Mengejar Cinta Kupu-Kupu Malam

Mengejar Cinta Kupu-Kupu Malam
Bab. 25. Mengetahui Kondisi Bobi.


__ADS_3

Rafi sangat-sangat terkejut dengan apa yang Abra katakan, untung saja mobilnya tidak melaju kencang. Jika tidak, sudah pasti mereka berakhir di rumah sakit.


"Apa, apa anda bercanda, Tuan?"


Abra menggelengkan kepalanya. "Aku serius, dan aku sendiri juga tidak tau sejak kapan jatuh cinta pada wanita itu!"


Rafi terdiam, dia tidak tau harus memberi reaksi seperti apa atas ungkapan perasaan Abra. Namun, bagaimana dengan Stefy?


"Tuan, sebaiknya pikirkan semuanya dengan tenang! Mungkin saja karna menghabiskan malam dengan Bella, jadi Tuan berpikir kalau jatuh cinta padanya!"


Abra memikirkan apa yang Rafi ucapkan, tetapi perasaannya tetap sama. Bukan karna dia menghabiskan malam dengan wanita itu, tetapi memang karna dia mencintainya.


"saya tidak bermaksud untuk meragukan perasaan Tuan, hanya saja-"


"Aku mengerti, Rafi! Kau pasti mengkhawatirkanku, 'kan?"


Rafi mengangguk, sebenarnya dia tidak masalah jika Abra jatuh cinta dengan siapa saja. Namun, orangtua laki-laki itu pasti tidak akan menyukainya.


"Sudahlah, tidak perlu dipikirkan!"


Abra memilih untuk tidak memikirkannya, biarlah semua mengalir begitu saja. Dia juga akan mengendalikan perasaannya, agar tidak diketahui oleh orang lain.


Sesampainya di perusahaan, Abra langsung berjalan ke ruangannya. Banyak karyawan yang menyapanya dan juga Rafi, kedua lelaki itu menjawab sapaan itu dengan memganggukkan kepala.


Abra terpaku di ambang pintu saat melihat keberadaan Papa Adnan di dalam ruangannya, sementara lelaki paruh baya itu segera menyuruhnya untuk mendekat.


"Kenapa Papa ada di sini? Bukannya Papa harus istirahat?"


Abra mendekati sang Papa yang sedang duduk disofa, dia lalu memerintahkan Rafi untuk mengambil kopi untuk sang Papa.


"Tadi malam kau ke mana, Abra?"


Sudah Abra duga, hal pertama yang akan ditanyakan oleh Papanya adalah keberadaannya tadi malam.


"Maaf Pa, tadi malam aku menginap di rumah teman setelah makan malam!"


Papa Adnan terdiam, dia mencoba untuk tidak bertanya lagi pada Abra mengenai hal itu. "Lalu, bagaimana hubunganmu dan Stefy? Apa kita sudah bisa merencakan pernikahan kalian?"


Abra terdiam, kedua tangannya saling mencengkram untuk menahan segala penolakan yang ada dalam hatinya.


"sebelum itu, apakah aku boleh menanyakan sesuatu pada Papa?" tanya Abra, yang langsung diangguki oleh Papa Adnan.


"aku penasaran dengan Papa dan Mama, apa Papa dan Mama dulu saling mencintai sebelum menikah?"

__ADS_1


"Kenapa kau menanyakan itu?"


Papa Adnan terlihat bingung, untuk apa pula putranya itu bertanya mengenai hubungannya dan sang istri.


"Aku cuma mau tau saja, Pa! Mungkin karna sebentar lagi aku akan menikah!"


Papa Adnan terdiam, betul juga apa yang putranya itu katakan. Bisa jadi dia ingin belajar dari hubungannya dan sang istri.


"Dulu Papa dan Mama hanya sekedar saling suka saja, tapi siapa sangka kalau kami dijodohkan! Dan setelah menikah, rasa suka itu berubah menjadi cinta!"


Wajah Papa Adnan bersemu merah, jelas memperlihatkan kebahagiaan dalam raut wajahnya saat ini.


