
Abra terus melihat ke arah Bella yang sedang ditarik-tarik oleh seorang wanita, mereka masuk dan duduk disudut ruangan tanpa mengetahui keberadaannya.
"Sayang, apa kau mendengarku?"
Stefy merasa sangat kesal, dia sudah seperti radio rusak yang sama sekali tidak dipedulikan oleh laki-laki itu.
"Aku mau ke toilet!"
Abra bangun dan berjalan ke arah para karyawannya, dia menatap intens ke arah mereka tapi tidak ada satu pun yang menyadarinya.
"Rita, makanan di sini mahal-mahal semua loh. Kamu yakin mau bayarin semua orang?" bisik Bella, matanya saja hampir keluar saat melihat harga-harga yang tersemat dimenu restoran itu.
"kau tenang saja, Bella! Kalau uangku gak cukup, tinggal jual ginjal aja!"
"Dasar!"
Bella mencubit lengan Rita membuat wanita itu mengadu kesakitan, setelahnya mereka kembali heboh memilih makanan dan minuman yang akan mereka makan.
Abra yang baru keluar dari toilet, tidak sengaja berpapasan dengan salah satu lelaki yang ada dalam rombongan Bella. Lelaki itu tampak sedikit terkejut kemudian menyapanya.
"kamu sedang makan di sini juga?" tanya Abra pura-pura tidak tau keberadaan mereka.
"Benar, Tuan! Kami sedang merayakan penyambutan untuk Bella!"
Abra mengernyitkan keningnya saat mendengar ucapan laki-laki itu. "Penyambutan Bella?"
"Benar, Tuan! Dia karyawan baru di perusahaan!"
Abra tersenyum mendengar penjelasan karyawannya itu, dia senang karna semua orang menyambut baik kedatangan wanita itu.
"apa Tuan mau bergabung bersama kami?" tawar lelaki itu kemudian.
Abra terdiam sejenak, tentu dia merasa senang dengan tawaran itu. Namun, bagaimana dengan Stefy? Wanita itu pasti akan mengacaukan semuanya.
"maaf Tuan, jika saya sudah lancang-"
"Tidak, bukan seperti itu! Bisakah kau menunggu sebentar?"
Lelaki itu menganggukkan kepalanya, kemudian Abra segera menelpon sang Kakak untuk memohon bala bantuan.
"Halo?"
"Kak, bisakah kau menolongku dari Stefy?"
Abra langsung saja mengatakan keinginannya saat panggilannya dijawab oleh Soni, terdengar makian dari kakaknya karna merasa direpotkan.
"tolonglah, aku sedang ada urusan penting sekarang!" ucap Abra.
"Baiklah, aku akan menelpon Stefy!"
__ADS_1
Abra bersorak senang saat Soni mengabulkan permintaannya, kini dia bisa bergabung dengan para karyawannya, terkhusus Bella.
Dia lalu menyuruh karyawannya tadi untuk duluan kembali ke sana, karna dia harus menemui Stefy dulu.
"Sayang, kok lama sekali?" tanya Stefy saat Abra kembali duduk di hadapannya.
"antri!" jawab Abra singkat.
"Em ... Sayang, aku harus pergi. Ada sesuatu yang harus aku kerjakan, apa kau tidak apa-apa?"
"Tentu saja, pergilah!"
Stefy langsung cemberut saat Abra tidak menahannya, tetapi sesaat kemudian dia menarik tangan Abra dan mengecup bibir lelaki itu.
"Aku pergi!"
Stefy bangun dan segera keluar dari restoran itu, sementara Abra terus melihatnya sampai wanita itu benar-benar masuk ke dalam taksi.
Setelah memastikan wanita itu pergi, Abra segara beranjak mendekati Bella dan karyawannya yang sedang asyik bersenda gurau.
"Apa saya boleh bergabung dengan kalian?"
Beberapa orang terkejut saat melihat keberadaan Abra, termasuk Bella yang sampai tersedak karna makanan yang ada di dalam mulutnya.
"Uhuk uhuk uhuk!"
Semua orang tercengang melihat apa yang Abra lakukan, sementara Bella langsung meminum air yang Abra beri.
