
6 bulan tak terasa berlalu, setelah berpikir berkali kali,akupun berencana untuk mencari pekerjaan demi menyambung hidup sehari-hari.
Tak etis rasanya menerima kebaikan Gino
yang bukan siapa siapa bagiku ?"suami bukan, apalagi ada ikatan keluarga.
Meskipun ia adalah ayah dari Hana,
buah dari kebodohan ku, yang begitu saja percaya pada Hayden.
Hana nampak makin cerdas dan cantik,ku meneliti wajahnya dari hidungnya yang mancung dan matanya yang terbilang sipit seperti tergambar wajah Gino.
"Akh' ada apa?" kok,aku teringat dengan tatapan Gino dan senyumnya yang menawan itu, batinku berdialog.
"Ma... Om Gino ?"
"kok, belum datang?" tanya Hana sambil berdiri didepan pintu rumah ku.
"Hana.. Om Gino mungkin banyak kerjaan jadi Gak sempat nemuin Hana, ucapku berharap agar Hana mengerti.
"Oh' Om kerja biar Hana bisa makan, "ucapnya sambil tersenyum padaku, belum aku menimpali ucapan nya
Mobil sedan metalik berhenti didepan rumah ku.
"itu om Gino datang!" teriaknya sambil melihat kearah mobil mewah itu ,ia langsung berlari menyongsong Gino.
__ADS_1
Hana pun sudah digendong oleh Gino sesaat ia keluar dari mobilnya.
Ia menatapku dengan tatapan mata mengodaku,apa Aku?"
"udah cocok jadi papa nya Hana, ujarnya mengulas senyum kecil padaku.
"50% nya pantes Ucapku diselingi dengan senyum kecil ,lah kok?" cuman 50 ngasih 100 dong, "sungutnya menatap kearah ku.
"Katakan padaku !" biar aku dapat angka 100% dimatamu ujarnya dengan nada serius tak seperti tadi.
"Udahlah !" cukup celotehan mu, sambut ku seraya masuk kedalam rumah, tetapi tanganku keburu dipegang oleh nya.
"Kamu tak boleh pergi sebelum menjawab pertanyaan ku tadi, tegasnya padaku.
"lepaskan tanganmu, kalo tidak aku?"ucapku berjeda berharap ia mengerti.
berteriak, silahkan!" aku tak takut dan sama sekali tak peduli dengan ancaman mu, "ujarnya makin buat hatiku memanas.
Malahan aku senang kalo warga desa memergoki kita, lantas kita akan dinikahkan, "apa itu yang kamu mau!
ucapnya dengan nada memojokkan ku.
Wah'Gawat jika aku berteriak bisa bisa benaran aku dinikahkan dengan pria baik tapi pemaksaan ini batinku berkomentar.
Malam ini mataku tak bisa tidur, mengingat kembali perkataan Hayden padaku,
__ADS_1
begitu miris nasibku batinku mengeluh.
Gedoran dipintu mengejutkan ku, rasa takut menyelinap hatiku,buka tidak ?"kalo tidak aku dobrak pintu ini, "ujar suara diluar sana.
"hei... orang mabuk!"
"kamu salah rumah,rumah mu disitu, "ujar bapak bapak yang kutahu Pak Brata tetangga sebelah rumahku.
Akupun bernapas lega ,aku mencoba untuk tidur melupakan semua beban pikiran yang mendera hatiku.
Aku membawa Hana berjalan menuju jalan raya,menanyai toko hingga warung yang tengah berjualan dikiri kanan jalan.
Peluhku membasahi wajahku, Hana tak banyak bertanya seakan memahami kondisiku saat ini,
senyum nya melalukan lelah ku.
Sudah beberapa kali ku menanyai toko dan warung gorengan,mungkin ada yang membutuhkan tenaga kerja tetapi jawaban yang kutrima mengecewakanku.
"Hana cukup saja' hari ini ucapku menatap sedih wajahnya.
"ma...kenapa?"papa ninggalin kita,apa Hana buat papa marah tanyanya padaku.
"Entahlah... Hana, Mama juga gak tahu kenapa?"ujarku sambil menatapnya sayu.
Akupun tiba dirumah , mataku mendapati sosok Hayden didepan rumah,tentu saja ia bersama Tasya kekasihnya.
__ADS_1
Akupun membuka pintu rumah dan membawa Hana masuk kedalam rumah tanpa memedulikan tatapan mata Hayden dan Tasya mencibir keadaan ku.