
Abra mencoba untuk mendorong tubuh Bella, tetapi bukannya menjauh, wanita itu malah naik ke atas pangkuannya membuat Abra tercengang dengan apa yang sedang terjadi.
Bella yang sudah mabuk berat tidak sadar dengan apa yang dia lakukan, bayang-bayang masa lalu saat dia menjadi wanita malam membuatnya melakukan hal seperti ini.
Sekuat tenaga Abra melepaskan ciu*man panas itu dan menahan kepala Bella, dia segera mendudukkan wanita itu dikursi belakang lalu keluar dari mobil.
Napas Abra tersengal-sengal karna ciuman maut Bella, dia lalu menekan hasratnya yang mulai naik akibat goyangan wanita itu.
"Si*al! Untung saja dia pulang bersamaku, kalau sama yang lain dan dia seperti itu. Bisa-bisanya mereka sudah bermain di dalam mobil!"
Abra mengusap wajahnya dengan kasar, setelah merasa lebih baik. Dia kembali masuk ke dalam mobil dan duduk di belakang kemudi, Abra melirik ke belakang untuk memastikan Bella diam di tempat itu.
Setelah melihat Bella tidur, Abra mulai melajukan mobilnya menuju rumah wanita itu. Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, tetapi jalanan masih saja padat membuat mobilnya tidak bisa melaju cepat.
Beberapa kali Abra mengawasi pergerakan Bella, apalagi saat wanita itu mendessah, dia benar-benar hampir gila karna menahan gejolak birahi yang mulai merasukinya.
Beberapa saat kemudian, mereka sudah sampai di halaman rumah Bella. Abra segera menggendong wanita itu dan mendudukkannya di kursi yang ada di teras rumah itu.
"Bella, kita sudah sampai di rumahmu! Cepat buka pintu dan masuk ke dalam!"
Abra menepuk-nepuk pipi Bella, tetapi wanita itu malah bergumam tidak jelas dan kembali terlelap.
"Astaga, bagaimana aku membawanya masuk? Dia benar-benar tidak boleh mabuk lagi!"
Abra lalu membuka tas Bella dan mencari-cari kunci rumah itu, lalu matanya melihat sebuah kertas yang berisi pemeriksaan dari rumah sakit.
Dia mencoba untuk melihatnya, tetapi gerakan Bella mengejutkannya membuat dia kembali meletakkan surat itu.
"Dapat!"
__ADS_1
Akhirnya Abra menemukan kunci rumah yang terselip di antara buku, dengan cepat dia membuka pintunya dan membawa Bella masuk ke dalam.
Abra membaringkan tubuh Bella di atas ranjang, setelahnya dia membuka sepatu dan stoking yang masih melekat dikaki wanita itu.
Dia mendudukkan tubuhnya di pinggir ranjang, matanya melihat ke arah foto-foto Bella dengan seorang anak lelaki yang sangat mirip dengan wanita itu.
"Apa itu adiknya? Lalu, di mana dia sekarang?"
Abra mencoba untuk melupakan sesuatu yang tidak penting itu, dia beranjak bangun dan hendak pergi dari tempat itu.
"Jangan tinggalkan aku!"
Abra terdiam saat tangannya di cengkram oleh Bella, dia lalu melihat wanita itu yang ternyata sudah membuka kedua matanya.
"Kau sudah bangun?"
Bella menganggukkan kepalanya dengan tangan yang masih memegang tangan Abra, dia lalu menarik tangan itu membuat Abra kembali duduk di pinggir ranjang.
"Jangan tinggalkan aku!"
Abra kembali diam, dia tidak tau apakah Bella saat ini sadar atau tidak. Akan tetapi, dia tetap tidak tega untuk meninggalkan wanita itu saat seperti ini.
"Baiklah, aku tidak akan ke mana-mana! Sekarang tidur ya."
Abra mengusap kepala Bella dengan sayang, terlihat wanita itu mulai memejamkan mata walau pegangan tangannya tetap kuat.
Tangan Abra terasa sangat nyaman dikepala Bella, antara sadar dan tidak, tetapi dia menikmati setiap sentuhan yang lelaki itu berikan.
Lama kelamaan, rasa kantuk mulai menerjang kedua mata Abra. Dia berusaha untuk menahannya sampai Bella benar-benar tidur, setelah itu dia baru kembali ke rumah.
__ADS_1
Perlahan namun pasti, kedua mata Abra mulai terpejam dengan tubuh yang menyandar disandaran ranjang. Tangannya sudah tidak lagi mengusap kepala Bella, karna kini dia sudah memasuki alam mimpi.
Tepat pukul 3 pagi, Bella merasa sangat haus hingga tenggorokannya terasa sakit. Dia mencoba untuk bangun dengan kepala sedikit pusing, berusaha untuk mengumpulkan nyawa yang seakan-akan bertebangan ke atas awan.
Deg, begitu nyawanya terkumpul dengan sempurna. Bella merasa sangat terkejut saat melihat keberadaan Abra, beberapa kali dia mengucek kedua matanya, tetapi lelaki itu tetap ada di sana.
"Tu-Tuan! Kenapa Tuan ada di sini?"
Bella menepuk-nepuk bahu Abra, tetapi tidak ada sedikitpun pergerakan dari laki-laki itu. Dia lalu mencoba untuk membaringkan tubuh Abra, yang terlihat sangat tidak nyaman tidur dalam keadaan duduk seperti itu.
Setelah berhasil membaringkannya, Bella beranjak keluar kamar. Dia dapat melihat mobil Abra terparkir di halaman rumahnya, dia juga melihat tasnya dan tas laki-laki itu ada di atas kursi.
"Apa Tuan Abra mengantarku pulang?"
Yah, mungkin memang begitu kejadiannya karna dia tidak bisa mengingat apapun. Kemudian Bella berjalan ke dapur untuk mengambil minum, dia juga membawanya ke dalam kamar karna mungkin saja Abra ingin membasahi tenggorokan.
Bella lalu duduk di pinggir ranjang, dia memperhatikan wajah tenang Abra yang sedang terlelap. Wajah itu sangat tampan, hidung mancung dan alis tebal yang tertata rapi.
Tanpa Bella sadari, saat ini dia sudah benar-benar mengecup bibir Abra. Dia yang baru sadar dengan apa yang dilakukan segera memundurkan tubuh, tetapi terlambat. Tengkuknya sudah ditahan oleh tangan lelaki itu, dan melummat bibirnya dengan rakus.
Dia yang awalnya tidak bermasud seperti ini mencoba untuk melepaskan diri, tetapi ciuman dan Abra di bibirnya benar-benar memancing gairah.
"Tuan-"
"Ssshh, nikmati saja, Sayang!"
•
•
__ADS_1
•
Tbc.