Mengejar Cinta Kupu-Kupu Malam

Mengejar Cinta Kupu-Kupu Malam
Bab. 46. Permainan Di Belakang.


__ADS_3

Setelah memutuskan untuk membuka toko kue, Abra dan Soni membeli sebuah tempat yang berada tidak jauh dari apartemen mereka. Terlihat mereka semua sedang membersihkan tempat itu, walaupun hanya Bella dan Mama Sintya saja yang melakukannya.


"Uhuk uhuk uhuk, debunya banyak sekali." Soni memilih keluar dari sana karena tidak tahan dengan banyaknya debu, sementara Abra sedang sibuk dengan ponsel untuk menanyakan kabar perusahaan pada Rafi.


Walaupun dia sudah diusir oleh sang papa, tetapi Abra tetap tidak mau kalau sampai terjadi sesuatu dengan perusahaan keluarganya. Biar bagaimana pun, sejak dulu papa Adnan sudah sangat bekerja keras untuk mengembangkan perusahaan tersebut.


Saat sedang asik bertukar pesan, tiba-tiba ada sebuah email masuk dari salah satu investor yang akan menanamkan modal padanya. Dengan cepat Abra melihat pesan tersebut, dan kedua matanya langsung membulat sempurna seketika.


"Kak." Setelah membaca pesan itu, dia beralih memanggil Soni yang duduk tidak jauh darinya. "Lihat ini!" Abra memberikan ponselnya agar sang kakak bisa melihat pesan yang tadi dia baca.


"Astaga, apa-apan ini?" Soni langsung berdiri saat membaca pesan permintaan maaf dari salah satu investor, di mana dia meminta maaf karena tidak jadi bergabung dengan mereka. "Cepat hubungi dia, kita harus bertemu dengannya."


Abra menganggukkan kepala dan langsung menghubungi investor tersebut, dari kejauhan Bella dan mama Sintya melihat mereka berdua dengan bingung.


"Apa yang terjadi, Ma? Kenapa mereka panik seperti itu?"


Mama Sintya menggelengkan kepala dan beranjak mendekati Abra dan Soni, dengan diikuti oleh Bella. "Ada apa Abra, Soni?"


Abra dan Soni langsung mengalihkan pandangan ke arah Mama Sintya. "Maaf Ma, kami harus bertemu dengan pihak investor dulu. Nanti kami akan cerita."


Mama Sintya menganggukkan kepala, lalu kedua anaknya itu segera berjalan ke arah mobil dan pergi meninggalkan tempat itu. "Semoga tidak terjadi sesuatu dengan mereka."


"Aamiin." Bella memeluk lengan Mertuanya untuk memberi semangat, dan mengatakan kalau semuanya pasti baik-baik saja.


Mobil Soni melaju kencang untuk menemui seseorang yang sudah membatalkan kerja sama, dia semakin menekan pedal gasnya agar bisa lebih cepat sampai di tempat tujuan.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, mereka sudah sampai di kawasan perumahan elit. Seorang lelaki paruh baya tampak menunggu kedatangan mereka di depan pintu rumahnya.


"Selamat sore, Tuan Soni dan Tuan Abra. Bagaimana kabar Anda berdua?" sapanya dengan ramah.


"Kami baik, Tuan. Tapi saat membaca pesan Anda, kami langsung terpukul."


Laki-laki paruh baya itu menghela napas berat, dia lalu menyuruh mereka untuk masuk ke dalam rumahnya terlebih dahulu.


Begitu mereka duduk, seorang pembantu datang untuk menyajikan makanan dan minuman ringan ke atas meja. Setelahnya dia kembali ke dapur dan tidak muncul-muncul lagi.


"Langsung saja, Tuan. Saya benar-benar minta maaf karna tidak bisa menepati ucapan saya sendiri, dan memutuskan untuk membatalkan kerja sama kita,"


"Kami tidak butuh maaf, Tuan. Yang kami butuhkan adalah penjelasan."


Laki-laki paruh baya itu kembali menghela napas berat, bagaimana mungkin dia memberitahu semuanya pada mereka?


"Maaf jika saya mengganggu, Tuan. Saya ingin bertemu langsung dengan Anda untuk membicarakan masalah kerja sama kita."


Begitulah kira-kira ucapan dari para investor membuat Abra dan Soni saling pandang, mereka kini curiga kenapa para investor membatalkan kerja sama dengan mereka.l


"Kita harus menemui mereka juga, Abra,"


"Itu tidak perlu, Tuan."


Soni dan Abra beralih melihat laki-paki paruh baya itu dengan tajam. "Apa maksud Anda, Tuan?"

__ADS_1


"Begini, Tuan. Sebenarnya kami sangat ingin sekali bergabung dengan anda, tetapi kami semua tidak bisa."


Soni dan Abra mengernyitkan kening mereka dengan bingung. "Maksud anda?"


Laki-laki paruh baya itu memutuskan untuk menceritakan semuanya, di mana dia dan yang lainnya diancam oleh seseorang agar tidak bekerja sama dengan mereka.


Abra dan Soni sangat terkejut saat mendengar cerita dari laki-laki paruh baya itu, mereka tidak habis pikir kenapa ada orang lain yang melakukan tindakan seperti itu pada mereka.


"Sekarang tolong katakan siapa dia, Tuan. Kami benar-benar harus memberi pelajaran dengan orang itu!"


Glek. Laki-laki paruh baya itu tampak bingung, dia takut jika harus mengatakan siapa yang telah mengancam mereka.


Abra beralih duduk di samping laki-laki paruh baya itu, lalu merangkul pundaknya. "Anda tidak perlu khawatir, Tuan. Apapun yang terjadi, kami tidak akan mengatakan tentang semua ini pada mereka."


Laki-laki paruh baya itu mengangguk, lalu menarik napas panjang sebelum mengatakannya. "Dia, dia adalah orangtua kalian sendiri."


Soni dan Abra tercengang saat mendengar ucapan laki-laki paruh baya itu. "Ma-maksud Anda?" Mata Abra menatap tajam seakan ingin menembakkan laser dari kedua matanya.


"Maaf, Tuan. Sekretaris Tuan Adnan lah yang telah mengancam kami semua agar tidak bekerja sama dengan Anda,"


"Apa?"



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2