"Te-terima kasih!"
Bella bernapas lega, hampir saja dia tewas saat ada makanan yang nyangkut di tenggorokannya.
"Si-silahkan, Tuan!"
Salah satu dari mereka kemudian mempersilahkan Abra untuk bergabung, dia duduk tepat di hadapan Bella yang memang sedang kosong.
Suasana yang tadinya ribut berubah jadi canggung, mereka semua merasa sungkan dengan Abra, apalagi lelaki itu pimpinan mereka sendiri. Salah-salah, sudah pasti mereka akan ditendang dari perusahaan.
"jangan terlalu tegang, anggap saja saya ini teman kalian sendiri!" ucap Abra, dia tau kalau mereka pasti canggung dengannya.
"Jadi, kalau ada apa-apa Tuan tidak akan memecat kami, 'kan?"
Abra tertawa mendengar ucapan Rita, dan tawanya itu sukses membuat para karyawan wanita terpaku melihat ketampanannya.
"tentu saja tidak, saat ini kan kita sedang tidak bekerja! Jadi, saya tidak akan membawa pekerjaan dalam hal pribadi!"
"Bagus sekali! Kalau gitu, setelah ini ayo kita ronde kedua! Tuan mau kan, bayarinnya?"
Dasar Rita, dia pintar sekali mengambil kesempatan dalam kesempitan. Namun, hal langka seperti ini memang harus dimanfaatkan sebaik mungkin.
__ADS_1
"tentu saja, saya akan membayar semuanya!"
"Yes! Selamat berpesta!"
Semua orang langsung bersorak senang saat mendengar ucapan Abra, sementara Bella hanya menggelengkan kepalanya saja saat melihat teman-temannya.
Setelah keluar dari restoran, mereka semua lalu segera menuju tempat karaoke. Rita sengaja tidak pergi ke klub karna tidak ingin terlalu mabuk, padahal di tempat keraoke itu mereka malah memesan banyak minuman untuk dinikmati.
Abra duduk disudut ruangan sambil memperhatikan para karyawannya yang sedang bernyanyi dan menari, kadang dia tertawa melihat tingkah lucu mereka.
Untuk pertama kalinya dia sedekat ini dengan para pekerjanya, sebelumnya dia hanya memperhatikan dari jauh tanpa pernah berinteraksi dengan mereka.
"Apa Tuan ingin bernyanyi?"
Abra mendongakkan kepalanya saat mendengar suara Bella, wanita itu lalu duduk di sampingnya dengan senyum manis.
"Aku tidak bisa bernyanyi!"
Bella tersenyum, dia lalu memberikan segelas minuman pada lelaki itu. "Sekali lagi terima kasih untuk semuanya, Tuan! Saya bisa mengenal orang-orang baik seperti mereka karna kebaikan anda!"
"Tidak masalah, aku ikut senang saat melihatmu senang!"
Ada sesuatu yang terasa menggelitik hati Bella, tetapi secepat mungkin dia mengalihkan perhatiannya dengan ikut bernyanyi bersama yang lainnya.
3 jam sudah berlalu sejak mereka semua masuk ke ruang karaoke, semua orang sudah terkapar mabuk di atas sofa dan cuma tinggal Abra saja yang masih terjaga.
"Mereka ini benar-benar!"
Abra lalu membangunkan salah satu dari mereka dan menyuruh untuk membangunkan yang lain, tidak berselang lama mereka semua sadar walaupun masih sedikit oleng.
Mereka semua lalu bubar barisan dan pulang kerumah masing-masing, tinggallah Abra dan Bella yang masih di parkiran.
"Apa mau ku antar?" tawar Abra.
Bella menggelengkan kepalanya. "Terima kasih Tuan, lain waktu cari aku lagi ya!"
Abra mengernyitkan keningnya, dia lalu menarik Bella untuk masuk ke dalam mobil karna wanita itu sepertinya benar-benar mabuk.
"Kenapa? Apa anda masih butuh kepuasan dariku?"
Cup, Bella langsung mengecup bibir Abra membuat tubuh laki-laki itu langsung tegangan tinggi.
•
•
•
Tbc.
__ADS_1