
Papa Adnan beranjak pergi dari tempat itu dengan kesal, lebih tepatnya rasa sesak yang memenuhi relung hatinya saat ini.
Sejak kepergian istri dan juga anak-anaknya, entah kenapa dia merasa semakin tidak tenang. Setiao hari emosinya terus meledak-ledak tidak karuan, bahkan pekerjaan yang biasa dia lakukan pun terkena dampaknya. Itu sebabnya dia memutuskan untuk istirahat sejenak, sebelum semakian bertambah parah.
"Sepertinya aku harus menenangkan diri, aku tidak bisa terus seperti ini." Papa Adnan segera menelepon sekretarisnya untuk menyiapkan kepergiannya ke suatu tempat yang nyaman dan juga tenang.
Sementara itu, di perusahaan R group. Terlihat 3 orang lelaki sedang berkumpul di salah satu ruangan, mereka sedang menyusun rencana untuk mengalihkan aset-aset perusahaan agar menjadi atas nama mereka.
"Saat ini laki-laki tua itu sedang istirahat, semoga dia istirahat selamanya aja sekalian," ucap Kevin yang langsung ditertawakan oleh ketiga temannya.
"Dasar gila. Kalau dia mati sekarang, sudah pasti perusahaan ini akan jatuh ke tangan anaknya," seru teman Kevin, yang merupakan salah satu anak pemegang saham di perusahaan itu.
"Yang beliau katakan benar, Tuan. Untuk saat ini, akan jauh lebih baik jika Tuan Adnan sehat-sehat saja," tambah sekretaris Kevin.
"Haih, terserahlah. Dia mau mati atau pun hidup, yang pasti perusahaan ini harus jatuh ke tanganku," ucap Kevin dengan ketus. Apapun akan dia lakukan untuk merebut perusahaan ini, dia bahkan rela menjilat kaki papa Adnan untuk mendapat kepercayaan laki-laki itu.
Kemudian mereka bertiga mulai menghitung beberapa aset yang sudah berpindah ke tangan mereka, dan tentu saja itu semua atas bantuan dari orang yang paling dekat dengan papa Adnan.
Rafi dan sekretarisnya Soni juga terlihat sedang duduk di sofa yang ada di ruangan Rafi, terlihat mereka sedang mendengar pembicaraan seseorang dari alam rekam yang ada di tangan Rafi.
"Bedebah sia*lan. Apa mereka pikir, kita tidak tau rencana yang sedang mereka jalankan?" ucap Rafi penuh emosi, bisa-bisanya ada sampah di dalam perusahaan ini.
"Tenangkan dirimu, Fi. Kalau kau emosi, bisa-bisa mereka mencurigai kita," tegur Rama, dia adalah sekretarisnya Soni.
__ADS_1
Rafi menghembuskan napasnya dengan kasar, dia tau apa yang dikatakan oleh lak-laki itu adalah benar. "Kau benar, Ram. Hanya saja aku benar-benar kesal melihat sampah seperti mereka. Untung saja kita mengetahui ini sejak awal, jika tidak sudah pasti perusahaan ini akan hancur."
Ya, dari awal gerak-gerik Kevin sudah sangat mencurigakan. Bahkan Rafi harus membujuk sekretaris papa Adnam untuk ikut andil dalam masalah ini, walaupun tanpa diketahui oleh papa Adnan sendiri.
"Apa tidak lebih baik kalau kita beritahu pada Tuan Soni dan Tuan Abra? Biar bagaimana pun, mereka berhak tau soal ini," ucap Rama memberi masukan.
Rafi menganggukkan kepalanya. "Kau benar, Ram. Hanya saja saat ini keadaan mereka juga belum baik, kau tau sendiri kalau Tuan Abra dan juga Tuan Soni masih mencari investor. Ya walaupun sekarang sudah ada."
Rama langsung menepuk bahu Rafi. "Benar, seharusnya kita tidak mengusik mereka karna mereka sudah memberikan tanggung jawab ini pada kita, jadi kitalah yang harus menyelesaikan semuanya." Dia tersenyum ke arah Rafi yang terlihat sedang menganggukkan kepala untuk mengiyakan apa yang baru saja dia ucapkan.
"Tapi, aku masih bingung dengan tuan Kiano itu, Fi. Bagaimana mungkin dia tiba-tiba bisa menjadi investor mereka, sementara kita tidak pernah berhubungan dengannya," ucap Rama dengan bingung. Tentu saja mereka tahu perkembangan Abra dan juga Soni, karena mereka selau menanyakan semuanya.
"Itu karna Rita, Ram. Dia salah satu karyawan di sini, dan dialah yang membawa tuan Kiano pada merek,"
"Tapi kenapa, kenapa bisa? Kenapa Rita bisa melakukan itu? Dia bahkan sampai menelponmu dan memintamu untuk berbohong."
"Aku yakin kalau Rita punya hubungan yang sangat dekat dengan tuan Kiano, dia bahkan sudah mengundurkan diri sekarang."
Rama menganggukkan kepalanya untuk menyetujui ucapan Rafi, kemudian mereka berdua segera menyusun rencana untuk menjebak Kevin dan juga para sampah lainnya.
****
Beberapa hari kemudian, Abra dan Soni sudah terlihat rapi untuk mengadakan rapat pada semua investor yang sudah setuju untuk bekerja sama dengan mereka.
__ADS_1
Jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi, yang artinya mereka sudah harus berangkat ke tempat yang sudah disepakati.
Bella dan mama Sintya mengantar kepergian mereka dengan senyum semangat, segala do'a mereka panjatkan agar usaha kedua lelaki itu berjalan dengan lancar dan sukses.
"Siang ini Bobi jadi pulang kan, Bel?" tanya mama Sintya sambil kembali masuk ke dalam rumah.
Bella menganggukkan kepalanya. "Iya, Ma. Setelah ini, aku akan langsung ke rumah sakit."
Mama Sintya ikut senang karna saat ini keadaan Bobi sudah sangat baik, bahkan bocah berusia 12 tahun itu sudah di perbolehkan untuk pulang.
"Ya sudah, nanti mama ikut ke rumah sakit ya. Tapi mama mau ke toko bentar, mau lihat hasil penjualan semalam," ucap mama Sintya. Saat ini, toko kue mereka sudah punya 6 orang karyawan. Bahkan bangunnya juga sedang diperbaiki agar bisa lebih luas dan bagus.
"Tidak usah, Ma. Biar aku saja yang-"
"Udah diam. Apa kau lupa, kalau Bobi itu putra bungsu mama, hah? Dia itu anak mama, tidak mungkin mama tidak menjemputnya."
Bella tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. "Baiklah, Ma. Ayo, kita harus bersiap-siap."
•
•
•
__ADS_1
Tbc.