Mengejar Cinta Kupu-Kupu Malam

Mengejar Cinta Kupu-Kupu Malam
Bab. 56. Berkumpul di Rumah Sakit.


__ADS_3

Mama Sintya terdiam dengan tatapan sendu saat mendengar ucapan papa Adnan, lalu laki-laki paruh baya itu kembali menggenggam tangannya.


"Maafkan aku, maafkan aku karena sudah menyakitimu, Sayang. Maafkan aku." Papa Adnan terisak dengan lirih membuat hati mama Sintya merasa tidak tega, tetapi rasa sakit akibat perbuatan suaminya itu masih terasa menusuk dada.


"Aku benar-benar bod*oh, Sayang. Aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri hingga menyakitimu, juga anak-anak kita,"


"Mas." Mama Sintya kembali menarik tangannya tetapi ditahan oleh papa Adnan. "Aku datang ke sini untuk melihat keadaanmu, dan merawatmu karena hubungan kita masih sepasang suami istri. Tapi, bukan berarti aku dan anak-anak sudah memaafkanmu begitu saja. Rasa sakit yang kau buat masih sangat membekas di hati ini."


Papa Adnan menundukkan kepalanya. "Aku tahu, Sayang. Aku sadar bahwa aku sudah sangat ketelaluan, dan seharusnya aku dihukum untuk apa yang sudah aku lakukan."


Mama Sintya kembali diam, dia sebenarnya merasa tidak tega melihat keadaan sang suami. Namun, dia tidak mau langsung menerima permintaan papa Adnan dan ingin melihat apakah laki-laki itu tulus atau tidak.


"Baiklah. Lupakan tentang semua itu, Mas. Fokus saja untuk kesembuhanmu, dan aku akan menemanimu di sini,"


"Be-benarkah?" tanya papa Adnan yang dijawab dengan anggukan kepala mama Sintya.


Papa Adnan merasa sangat senang sekali, dan dia berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang dulu dia lakukan. "Terima kasih karena masih peduli padaku, Sintya. Aku benar-benar sangat senang sekali."


Mama Sintya hanya tersenyum saja untuk menanggapi apa yang papa Adnan katakan, dia lalu beralih masuk ke dalam kamar.


Sementara itu, dia tempat lain Abra dan juga Soni sudah selesai meninjau beberapa lokasi proyek yang bermasalah. Mereka terpaksa harus mengganti kerugian yang terjadi, tetapi untungnya partner bisnis mereka tetap mau bekerja sama."


"Hah, kepalaku sakit sekali." Abra memijat pelipisnya yang terasa berdenyut sakit, sementara Soni juga ikut merebahkan tubuhnya yang terasa lelah.


"Bagaimana, Kak. Apa semuanya sudah selesai?" tanya Abra yang langsung diangguki oleh Soni.

__ADS_1


"Baguslah. Kita hanya tinggal menunggu dan menarik perhatian kolega bisnis saja." Abra menghembuskan napas lega, karena akhirnya semua masalah sudah di selesaikan.


****


Tepat pukul 7 malam, Abra dan yang lainnya sudah berkumpul di apartemen Soni dan hanya mama Sintya sajalah yang tidak bersama mereka.


"Bagaimana keadaan papa, Sayang? Papa baik-baik saja, 'kan?" tanya Abra sambil melihat ke arah Bella.


"Papa baik, Sayang. Hanya butuh istirahat dan juga semangat, untuk itulah mama ada di sana," jawab Bella.


Abra dan Soni sangat senang saat mendengarnya, mereka juga ingin sekali melihat keadaan sang papa tetapi belum ada waktu karena pekerjaan yang harus diselesaikan.


"Oh ya, ada hal penting yang ingin aku katakan." Bella menatap Soni dan Abra secara bergantian membuat mereka menatap penasaran. "Aku tidak tau bagaimana tanggapan kalian tentang papa, tapi aku merasa jika mama ingin sekali kembali bersama dengan papa. Aku tau apa yang sudah papa lakukan itu sangat menyakiti mama dan juga kalian berdua, tapi biar bagaimana pun. Mama tetap mencintai papa, dan mereka sudah menjalin ikatan pernikahan selama puluhan tahun. Bukankah hati mereka sangat tersiksa jika berjauhan seperti ini?"


"Aku mohon, biarkanlah mama bersama dengan papa. Aku bukannya tidak suka tinggal bersama mama, hanya saja aku tidak sanggup melihat kesepian dan kesedihan di mata mama saat sedang sendirian,"


"Kau benar, Bella. Dan sebenarnya aku juga merasakan semua itu, aku merasakan kesendirian dan kesepian dalam hati mama. Sejujurnya aku j7ga tidak pernah melarang mama untuk kembali pada papa, hanya saja aku takut jika papa kembali menyakiti mama," ucap Soni.


"Rasa takut itu wajar, Kak. Tapi selama puluhan tahun papa dan mama mengarungi bahtera rumah tangga, belum pernah papa menyakiti mama seperti itu, kan? Mungkin saja saat itu papa benar-benar tidak bisa mengendalikan diri, dan tidak sengaja melukai mama."


Abra dan Soni menganggukkan kepalanya. "Kau benar, Sayang. Aku juga tidak keberatan jika mama ingin kembali pada papa, aku juga sudah memaafkan dan melupakan apa yang  terjadi di masa lalu."


"Ya sudah. Kalau gitu besok pagi kita ke rumah sakit, aku akan siapkan makanan yang enak untuk mama dan papa," ucap Bella dengan semangat membuat Abra dan Soni tersentum sambil mengangguk setuju.


****

__ADS_1


Keesokan harinya, tepat pukul 9 pagi. Mereka semua sudah tiba di rumah sakit tempat papa Adnan dirawat. Mereka segera masuk ke dalam rumah sakit tersebut dengan membawa makanan yang sudah Bella persiapkan sebelumnya.


Mama Sintya dan papa Adnan saat itu sedang duduk sambil diperiksa oleh seorang Dokter, dan tidak berselang lama masuklah mereka ke dalam ruangan.


"Selamat pagi Ma, Pa."


Mama Sintya dan juga papa Adnan terkejut saat melihat kedatangan mereka, terutama papa Adnan yang langsung berkaca-kaca saat melihat mereka.


"Kalian ke sini?" Mama Sintya segera menghampiri mereka semua dan mengecup pipi masing-masing, tidak lupa dengan Bobi juga.


"Bagaimana keadaan papa kami, Dokter?" tanya Soni pada Dokter yang baru selesai melakukan pemeriksaan.


"Keadaan pasien sudah sangat baik, Tuan. Mungkin besok sudah bisa pulang ke rumah."


Mereka semua merasa lega saat mendengar ucapan Dokter, sementara papa Adnan sudah meneteskan air matanya. Bukan karena mendengar kesehatannya, tapi karena kedatangan mereka semua.


"Terima kasih, terima kasih kalian sudah datang untuk melihat manusia yang bod*oh dan jahat ini."





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2