Mengejar Cinta Kupu-Kupu Malam

Mengejar Cinta Kupu-Kupu Malam
Bab. 39. Masih Pantaskah Disebut Ayah?


__ADS_3

Dokter itu sangat terkejut saat mendengar ucapan Soni, dia tidak menyangka kalau kekerasan itu dilakukan oleh Ayah mereka sendiri.


"ma-maafkan saya, saya tidak tau-"


"Tidak apa-apa, Dokter! Anda hanya melaporkan hasil pemeriksaan pasien anda, untuk itu saya ucapkan terima kasih banyak!"


Dokter itu menganggukkan kepalanya dan segera berlalu dari sana, dia merasa tidak enak dengan Soni karna telah menceritakan Ayah dari laki-laki itu.


Setelahnya kedua orangtua Abra segera di bawa ke ruang perawatan, mereka sengaja tidak dijadikan satu karna tidak ingin ada pertengkaran lagi.


Abra langsung menggenggam kedua tangan Mama Sintya saat melihat pergerakan dari tangan itu, perlahan kedua mata wanita paruh baya itu mulai terbuka membuat Soni dan Abra bernapas lega.


"Mama, ini aku Abra!"


Mama Sintya sedikit tersenyum ke arah Abra, dia masih bisa melihat wajah putranya itu dengan jelas.


Soni yang melihat Mamanya sudah sadar ikut mendekat. "Apa ada yang sakit, Ma?"


Mama Sintya menggelengkan kepalanya dengan pelan. "Pa-papa ka-kalian ba-bagaimana?"


Soni dan Abra saling pandang, dalam keadaan seperti ini pun Mama mereka masih saja menanyakan kabar Papa Adnan.


"Papa baik-baik saja, Ma! Mama tidak perlu kahawatir!" jawab Abra.


Mama Sintya lalu bergerak dan hendak bangun, tetapi dicegah oleh Soni dan Abra. "Mama belum boleh bangun!"


Mama Sintya mendessah frustasi saat mendengar ucapan anak-anaknya. "Abra, di-dia-"


Abra dan Soni langsung melihat ke arah belakang, sontak Abra langsung memukul keningnya yang sejak tadi tidak mengingat keberadaan Bella.


"Bella, sini!"


Bella terlihat ragu untuk masuk ke dalam ruangan itu, apalagi saat ini kondisi Mama Sintya masih belum stabil.


"Ke-kemari lah, Nak!"


Dia lalu melangkahkan kakinya saat mendengar panggilan dari Mama Sintya, jantungnya berdegup kencang karna berdiri tepat di samping wanita itu.

__ADS_1


"i-iya, Nyonya!" ucapnya dengan gugup.


"Bagaimana kabar si kecil?"


Mama Sintya tersenyum sambil melihat ke arah perut Bella yang masih rata, tentu saja membuat Bella terkesiap.


Bukan hanya dia saja yang merasa kaget, bahkan Abra sampai tercengang saat mendengar pertanyaan sang Mama.


"di-dia baik, Nyonya!"


"Syukurlah!" Mama Sintya merasa senang, saat ini dia akan mendukung semua yang dilakukan oleh putra-putranya.


Kemudian dia kembali memejamkan kedua matanya yang terasa mengantuk, mungkin efek obat yang tadi diberikan oleh Dokter.


"aku mau melihat Papa dulu, Abra!"


"Aku ikut, kak!"


Abra langsung bangun untuk ikut melihat keadaan Papanya, tetapi langsung dicegah oleh sang Kakak.


"Tidak untuk sekarang, Abra! Kau tau sendiri kalau saat ini Papa masih sangat marah, dia bahkan sampai tega memukul Mama seperti itu!"


Bella yang sejak tadi diam langsung mengusap bahu Abra membuat laki-laki itu mendongakkan kepalanya. "Bersabarlah, aku yakin kalau sebentar lagi kemarahan Papamu pasti akan menghilang!"


Abra langsung menarik tangan Bella dan menyuruhnya untuk duduk di kursi yang ada di sampingnya, dia menggenggam tangan wanita itu dengan erat.


