Mengejar Cinta Kupu-Kupu Malam

Mengejar Cinta Kupu-Kupu Malam
Bab. 31. Tawaran Rudi.


__ADS_3

Beberapa hari telah berlalu sejak kabar kehamilan itu, kini Bella lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dan rumah sakit.


Dia sudah mengajukan cuti selama seminggu, dan untungnya cuti itu disetujui oleh atasannya. Dia tidak peduli apakah ada campur tangan Abra dalam hal itu, yang pasti dia ingin berpikir tenang dan mulai menata hidup untuk ke depannya.


Selama cuti, Bella juga rutin menemani sang adik dari pagi sampai sore. Tentu saja adiknya itu merasa sangat senang, hingga kesehatannya juga berangsur membaik.


Saat ini dia sedang berada di kantin rumah sakit untuk menikmati makan siang, terlihat beberapa orang mulai memadati kantin itu. Baik petugas medis, maupun orang-orang yang sedang menemani sanak saudara atau pun teman di rumah sakit tersebut.


"Maaf Bel, aku telat!"


Tiba-tiba Rudi datang dan duduk tepat di hadapan Bella, jubah Dokternya masih melekat ditubuh. Menandakan kalau dia baru saja merawat pasiennya.


"Enggak papa, pasti pasienmu banyak kan?"


Bella mengulas senyum, sebelumnya Rudi mengajaknya makan siang bersama. Akan tetapi lelaki itu ingin mengecek pasiennya terlebih dahulu, dan menyuruhnya untuk ke kantin duluan.


"Iya, tadi aku harus bantuin temen. Dia keteter di UGD!"


Bella ber-oh ria sembari melanjutkan makan siangnya, sementara Rudi bergegas memanggil pelayan untuk memesan menu makan siangnya hari ini.


"Gimana? Apa kau sudah memikirkan tawaranku?"


Rudi melihat ke arah Bella sekilas, lalu kembali memasukkan makanan ke dalam mulutnya sampai penuh. Sepertinya dia sangat-sangat lapar saat ini.


"Aku sudah memikirkannya, Rud! Tapi, bagaimana dengan Bobi? Apa dia bisa pindah ke rumah sakit yang ada di sana?"


Bella mendessah frustasi, beberapa hari ini dia terus memikirkan tawaran dari Rudi yaitu ikut lelaki itu pindah ke luar kota.


Ya, dia telah menceritakan semua kondisinya pada lelaki itu. Bahkan sejak dulu Rudi tau kalau dia adalah seorang wanita malam, tetapi lelaki itu tidak pernah sekalipun menghakiminya.


"Tentu saja bisa, Bella! Apa kau lupa kalau aku ini seorang Dokter?"


Betul juga, Bella menepuk jidatnya dengan senyum malu. Entah karna dia tidak ingin pergi atau apa, yang jelas dia tidak ingat kalau Rudi adalah seorang Dokter.


"Kenapa? Kau berat ya, meninggalkan tempat ini?"


Rudi seakan tau apa yang Bella rasakan, dia sendiri bisa melihat betapa beratnya wanita itu untuk mengambil keputusan pergi dari kota ini.

__ADS_1


"Aku tau apa yang kau pikirkan, tapi kau juga harus memikirkan masa depanmu! Apa yang terjadi kalau sampai keluarga laki-laki itu tau kau sedang mengandung?"


Bella terdiam, dia juga sudah memikirkan tentang hal itu. Bahkan dia sudah memikirkan hal paling terburuk yang akan terjadi, bisa saja mereka mengambil anaknya saat sudah lahir seperti yang ada difilm-film.


"Me-mengandung?"


Bella dan Rudi mendonggakkan kepala mereka saat mendengar suara seseorang, terlihat Rita dan Yola sedang berdiri di dekat mereka saat ini.


"Ka-kalian? Kalian di sini?"


Bella langsung berdiri saat melihat kedua temannya itu, dia lalu menyuruh mereka untuk duduk walau resah gelisah melanda hatinya.


