
"Apa Tuan baik-baik saja?"
Abra terus diam seperti orang linglung, kabar kehamilan Bella benar-benar mengguncang seluruh jiwa dan raganya.
Soni yang masih ada di tempat itu merasa heran dengan reaksi yang Abra berikan, kini dia mulai berpikir kalau adiknya itu ada hubungan spesial dengan wanita yang saat ini dinyatakan hamil.
"Katakan sesuatu padaku, Abra! Apa kau yang sudah menghamili wanita itu?"
Rafi tersentak kaget mendengar ucapan Soni, begitu juga dengan Dokter yang tadi memeriksa kondisi Bella.
Soni mencengkram kerah kemeja Abra dan memaksa laki-laki itu untuk menjawab pertanyaannya, sementara Rafi berusaha untuk melepaskan cengkraman tangan Soni ditubuh Abra.
"lepaskan, Tuan!"
"Tidak, dia harus menjawab pertanyaanku, Rafi! Jawab aku, Abra! Apa anak itu adalah anakmu?"
Abra mengerjapkan kedua matanya seakan-akan baru sadar dengan apa yang terjadi, dia lalu melihat ke arah Soni yang menatap tajam tepat di depan matanya.
"Jawab aku, Abra! Aku tidak pernah mengajarkan padamu untuk menjadi laki-laki yang tidak bertanggung jawab!"
Bruk!
Soni menghempaskan tubuh Abra dengan kasar sampai menghantam dinding, sementara Abra masih diam karna benar-benar syok dengan semuanya.
"Tuan Abra tidak perlu bertanggung jawab, karna belum tentu anak itu adalah anaknya!"
Tiba-tiba Rafi bersuara membuat Abra dan Soni melihatnya, sementara Dokter yang ada di tempat itu berusaha untuk menenangkan mereka semua.
"Oh, jadi maksudmu dia benar-benar tidur dengan wanita itu, 'kan?"
Rafi terdiam, sementara Abra berusaha untuk menenangkan Kakaknya yang sudah meledak-ledak seperti itu.
"Kak, aku bisa menjelaskan-"
"Kalau memang itu anakmu, akuilah! Jangan habis manis sepah dibuang, Abra!"
Abra terdiam, dia bukannya tidak mau mengakui anak itu. Hanya saja jiwanya masih melayang-layang memikirkan semua yang terjadi, dia tidak pernah mengira kalau Bella akan hamil seperti ini.
__ADS_1
"Tuan, ini tidak seperti yang Tuan pikirkan!"
"Lebih baik kau diam, Rafi! Aku sedang bicara pada adikku!"
Soni menunjuk tepat ke arah Rafi membuat suasana semakin panas, tanpa mereka sadari kalau saat ini Bella sudah berdiri di ambang pintu.
"Tuan Abra tidak salah, Tuan! Dan wanita itu-"
"Sudah cukup, Rafi! Biar aku yang menjelaskan semuanya pada Kakak!"
Abra mencoba untuk menenangkan semuanya, saat ini dia sudah bisa lebih tenang dan akan menceritakan semuanya pada Soni.
"Tidak, Tuan! Tuan tidak perlu bertanggung jawab, karna Bella adalah seorang pela*c*ur!"
Deg, semua orang terdiam saat mendengar ucapan Rafi. Terutama Soni dan Dokter itu yang tampak sangat terkejut, mereka bahkan tidak bisa mengatakan apapun saat ini.
Sementara itu, Bella yang mendengar semua perbedatan mereka merasa sangat hancur. Hatinya terasa sakit seperti ditusuk oleh sembilu, dadanya bahkan terasa sesak seperti tidak ada udara yang bisa masuk dalam organ pernapasannya.
Tubuh yang tadi sudah membaik, kini terasa remuk redam bak dihantam sebuah balok besar. Sekuat tenaga Bella menahan tubuhnya dengan berpegangan pada pintu, air mata sudah tidak bisa ditahan dan jatuh membanjiri wajah.
"Rafi, tidak sepantasnya kau-"
Melihat ekspresi Abra, tentu semua orang langsung berbalik dan melihat ke arah ruang UGD. Betapa terkejutnya mereka saat melihat sosok wanita yang sedang menjadi bahan perdebatan, apalagi melihat wajah sendunya, sudah pasti Bella mendengar semua ucapan mereka.
"No-Nona sudah sadar?"
Dokter itu segera menghampiri Bella dengan gugup, dia langsung meraih tangan wanita itu yang tampak gemetaran.
Bella berusaha untuk mengulas senyum, dia mengusap air mata yang masih membekas diwajahnya.
"Bisa tolong bantu saya ke ranjang, Dokter?"
Dokter itu menganggukkan kepalanya. "Tentu saja Nona, mari saya antar!" Dia lalu menuntun tubuh Bella untuk masuk ke dalam kamar.
Namun, baru beberapa langkah menjauh. Bella merasa kakinya tidak sanggup lagi untuk berdiri membuat tubuhnya terhuyung dan akan jatuh menghantam lantai.
Dengan cepat, Abra berlari menghampiri Bella dan memeluk tubuh wanita itu, membuat Bella tersentak kaget saat tangan kekarnya melingkar diperut wanita itu.
__ADS_1
"Hati-hati!"
Abra langsung menggendong tubuh Bella dan membaringkannya ke atas ranjang, sementara Rafi dan Soni belum beranjak pergi dari tempat mereka saat ini.
"terima kasih!" ucap Bella dengan lirih, dia lalu mencari posisi nyaman untuk berbaring.
Abra merasa sangat canggung saat ini, dia tidak tau harus mengatakan apa dan mulai dari mana untuk membicarakan masalah kehamilan Bella.
"Maaf Dokter, bisakah kita bicara berdua saja?"
Dokter itu menganggukkan kepalanya, sementara Abra merasa diusir secara halus oleh Bella.
"Bella, sepertinya kita harus-"
"Tuan Abra, terima kasih karna sudah mengantar saya ke sini. Sebenarnya saya tidak tau kenapa bisa ada di sini, tapi saya yakin kalau Tuan lah yang sudah menolong saya!" ucap Bella dengan senyum tipis.
Entah kenapa kata-kata Bella itu terasa menyakitkan hati Abra, padahal wanita itu hanya mengucapkan rasa terima kasihnya saja.
Mau tidak mau, Abra beranjak keluar dari ruangan itu, dan Dokter segera menutup pintunya agar bisa bicara berdua dengan Bella.
"A-Abra, bagaimana? Apa, apa kau sudah membicarakannya dengan wanita itu?"
Soni segera menghampiri Abra yang baru keluar dari ruangan, sementara Rafi hanya diam sambil menundukkan kepalanya.
Abra menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Soni. "Apa yang harus aku katakan padanya, Kak? Sepertinya dia sangat tersinggung dengan apa yang kita ucapkan!"
Soni segera membawa Abra untuk duduk, walau hubungan mereka tidak terlalu dekat. Akan tetapi dia sangat menyayangi Abra, dan mereka juga saling tolong menolong jika dalam kesulitan.
"Sekarang Kakak tanya padamu, apa anak itu benar-benar anakmu?"
Abra mendessah frustasi. "Aku tidak tau, Kak! Tapi aku memang melakukan hal itu sebulan yang lalu dengannya!"
"Kemungkinan itu benar-benar anakmu, Abra!"
•
•
__ADS_1
•
Tbc.