
"Do'akan saja, Ma. Semoga kerja sama kami berjalan dengan lancar, dan hubungan kami juga berjalan kejenjang yang lebih serius lagi."
Semua orang langsung mengaminkan ucapan Soni, lalu laki-laki itu pergi untuk mengantarkan Rita pulang ke rumahnya.
****
4 bulan kemudian ...
Hubungan kerja sama antara Soni dan juga Rita berjalan dengan sangat baik, sama dengan hubungan percintaan mereka. Abra sendiri fokus dengan pendirian pabrik konveksi yang akan menjadi tempat produksi perusahaan mereka.
Bella sendiri saat ini sudah banyak menghabiskam waktu di rumah bersama dengan mama Sintya, karena memang usia kandungannya sudah memasuki 9 bulan dan sedang menunggu kelahiran sang buah hati.
Keadaan toko kue mereka juga berkembang pesat. Saat ini mereka sudah memiliki 12 karyawan, dan tidak terhitung orang-orang yang menyiapkan makanan dan minuman bagi para pekerja.
Abra sudah mengusulkan untuk membuka cabang toko kue itu, dan saat ini mereka sedang mencari lokasi yang strategis untuk mendirikan cabang toko tersebut.
Kondisi Soni dan Abra sangat berbanding terbalik dengan apa yang sedang terjadi di perusahaan R Group. Saat ini, keadaan perusahaan benar-benar sangat kacau menyebabkan turunnya saham perusahaan hingga mencapai 7%.
Bukan itu saja, bahkan perusahaan menanggung kerugian atas korupsi dan kecurangan yang dilakukan oleh Kevin dan juga teman-temannya.
Papa Adnan yang stres memikirkan semuanya jatuh sakit dan dirawat di rumah sakit, sementara Kevin dan teman-temannya sudah diperiksa oleh pihak kepolisian.
"Para pemegang saham mengancam akan menjual saham mereka beserta aset jika kita tidak segera memperbaiki keadaan, bahkan para kolega bisnis satu persatu mulai membatalkan kontrak dan meminta kita untuk membayar finalti."
Rafi memijat pelipisnya yang terasa berdenyut sakit karena laporan dari Rama. "Bagaimana keadaan Tuan Adnan?"
Rama menggelengkan kepalanya. "Masih sama seperti kemaren, dia terlalu stres dan tertekan hingga gula darahnya naik dan jadi drop." Dia menghela napas kasar.
__ADS_1
"Kita tidak punya pilihan lain selain mengatakannya pada tuan Soni dan juga Abra, Rama. Aku tidak tau lagi harus melakukan apa, dan jika dibiarkan maka perusahaan pasti akan bengkrut."
Rama menyetujui apa yang Rafi ucapkan. Kemudian mereka berdua beranjak pergi dari perusahaan untuk menemui Soni dan juga Abra.
Abra yang mendapat telepon dari Rafi segera mengajak Soni ke suatu tempat, kebetulan saat ini sudah jam makan siang.
"Rafi pasti ingin meminta bantuan pada kalian," ucap Rita yang sudah tahu bagaimana kondisi perusahaan keluarga Abra walaupun tidak secara keseluruhan.
"Tanpa diminta pun, kami pasti akan melakukannya," gumam Soni yang juga sudah tahu keadaan perusahaannya.
Kemudian Abra dan Soni segera menuju sebuah restoran di mana Rafi dan juga Rama sudah menunggu mereka.
"Tuan!"
Begitu turun dari mobil, Soni dan Abra langsung disambut oleh sekretaris mereka dengan penuh suka cita seperti anak ayam yang baru bertemu dengan induknya.
"Kami ingin memyambut Anda berdua, Tuan. Sudah lama kita tidak bertemu," balas Rafi.
Kemudian mereka berempat segera masuk ke dalam restoran sambil mengobrol dan saling bertukar kabar, terutama Rafi dan juga Abra yang memang sangat akrab.
Setelah berada di ruang pribadi, para pelayan segera menyajikan makanan dan minuman untuk mereka berempat yang sebelumnya sudah dipesan.
"Makanlah dulu, kami tau kalau kalian sudah bekerja keras karena masalah yang ada di perusahaan." Soni merasa kasihan saat melihat wajah lelah dan lesu kedua sekretaris itu, begitu juga dengan Abra.
"Terima kasih, Tuan."
Mereka lalu mulai menikmati makanan dan minuman yang telah tersaji, sambil mengobrol ringan tentang kabar semua orang tanpa membahas tentang perusahaan.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, mereka sudah selesai menikmati makan siang dan menyuruh pelayan untuk membereskannya.
"Baiklah. Coba kalian ceritakan pada kami masalah apa yang sebenarnya sedang terjadi di perusahaan," ucap Soni membuat Rafi dan juga Rama memberikan beberapa berkas yang harus mereka lihat secara langsung.
Kemudian Rafi segera menceritakan semua yang sudah terjadi dari awal sampai akhir, bahkan tidak ada satu masalah pun yang tertinggal.
Soni dan Abra mendengarkan ucapan Rafi dengan khusyuk, sambil memperhatikan berkas-berkas yang ada di depan mereka saat ini.
Mereka lalu berunding dan merencanakan apa-apa saja yang harus dilakukan untuk mengantisipasi kebangkrutan, dan mereka harus mencari jalan keluar agar para pemegang saham dan juga kolega bianis tidak pergi.
Tidak terasa pertemuan mereka memakan waktu sampai 4 jam lamanya, karena memang banyak hal yang harus dibahas dan segera diperbaiki.
"Baiklah, mungkin itu saja yang harus kalian lakukan saat ini. Besok aku dan Abra akan datang ke perusahaan, dan kita akan membahasnya lebih lanjut lagi," ucap Soni.
Rafi dan juga Rama menganggukkan kepala mereka. Kemudian mereka semua bubar dari restoran untuk kembali ke rumah masing-masing.
"Apa kita harus menjenguk papa, Kak?" tanya Abra yang tadi mendengar bahwa papanya sedang sakit.
"Lebih baik kita fokus pada perusahaan dulu, Abra. Setelah itu kita baru menjenguk papa, aku yakin keadaannya akan membaik jika perusahaan juga baik."
Abra menganggukkan kepalanya karena mengerti dengan apa yang Soni maksud, mereka memang harus segera menyelamatkan perusahaan sebelum perusahan itu berakhir.
•
•
•
__ADS_1
Tbc.