"Jadi, kalau sampai menikah Mama dan Papa tidak saling cinta. Apa Papa akan tetap mempertahankan rumah tangga papa dengan Mama?"


Kali ini Papa Adnan tidak bisa menjawab ucapan Abra, lidahnya terasa keluh untuk mengeluarkan kata-kata.


Tok, tok!


"Masuk!"


Kedatangan Rafi menghentikan percakapan Ayah dan anak itu, dia lalu meletakkan dua cangkir kopi ke atas meja.


"Silahkan Tuan Besar, Tuan!"


Rafi lalu kembali keluar dari ruangan itu, sekilas dia melihat ke arah Papa Adnan untuk memastikan kalau lelaki paruh baya itu tidak emosi.


Papa Adnan menganggukkan kepalanya, lalu meminum kopi yang Rafi sajikan.


"Baiklah, Papa cuma mau ngomong itu aja! Pastikan kalau pernikahanmu terjadi sebelum tahun berganti!"


Papa Adnan bangun dan beranjak keluar dari ruangan itu, sementara Abra hanya menarik napas panjang untuk apa yang Papanya katakan.


Sementara itu, di ruangan lain terlihat Bella sedang sibuk dengan pekerjaannya. Ada banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan sebelum sore hari.


"Hoam! Aku ngantuk sekali!"


Bella melirik ke arah Rita yang terus menguap, bibirnya tersenyum melihat temannya yang selalu membuat keributan itu.


"Bella, tadi malam kau langsung pulang kan?" tanya Rita, dia tidak ingat bagaimana dan kapan mereka bubar barisan dari ruang karaoke.


"ya, aku langsung pulang!"


"Apa kau bisa sendiri? Tidak terjadi sesuatu, 'kan?"

__ADS_1


Bella menganggukkan kepalanya. "Y-ya, aku bisa sendiri!" Dia lalu berbalik dan kembali mengerjakan pekerjaannya sebelum pertanyaan Rita semakin merajalela.


"tapi, aku melihatmu masuk ke dalam mobil Tuan Abra! Apa aku salah liat ya?" tanya teman yang lainnya.


Glek, Bella menelan salivenya dengan kasar. "Ti-tidak, aku pulang sendiri kok!"


"mungkin matamu itu yang salah Yo, kau kan rabun!"


"Si*alan!"


Yola meninju lengan Rita membuat wanita itu memekik sakit, tidak berselang lama mereka semua langsung menutup mulut rapat-rapat saat melihat atasan mereka masuk ke dalam ruangan itu.


Jam terus berputar sangat cepat, tidak terasa sudah saatnya para pekerja untuk pulang ke rumah masing-masing.


"Kau beneran tidak ikut, Bel?"


Bella menganggukkan kepalanya. "Aku tidak bisa ikut, Rit! Aku harus ke rumah sakit!"


"Rumah sakit? Apa kau sedang sakit?"


Rita langsung heboh, dia membolak-balik tubuh Bella untuk melihat di bagian mana wanita itu terluka.


"bukan aku, tapi adikku!"


"benarkah? Adikmu sakit apa?" tanya Yola kemudian.


Bella lalu mengatakan tentang penyakit yang selama ini adiknya derita, tentu teman-temannya merasa kaget dengan apa yang dia katakan.


"Aku ikut sedih dengan apa yang Bobi alami, kalau begitu kami akan ikut ke rumah sakit juga!"


Bella tersenyum. "Kalian kan ada urusan, besok-besok juga bisa menjenguk Bobi!"


"Enggak, urusan itu bisa ditunda! Lebih baik kita segera ke rumah sakit!"


Rita segera menggandeng lengan Bella dan Yola menuju jalanan, mereka lalu memanggil taksi dan pergi ke rumah sakit.


Abra dan Rafi yang sejak tadi ternyata ada di dekat mereka saling pandang. "Apa Tuan tau masalah ini?"


Abra menggelengkan kepalanya. "Ayo, kita harus ke rumah sakit juga!"



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2