
Abra lalu membawa Bella ke taman yang ada di samping rumah sakit, lalu dia duduk di sebuah kursi yang ada di taman tersebut.
"Bella, kita harus-"
"Saya tidak meminta pertanggung jawaban dari Tuan, jadi Tuan tidak perlu memikirkan kandungan saya!"
Abra menghela napas kasar, tidak mungkin dia tidak memikirkan kandungan Bella, sementara anak itu adalah darah dagingnya.
"Jangan berkata seperti itu, Bella! Jelas aku harus memikirkannya, karna itu adalah anak kita, buah hati kita!"
Bella tercengang melihat ke arah Abra, matanya berkaca-kaca dengan apa yang laki-laki itu ucapkan. Dia lalu menundukkan kepalanya, andai hubungannya dan Abra seperti yang lainnya. Sudah pasti mereka akan menyambut kehamilan itu dengan penuh bahagia.
"Bella, lihat aku!"
Abra menggenggam kedua tangan Bella dan memaksa wanita itu untuk melihat ke arahnya, dia lalu menghapus air mata yang menetes dari kedua mata Bella.
"Jangan menangis untuk anugrah ini, Bella! Tuhan telah menghadirkan anak ini di antara kita, itu artinya Tuhan telah mempersatukan kita!"
Bella semakin terisak, dadanya terasa sesak dengan apa yang Abra ucapkan. Mungkin perkataan laki-laki itu benar, hanya saja dia tidak bisa bersama dengan Abra.
"Apakah, apakah kau bersedia menerimaku?"
Bella terkesiap, secepat mungkin dia menarik tangannya dari genggaman Abra membuat laki-laki itu kebingungan.
"ada apa, Bella? Apa kau tidak ingin bersamaku?" tanyanya dengan bingung.
Bella menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku tidak akan bersamamu!"
Abra berusaha untuk kembali menggenggam tangan Bella, walaupun wanita itu menolaknya. "Bella, aku, aku sebenarnya sudah jatuh cinta padamu!"
__ADS_1
Jedar!
Tubuh Bella seperti tersambar petir saat mendengar pengakuan Abra. Dia mematung menatap wajah lelaki itu, jantungnya berdebar-debar tidak terkendali. Ada rasa bahagia di sudut hatinya, tetapi rasa sakit dan sesak jauh lebih besar.
"tidak, anda tidak-"
"ya, Bella! Aku sudah jatuh cinta padamu, walaupun aku sendiri tidak tau kapan itu terjadi. Yang pasti saat ini aku merasa bahagia, aku benar-benar bahagia!"
"cukup, sudah cukup!" Bella berteriak dengan sangat kuat membuat Abra terlonjak kaget, begitu juga dengan orang-orang yang ada disekitar mereka.
"Sudah cukup, Abra! Tolong jangan katakan itu lagi!"
Bella menutup kedua telinganya, dia tidak mau mendengar ungkapan cinta Abra yang terasa menyayat hatinya.
"tapi kenapa? Kenapa, Bella?" tanya Abra tidak mengerti.
"Apa kau tidak ingat, kalau kau akan menikah?"
Benar, apa yang Bella ucapkan adalah benar. Dia tidak ingat tentang pernikahannya, pernikahan yang sudah berada di ujung mata. Pernikahan yang akan digelar 3 minggu lagi, dan jelas semua orang sudah tau mengenai kabar itu. Termasuk Bella dan semua karyawan di perusahaannya.
Bella tersenyum sinis melihat reaksi Abra, sepertinya laki-laki itu benar-benar tidak ingat kalau akan menikah dengan wanita lain.
"Saya harap anda tidak mengganggu saya lagi, anggap saja semua ini tidak pernah terjadi!"
Abra seperti kembali mendapat kesadarannya dan menatap ke arah Bella. "Tidak, jangan mengatakan itu, Bella! Aku, aku benar-benar-"
"Sudah cukup, Tuan! Saya tidak ingin mendengar apapun lagi, tolong lupakan saya! Saya tidak akan mengganggu kehidupan anda, dan anda juga begitu! Hiduplah dengan bahagia bersama calon istri anda!"
Abra terdiam, lidahnya terasa keluh untuk mengucapkan kata-kata. Dia ingin sekali memeluk tubuh Bella, tetapi tubuhnya tidak bisa diajak bekerja sama.
__ADS_1
"Hubungan kita tidak lebih dari sekedar kepuasan semata, anda membayarku, dan aku memuaskan anda. Seperti itulah hubungan kita, tidak ada yang istimewa di dalamnya. Jadi, jika akhirnya seperti ini, maka ini adalah urusanku, dan anda tidak berhak untuk ikut campur, sekalipun ini adalah anak anda!"
Bella segera menggerakkan kursi rodanya dan menjauh dari tempat itu, meninggalkan Abra yang mematung dengan wajah sendu ke arahnya.
Tanpa Bella dan Abra sadari, sejak tadi Soni dan Rafi berada di dekat mereka. Ternyata kedua laki-laki itu belum jadi pulang karna kunci mobil Rafi tertinggal di kursi, mereka memutuskan untuk kembali dan melihat pemandangan menyedihkan itu.
"Tuan, apa Tuan akan diam saja melihat semua ini?" tanya Rafi dengan sedih.
"Kenapa? Bukannya tadi kau sendiri, yang mengatakan kalau Abra tidak perlu tanggung jawab? Dan wanita itu juga tidak mempermasalahkannya!"
Rafi terdiam, dia menyesali segala kata-kata yang keluar dari mulutnya. Dia sudah kepalang emosi saat Soni memojokkan Abra, seakan-akan cuma laki-laki itu yang bersalah, hingga dia tidak sadar mengucapkan kata-kata kasar.
"Kenapa kau diam? Betulkan, yang aku ucapkan?"
Soni tersenyum tipis, dia kini mulai paham dengan apa yang terjadi pada Abra, walaupun belum mendengar penjelasan dari mulut mereka.
"Anda benar, Tuan! Saya memang mengatakan itu, tapi sesungguhnya saya tidak benar-benar menginginkannya! Saya tau kalau Tuan Abra mencintai Bella, tapi amarah yang ada dihati saya membuat saya hilang kendali!"
Rafi menundukkan kepalanya, dia tau kalau Bella pasti sangat sakit hati dengan apa yang dia ucapkan. Dia berjanji setelah ini, dia akan meminta maaf pada wanita itu.
"Sudahlah, semua itu tidak penting! Yang harus dipikirkan sekarang adalah Tuanmu itu, apa yang akan terjadi jika keluargaku tau mengenai hal ini?"
Rafi tersentak, dia belum memikirkan tentang hal itu. Bisa jadi keluarga besar Abra pasti akan sangat marah pada laki-laki itu, dan Bella? Sudah jelas wanita itu juga akan kena imbasnya.
"Selama ini Abra tidak pernah membuat masalah, dan sekalinya membuat masalah, semua akan hancur berantakan!"
•
•
__ADS_1
•
Tbc.