajar rapi di meja penjual dan tidak ada satupun dari begitu banyaknya macam ikan yang aku tahu namanya, aku hanya menyebut mereka semua itu ikan tanpa tahu tergolong spesies apa mereka.


"Minggir.... minggir...," aku dengar teriakan dari arah belakangku.


Aku pun segera minggir dan menengok kebelakang, aku lihat dari arah belakangku ada seorang laki-laki yang sedang memikul dua timba besar berisi Ikan.

__ADS_1


Tiba-tiba ketika orang itu ada di sebelahku ada salah satu ikannya yang terjatuh di dekat kakiku ikan itu bentuknya sangat persis dengan ular, aku yang sangat takut dengan yang namanya ular pun secara otomatis langsung berteriak dan Adnan yang kaget mendengar teriakanku pun segera berbalik menatapku, aku pun segera melompat memeluk Adnan dengan sangat erat.


"Adnan...ada kodok itu di bawah kakiku," ucapku sambil menyembunyikan wajahku di dada bidang Adnan. Tanganku memeluk erat leher Adnan dan kakiku aku lilitkan dengan kuat memeluk pinggang suamiku itu mungkin saat ini posisiku sudah sangat mirip dengan koala yang sedang meminta ***** pada induknya.


__ADS_2