Mengejar Cinta Kupu-Kupu Malam

Mengejar Cinta Kupu-Kupu Malam
Bab. 36. Keributan Dikeluarga Abra.


__ADS_3

Pada saat yang sama, Stefy baru saja sampai di dalam kamarnya. Dia langsung membanting tasnya dengan kesal, dia bahkan mengacak-acak seluruh isi kamar itu sampai barang-barangnya berserakan.


Prang


Pyar


"Brengs*ek, dasar wanita j*al*a*ng! Berani sekali kau merebutnya dariku, kau lihat saja apa yang akan aku lakukan padamu!"


Stefy benar-benar merasa marah, bisa-bisanya dia tidak tau tentang kedekatan Abra dengan wanita lain. Bahkan wanita itu sampai hamil, sementara dia saja belum pernah sekalipun tidur dengan laki-laki itu.


"Aaarggh!"


Darahnya terasa mendidih, dia benar-benar tidak terima dengan apa yang Abra lakukan. Tanpa dia sadari, apa yang dia lakukan sebenarnya jauh lebih parah dari apa yang Abra lakukan padanya.


Tring, tring!


Tiba-tiba ponsel Stefy berbunyi dan terlihat Romi sedang menghubunginya, dia terus membiarkan panggilan itu karna malas bicara dengan laki-laki itu.


"Stefy! Ada apa ini?"


Tiba-tiba Mama Sila masuk ke dalam kamar Stefy yang sudah seperti kapal pecah, membuat anaknya itu berbalik dan melihat ke arahnya.


"apa kau sudah gila?"


"ya, Ma! Aku sudah gila karna Abra membatalkan pernikahan kami!"


"Apa?" Mama Sila sangat syok saat mendengarnya. "Ba-bagaimana itu bisa terjadi? Dan kenapa mereka tidak memberitahu Mama?"


"aku tidak tau, aku harus membalas apa yang sudah mereka lakukan padaku!"


"Stefy! Mau ke mana kau?"


Stefy segera menyambar ponsel dan tasnya lalu keluar dari kamar, dia tidak menghiraukan panggilan sang Mama dan berjalan terus ke arah mobilnya.


Mama Sila yang sangat terkejut dengan pembatalan pernikahan itu segera menghubungi suaminya, untuk menanyakan tentang hal tersebut.


"Apa maksud Mama? Bagaimana bisa mereka melakukan semua ini?"


Papa Renal juga sangat terkejut saat mendengarnya, tampak jelas kemarahan dari suaranya saat ini.

__ADS_1


"Papa harus segera menanyakan semua ini pada mereka, Mama tidak terima dengan apa yang mereka lakukan ini!"


Tut, panggilan itu segera terputus saat Mama Sila sudah selesai mengadukan semuanya pada sang suami. Dia lalu beranjak keluar dari sana untuk datang ke rumah keluarga Abra, dia harus menanyakan hal ini secara langsung pada mereka.


Pada saat yang sama, Papa Renal langsung menelpon Papa Adnan dan menanyakan keberadaan laki-laki itu. Dia lalu mematikan panggilannya saat Papa Adnan mengatakan kalau dia sedang berada di rumah.


Beberapa saat kemudian, kedua orangtua Stefy sudah sampai di rumah keluarga Abra. Mereka segera masuk ke dalam rumah itu, dan terlihat kedua orangtua Abra sudah menunggu kedatangan mereka.


"si-silahkan duduk, Tuan, Nyo-"


"Tidak perlu basa-basi lagi, sekarang cepat katakan kenapa kalian membatalkan pernikahan Abra dan juga putriku?"


Suara Papa Renal menggema diseluruh penjuru rumah membuat para pelayan penasaran dengan apa yang sedang terjadi, tetapi mereka hanya bisa melihat dari kejauhan saja karna tidak berani untuk mendekat.


"kami mohon dengarkan penjelasan kami dulu, Tuan! Kami tidak tau kalau semua ini akan terjadi, kami juga-"


"Tutup mulutmu, Adnan! Apa kau tidak sadar sedang bermain-main dengan siapa? Hah!"


Papa Adnan terdiam, begitu juga dengan Mama Sintya yang tidak tau harus mengatakan apa pada mereka tentang semua ini.


"Beraninya, beraninya kalian melakukan ini pada putriku!"


"tolong dengarkan penjelasan kami, Nyonya! Kami juga tidak tau kenapa semua ini bisa terjadi, kami tidak tau kalau Abra sudah, sudah memiliki wanita lain!"


"Apa? Kau bilang apa?"


Tentu saja kedua orangtua Stefy semakin tersulut emosi saat mendengar ucapan Papa Adnan, bisa-bisanya putri mereka dikhianati seperti ini.


"Beraninya bajing*an itu melakukan ini pada putriku! Aku pasti akan membunuhnya!"


Papa Renal segera berbalik dan hendak mencari keberadaan Abra, tetapi langkahnya tertahan saat melihat Soni berdiri di ambang pintu.


"Minggir kau, aku harus membuat perhitungan dengan kepa*r*at itu!"


Bukannya minggir, Soni semakin memajukan tubuhnya sampai berhadapan langsung dengan Papa Renal. Dia yang baru tiba di rumah sangat terkejut saat mendengar teriakan mereka, jelas saja emosinya langsung naik dengan apa yang kedua orangtua Stefy lakukan.


"tolong jaga emosi anda, Tuan! Seharusnya anda bertanya pada putri anda dulu sebelum menyalahkan adik saya!"


"Diam kau, dan jaga mulutmu itu!"

__ADS_1


Soni tersenyum sinis, memang benar pepatah mengatakan kalau semut yang ada diujung lautan terlihat, tetapi gajah yang dipelupuk mata tidak kelihatan. Begitulah yang saat ini sedang terjadi, kesalahan putrinya sendiri tidak terlihat dan malah menyalahkan orang lain.


"Stefy dululah yang mengkhianati cinta Abra, dan wanita itu selingkuh dengan Romi bahkan sampai tidur bersama! Lalu, kenapa Tuan malah menyalahkan adik saya untuk semua ini? Jelas-jelas putri anda yang duluan menyalakan api!"


Kedua tangan Papa Renal mengepal kuat mendengar ucapan Soni, tanpa menunggu waktu lagi dia langsung melayangkan pukulan kewajah laki-laki itu.


Buak!


Semua orang sangat terkejut melihat apa yang terjadi, sementara Soni mundur beberapa langkah akibat pukulan dari laki-laki paruh baya itu.


"Beraninya kau mengatakan putriku seperti itu!"


Papa Renal segera mencengkram kerah kemeja Soni membuat semua orang berlari ke arah mereka, dan berusaha untuk melepaskan cengkraman itu.


"Tolong lepaskan dia, Tuan! Dan kita bisa membicarakan semua ini dengan baik-baik!"


Papa Adnan berusaha untuk menarik tangan Papa Renal, dia tidak mau keributan ini sampai terdengar ke semua orang.


"kenapa anda marah, Tuan? Saya hanya mengatakan yang sebenarnya, silahkan tanya pada putri anda tercinta!"


"kau-"


"Cukup, Soni!"


Teriakan papa Adnan langsung menghentikan apa yang terjadi, bahkan cengkraman Papa Renal sudah terlepas saat ini.


"Kenapa, Pa? Kenapa Papa menghentikanku, bukannya apa yang aku-"


Plak!


Papa Adnan kembali menampar Soni dengan kuat, wajahnya memerah karna emosi melihat laki-laki itu.


"Sudah ku katakan untuk diam, kau tidak berhak untuk ikut campur dalam hal ini!"




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2