
Soni membawa barang-barangnya ke apartemen yang baru saja dia beli seminggu yang lalu, untung saja dia sempat membelinya sebelum diusir oleh Papa kandungnya sendiri.
Jarak antara apatemennya dan Abra hanya sekitar 300 meter saja, yang artinya masih bisa dijangkau dengan berjalan kaki. Jadi Mamanya nanti tidak akan kesusahan jika ingin ke rumah sang adik.
Soni mengeluarkan semua barang-barangnya, ada 3 buah tas besar yang kebanyakan milik sang Mama. Dia membawa semua tas itu untuk masuk ke apartemen, sangking banyaknya barang itu. Soni tidak sadar kalau menyenggol seorang wanita yang baru saja pulang kerja.
Buk!
"Aw! Hey, berhenti kamu!"
Soni yang sudah mau masuk ke dalam lift terpaksa menghentikan kakinya, dia lalu menurunkan tas-tas itu dan melihat ke arah belakang.
"Dasar, bukannya mau bantuin malah plonga-plongo di sana!" Dengan cepat Rita membangunkan tubuhnya dari lantai, pantatnya terasa sakit karna membentur lantai.
Dia lalu mendekati laki-laki itu dan bersiap untuk memakinya. "Kau, apa kau tidak punya ma ...." Rita menjeda ucapannya karna terkejut saat melihat laki-laki yang sudah menabraknya, bahkan kini kakinya terasa bergetar.
"maaf kalau aku menabrakmu, aku tidak sengaja!"
"Ti-tidak apa-apa, Tuan! Saya yang salah karna tidak berhati-hati."
Soni mengerutkan keningnya mendengar panggilan wanita itu, dia lalu melihat penampilannya dari atas sampai bawah.
Glek. Rita menelan salivenya dengan kasar saat Soni memperhatikannya, tatapan laki-laki itu seolah-olah sedang menelanjanginya.
"kau bekerja di HD Group?" tanya Soni kemudian.
"Be-benar, Tuan! Saya karyawan di divisi pemasaran!" Entah kenapa Rita jadi sangat gugup sekarang, padahal kalau bertemu dengan Soni di kantor, dia tidak akan segugup itu.
"Oh!" Soni langsung membalikkan tubuhnya dan kembali mengangkat barang-barang itu, sementara Rita melihat laki-laki itu dengan bingung.
"Tunggu, apa aku harus membantunya? Tapi, aku canggung sekali!" Rita merasa dilema, dia bingung apakah harus membantu Soni atau tidak. Sampai akhirnya dia memutuskan untuk menolong laki-laki itu, ya itung-itung membantu atasannya sendiri supaya di sayang. Eh ðŸ¤
__ADS_1
"Bi-biar saya bantu, Tuan!" Rita sudah memegang satu tas yang ada di tangan kanan Soni, membuat laki-laki itu menoleh ke arahnya.
"kenapa? aku tidak butuh bantuanmu!" tolak Soni, dia masih kuat untuk mengangkat semuanya sendiri.
"tidak apa-apa, Tuan! Saya juga mau ke apartemen, jadi biar saya bawa sekalian!" ucap Rita kembali, bukannya dia memaksa, tetapi laki-laki itu terlihat sudah kelelahan.
Soni terdiam, dia berpikir sejenak untuk mengiyakan atau menolak tawaran wanita itu. "Baiklah, kau bawa yang ini sama yang ini!" Dia menyerahkan dua tas pada Rita.
Rita menerima tas itu dengan mata membulat sempurna, bagaimana mungkin laki-laki itu memberikan tas yang besar-besar padanya? Sungguh dia baru tau kalau Soni semenyebalkan itu.
Lalu mereka berdua masuk ke dalam lift dan segera beranjak menuju lantai 4, di mana unit apartemen mereka ternyata sebelahan.
"Kau tinggal di sini?" Soni menunjuk tepat ke apartemen yang ada di sampingnya, dan di balas dengan anggukan kepala Rita.
"Benar, Tuan! Saya sudah tinggal di sini sejak setahun yang lalu!"
Soni tercengang, dia tau benar berapa harga yang harus di bayar untuk membeli apartemen itu. Jika wanita yang ada di hadapannya saat ini benar-benar karyawannya, maka sedikit mustahil dia mampu membelinya.
"Benar, Tuan!" Rita menganggukkan kepalanya, walaupun dia merasa aneh kenapa atasannya itu banyak bertanya.
"Kalau gitu ayo, kita susun barang-barang ini!"
Rita tercengang mendengar ucapan Soni. "Tunggu, aku kan cuma membantu untuk mengangkatnya. Kenapa dia menuruhku untuk menyusunnya juga?" Dia kini merasa menyesal karna sudah jadi manusia sok baik.
"kenapa malah diam? Ada banyak kerjaan yang harus kita lakukan!"
"Ba-baik!" Rita segera mengikuti langkah Soni, dan anehnya kenapa dia mau menuruti apa yang laki-laki itu katakan.
Mereka berdua lalu mengeluarkan semua barang-barang yang ada di dalam tas, Rita khusyuk melipat pakaian laki-laki itu sampai tidak sadar kalau sedang melihat pembungkus asetnya.
"Eh!" Rita terkejut saat tiba-tiba Soni menarik sesuatu dari tangannya. "Ada apa, Tuan? Kenapa Tuan mengambilnya?"
__ADS_1
Wajah Soni sudah merah padam sekarang, dia malu karna wanita itu menyentuh segitiganya tanpa merasa risih sama sekali.
"Kau sudah biasa ya, melipat ini?"
Rita langsung menganggukkan kepalanya. "Ya, Tuan! Saya biasa melipatkanya, jadi sini. Biar saya lipat kembali!"
"Cih, dasar wanita mesum!"
"A-apa?" Rita terkejut mendengar apa yang Soni katakan. "Apa maksud anda, Tuan? Kenapa mengatai saya mesum?" Dia merasa emosi, seenaknya saja laki-laki itu mengatakan makhluk paling suci dimuka bumi ini mesum.
"Tentu saja kau mesum, bisa-bisanya kerjaanmu melipat punya laki-laki!" Soni menggerutu sambil membawa semua segitiganya ke dalam kamar, sementara Rita sedang memperhatikan apa yang sedang laki-laki itu bawa.
"Astaga, bukannya itu CD?" Rita jadi panik sendiri, wajahnya memerah karna baru tau kalau yang dia lipat tadi adalah penutup senjata negara.
Pada saat yang sama, Abra dan Bella sedang membantu Mama Sintya untuk duduk di atas kursi roda. Wanita paruh baya itu ngotot untuk pulang, padahal Dokter mengatakan kalau besok atau lusa baru bisa pulang.
"Kami tidak akan bertanggung jawab jika terjadi sesuatu dengan anda, Nyonya!"
Mama Sintya menganggukkan kepalanya. "Terima kasih, Dokter! Anak saya pasti akan menjaga saya dengan baik, jadi anda tidak perlu khawatir!"
Abra dan Bella hanya bisa geleng-geleng kepala saja, lalu mereka segera membawa sang Mama untuk pulang ke apartemen.
Dari kejauhan, Papa Adnan melihat kepergian mereka dengan tajam. Kakinya serasa ingin melangkah untuk mengikuti mereka, tetapi tidak dengan hati dan pikirannya.
"Kalian lihat saja, aku tidak akan membiarkan kalian hidup bahagia selain bersamaku!"
•
•
•
__ADS_1
Tbc.