Rita dan Yola segera duduk dikursi yang tersedia, terlihat jelas kekagetan dan kebingungan diwajah mereka saat ini.


Entah kenapa tiba-tiba suasana menjadi canggung, baik Bella, Rudi dan kedua temannya itu. Mereka seolah-olah bingung harus mengatakan apa, padahal sudah berhari-hari mereka tidak bertemu.


"Ba-bagaimana kabar kalian? Aku sedikit kaget melihat kalian ada di sini?"


Bella mencoba untuk mencairkan suasana, walaupun lidahnya terasa sangat kaku untuk mengucapkan kata. Bahkan untuk tersenyum saja rasanya sangat susah.


Jelas saja kedua wanita itu menanyakan tentang kesehatan Bella, karna memang dia minta izin cuti karna sakit.


"Aku, aku baik-baik saja!"


Bella berusaha untuk mengulas senyum, tetapi entah kenapa ada yang terasa tidak nyaman dihatinya saat ini.


"Kalau gitu aku duluan ya Bel, kau bisa mengabariku nanti!"


Rudi beranjak bangun dan hendak pergi meninggalkan tempat itu, sebelumnya dia menyapa Rita dan Yola yang di balas ramah oleh mereka.


Setelah kepergian Rudi, suasana kembali menjadi hening. Rita dan Yola saling lirik seakan-akan saling menyuruh untuk mengatakan sesuatu, apalagi mereka sama-sama merasa ada sesuatu yang terjadi pada Bella.


"em ... bagaimana kabar Bobi, Bel? Dia baik-baik saja kan?" tanya Rita.


"Dia baik Rit, kondisinya juga cukup stabil!"


Rita dan Yola mengucap syukur, mereka senang mendengar kondisi Bobi yang baik-baik saja.

__ADS_1


"Jadi, apa tujuan kalian ke sini? Em ... maksudku, apa kalian datang untuk menemuiku?"


Rita dan Yola mengangguk serentak. "Benar, kami mengkhawatirkan keadaanmu, Bel! Maaf kalau baru bisa datang sekarang!" Yola mendessah penuh sesal.


Bella tersenyum simpul. "Aku mengerti, pasti kerjaan kalian numpuk kan?"


"tentu saja, itu semua kan gara-gara kau cuti!" cibir Rita, dan di balas dengan gelak tawa Bella.


"tapi Bel, apa, apa kau sedang ada masalah?" tanya Yola hati-hati, dia takut dianggap lancang dan sok mau tau.


Bella terdiam, dia sedikit ragu ingin menceritakan pada mereka atau tidak. Ada rasa takut yang menghampiri, karna semakin banyak yang tau, maka semakin besar pula peluang keluarga Abra mengetahuinya.


"Kalau kau tidak mau mengatakannya, kami tidak memaksa, Bel! Yang jelas, kami akan selalu ada buatmu!"


Bella tersentuh mendengar ucapan kedua sahabatnya itu, lalu dia menarik napas panjang dan memutuskan untuk menceritakan semuanya pada mereka.


Rita dan Yola tentu saja sangat terkejut mendengar cerita Bella, mulai dari pekerjaannya dulu sampai kehamilannya sekarang.


"Siapa? Siapa ayah dari anakmu itu, Bel? Kau harus meminta pertanggung jawabannya!"


Rita terlihat emosi, dia tidak bisa membiarkan Bella menanggung anak itu sendirian. Menurutnya laki-laki itu juga harus bertanggung jawab, karna mereka melakukannya sama-sama merasakan nikmat.


"itu tidak perlu, Rit! Semua ini udah resiko dari pekerjaanku, jadi harus aku sendiri yang menanggungnya!"


"Tapi Bel-"


Rita tidak dapat melanjutkan ucapannya saat Bella menarik tangannya, dia hanya bisa menghembuskan napas kasar saja.


"Aku tidak akan membiarkannya, Bella! Itu adalah anak kita, jadi aku juga harus bertanggung jawab!"





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2