"Aku akan selalu bersabar, Bella! Tapi, kalau kau melepaskan tanganku, mungkin aku akan terjatuh!"


Blush, wajah Bella memerah mendengar ucapan Abra. "Jadi, kalau aku mau ke kamar mandi. Aku tidak boleh melepaskan tanganmu?"


Abra langsung tergelak saat mendengarnya. "Tentu saja, aku akan selalu mengikutimu ke manapun kau pergi!"


Kemudian mereka berdua tertawa bersama sambil berpelukan dengan mesra, setidaknya rasa sedih yang sedang dialami bisa sedikit berkurang.


Pada saat yang sama, Soni sudah duduk di samping ranjang Papa Adnan. Terlihat lelaki paruh baya itu sedang duduk diam sambil melihat ke arah jendela, dan enggan untuk melihat ke arahnya.


"Bagaimana keadaan Papa? Papa, baik-baik sajakan?"

__ADS_1


Papa Adnan tetap diam dan tidak ada niat sedikitpun untuk menjawab pertanyaan Soni, dia masih merasa kesal dan kecewa dengan apa yang terjadi.


"Apa Papa tau, bagaimana keadaan Mama?"


Deg, raut wajah Papa Adnan mulai berubah. Dia yang tadi tampak tegang kini sedikit mengendurkan rahangnya, tetapi sekuat tenaga dia mencoba untuk menahan diri.


"Dia pasti baik-baik saja, bukannya ada kalian semua yang bersamanya?"


Soni menganggukkan kepalanya. "Benar, keadaan Mama sudah jauh lebih baik dari terakhir kali Papa memukulnya!" Suaranya terdengar pelan, tetapi terasa sangat menusuk.


"Kenapa Papa tega melakukannya? Kenapa Papa tega memukul dan menganiaya Mama? Memangnya apa salah Mama, bukannya selama ini Mama selalu menuruti semua ucapan Papa?"


Papa Adnan terdiam, sebenarnya dia sangat menyesal dengan apa yang sudah dia lakukan. Hanya saja dia tidak bisa menemui sang istri, apalagi istrinya itu malah mendukung perbuatan Abra.


"hanya karna keputusan Abra, Papa tega menganiaya Mama! Di mana hati nurani Papa?"


"Tutup mulutmu, Soni! Kau tidak berhak untuk berkata seperti itu!"


Mata Papa Adnan berkilat marah, begitu juga dengan Soni yang sedang mengepalkan kedua tangannya dengan erat.


"Benar, Papa sangat benar! Aku memang tidak punya hak untuk melakukan apapun, aku bahkan tidak berhak untuk mengingatkan orangtuaku saat mereka sedang membuat kesalahan. Aku benar-benar tidak punya hak sama sekali!" Soni lalu berdiri dan tetap melihat Papanya dengan tajam.


"Selama ini aku selalu diam, Pa! Aku diam saat Papa memarahiku, aku diam saat Papa menyalahkan semua hal padaku. Aku juga diam saat Papa mengusir adikku, tapi, aku tidak bisa diam saat Papa melakukan kekerasan pada Mamaku!"


Suara Soni bergetar karna mencoba untuk menahan tangis, hati seorang anak pasti akan terluka melihat Ibunya dipukuli oleh ayahnya sendiri.


"Tolong jangan lakukan lagi, Pa! Atau aku tidak akan lagi menahan diri!"


Papa Adnan langsung menatapnya dengan tajam. "Kau mengancamku?"


"benar, aku sedang mengancam Papa! Aku tidak akan tianggal diam jika Papa kembali menyakiti Mama, atau bahkan adikku! Aku akan melindungi mereka dari manusia egois seperti Papa! Ah, bahkan Papa tidak pantas untuk disebut sebagai orangtua!"


"Tutup mulutmu, anak kurang ajar! Mulai sekarang, kalian bukan keluargaku lagi. Dan pergi kalian semua dari rumahku!"



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2