Mengejar Cinta Kupu-Kupu Malam

Mengejar Cinta Kupu-Kupu Malam
Bab. 42. Semoga Kalian Berjodoh.


__ADS_3

Abra dan Bella membawa Mama Sintya ke apartemen Soni karna memang wanita paruh baya itu ingin bersama Kakaknya, dan tidak butuh waktu lama untuk mereka sampai di tempat itu.


"Pelan-pelan, Ma!" Abra membantu Mamanya untuk turun dari mobil dan mendudukkannya di atas kursi roda, mereka lalu segera berjalan masuk ke apartemen itu.


Rita yang baru saja selesai membereskan semua pakaian Soni merebahkan tubuhnya di atas sofa, rasa kantuk mulai menyerangnya dan membuat kedua matanya terpejam.


Soni sendiri sedang menyusun barang-barang Mamanya ke dalam kamar, dia harus sudah menyelesaikannya sebelum Mamanya pulang dari rumah sakit.


Ting!


Lift yang membawa Abra dan yang lainnya sudah sampai di lantai 4, di mana unit apartemen Soni berada. Abra segera menuju apartemen Soni dan langsung mengetuk pintunya.


Rita yang masih tidur mengerjapkan kedua matanya saat mendengar ketukan dipintu apartemen itu, dia segera beranjak dari sofa untuk membuka.


Klek!


"Kejut-"


Abra, Bella dan Mama Sintya yang berniat untuk membuat kejutan pada Soni, malah terkejut sendiri saat seorang wanita membuka pintu untuk mereka.


"Rita?"


"Loh, Bella? Apa yang kau lakukan di sini?"


Mereka semua sama-sama terkejut dan juga bingung, Abra lalu mengambil ponselnya untuk melihat alamat yang dikirim oleh Soni padanya.


"Benar kok, ini apartemennya Kakak!" Abra melihat ke arah Rita yang sedang kebingungan.


Rita yang baru saja bangun tidur merasa linglung, tetapi saat Abra mengatakan tentang apartemen kakaknya. Dia baru ingat kalau tadi sedang membantu Soni.


"ah, iya, Tuan! Ini memang apartemen Tuan-


"Siapa yang bertamu?"


Tiba-tiba terdengar suara Soni membuat mereka semua melihat ke arah laki-laki itu, mata Rita dan Bella membulat sempurna karna laki-laki itu hanya memakai boxer saja saat ini.

__ADS_1


"Loh, Mama?" Soni sangat terkejut saat melihat Mamanya sedang berada di ambang pintu, dengan cepat dia menghampiri wanita paruh baya itu tanpa memikirkan apa yang sedang dia pakai.


"Soni, ini benar-benar apartemenmu?"


Soni menganggukkan kepalanya. "Benar, Ma! Tapi, kenapa Mama sudah keluar dari rumah sakit? Bukannya Dokter bilang besok atau lusa?" Dia merasa bingung sendiri jadinya.


"Tapi kak, sebelum itu izinkan kami masuk dulu. Kasihan anakku berdiri terus!"


Rita dan Soni terlonjak kaget mendengar ucapan Abra. "Kalau gitu silahkan masuk!" Soni dan Rita lalu saling pandang karna mengucapkan kata-kata yang sama secara bersamaan.


Abra dan yang lainnya juga saling lirik saat melihat apa yang Soni dan wanita itu lakukan, mereka sedang bertanya-tanya ada hubungan apa di antara mereka berdua.


Kemudian mereka semua duduk di ruang tamu, dengan sigap Rita mengambilkan minuman untuk mereka semua. Dia sudah seperti tuan rumah sekarang, sementara Soni hanya duduk diam di samping Mamanya dengan sudah memakai pakaian lengkap.


"Soni, apa kau tinggal bersama wanita itu?"


"Apa? Tidak!" Soni sangat kaget mendengar pertanyaan dari Mamanya. "Aku bahkan belum pernah tinggal di sini, kan aku selalu tinggal bersama Mama dan Papa!"


Benar juga apa yang Soni katakan, lalu, kenapa wanita itu ada di sini? "Lalu, siapa wanita itu?"


"Jadi seperti itu!" Mama Sintya mengangguk-anggukkan kepalanya. "Terima kasih ya, Nak! Karna kau telah membantu Soni!"


"sama-sama, Nyonya!" balas Rita.


"panggil Mama saja, mana tau kau nanti berjodoh dengan Soni!"


"Apa?"


Lagi-lagi Soni dan Rita mengucapkan kata-kata yang sama secara bersamaan, membuat semua orang langsung tertawa geli.


"Ka-kalau gitu saya permisi dulu, Nyonya, Tuan!" Rita harus segera pergi dari tempat itu sebelum keadaan semakin menjadi-jadi, sementara Bella mengikuti langkahnya sampai keluar dari apartemen Soni.


"ada apa denganmu, Rit? Lihat, wajahmu merah sekali!"


"Hentikan, atau aku akan memukul keponakanku ini!" Rita meletakkan tangannya diperut Bella, tetapi bukan untuk memukul melainkan untuk mengusapnya.

__ADS_1


"Wah, dia semakin besar ya!"


Bella tersenyum saat Rita sibuk memegang perutnya. "Tentu saja, dia kan berkembang!"


"Iya bener, sebentar lagi perutmu pasti akan membesar seperti bola!"


Mereka berdua terkekeh pelan saat membayangkan perut Bella sudah membulat sempurna. "Tapi, kenapa keluarga Tuan Abra semua di sini, Bel? Apa Tuan Soni dan Ibunya benar-benar akan tinggal di sini?"


Bella menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Rita. "Iya, Rit! Aku tidak bisa cerita apa alasannya, yang pasti sudah banyak hal yang terjadi dalam hidupku ini!"


Rita mengusap lengan Bella untuk memberi semangat pada sahabatnya itu. "Sabarlah, Bel! Kau tau kalau semua orang yang masih hidup pasti mengalami banyak sekali cobaan, jadi bukan hanya kau saja yang mengalaminya!"


Bella menganggukkan kepalanya. "Kau benar, seharusnya aku bersyukur sudah berada dititik ini sekarang! Keadaan adikku juga sudah mulai membaik, hanya tinggal menunggu jadwal operasinya saja!"


"Syukur lah, Bel! Kalau gitu aku permisi dulu!"


Bella kembali menganggukkan kepalanya, kemudian dia kembali masuk ke apartemen Soni dan bergabung dengan yang lainnya.


"sekarang apa yang harus kita lakukan? Apakah Mama harus meminta bantuan Paman kalian?"


"Itu tidak perlu, Ma! Aku dan Abra masih mampu untuk melakukan semuanya, nanti kami akan berdiskusi tentang bisnis yang akan kita buka!"


Mama Sintya tersenyum senang. "Mama yakin kalian akan berhasil, putra-putra Mama sangat hebat!" Tanpa sadar air mata menetes dari kedua matanya.


"Jangan menangis, Ma! Kami akan merasa lemah saat melihat air mata Mama!"


Mama Sintya langsung mengangguk. "Ini air mata bahagia, Nak! Mama bangga punya anak-anak seperti kalian, tapi sebelum itu. Kita harus mempersiapkan acara pernikahanmu dan Bella dulu, Abra! Mama tidak mau kandungan Bella semakin besar tetapi kalian belum menikah!"


Abra tersenyum mendengar ucapan Mamanya. "Mama tenang saja, aku dan Bella sudah membicarakan semua itu! Kami akan menikah secara sederhana saja, dan dihadiri oleh saudara dan teman-teman dekat!"




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2