Mengejar Cinta Kupu-Kupu Malam

Mengejar Cinta Kupu-Kupu Malam
Bab. 29. Anak Itu Darah Dagingku.


__ADS_3

Abra terdiam mendengar ucapan Soni, dia juga berpikir bahwa anak yang ada dalam kandungan Bella adalah darah dagingnya. Akan tetapi, dia masih belum tau berapa usia kandungan bayi itu.


Sementara itu, di dalam ruangan masih ada Bella dan Dokter yang memeriksanya sedang duduk saling berhadapan, karna Bella ingin bicara 4 mata dengannya.


"Apa, apa yang ku dengar itu benar, Dokter? Kalau aku, sedang hamil?"


Dokter itu menganggukkan kepalanya. "Pemeriksaan saya seperti itu, Nona! Tapi agar lebih jelas, mari saya antar ke Dokter kandungan!"


Bella terdiam, dia menggigit bibir bawahnya saat mendengar ucapan Dokter. Kedua tangannya saling bertautan, sungguh dia tidak menyangka kala dia sampai hamil seperti ini.


"Nona baik-baik saja?"


Dokter itu menggenggam kedua tangan Bella yang bergetar, dia mengerti bagaimana perasaan pasiennya saat ini.


"Ke-kenapa aku bisa hamil, Dokter? Aku, aku hiks!"


Bella sudah tidak bisa lagi untuk menahan air matanya, rasanya Takdir terus mempermainkannya tiada henti.


Baru saja dia bisa menghirup udara bebas, dan lepas dari kubangan lumpur hitam. Namun, kenapa dia seolah-olah tidak diperbolehkan untuk bahagia? Ada saja cobaan yang menggantam hidupnya, membuat dia sungguh tidak sanggup lagi untuk bertahan.


Dokter itu langsung menarik Bella ke dalam pelukannya, dia mencoba untuk menenangkan pasiennya itu agar janin yang sedang dikandung tidak berada dalam bahaya.


"Aku tidak mau hamil, Dokter! Aku tidak menginginkan anak ini, huhuhu!"


Tangisan Bella begitu menyayat hati, tetapi harus bagaimana lagi sekarang. Semua sudah terjadi, dan waktu tidak bisa diputar ulang.


"Jangan menyalahkan janin yang tidak berdosa ini, Nona! Dia tidak tau apa-apa tentang dunia ini, dan kitalah yang sudah melakukan kesalahan!"


Bella semakin terisak dalam pelukan Dokter itu, dia tidak tau lagi harus bagaimana dan melakukan apa saat ini.


"jadi tenangkan diri Nona, lebih baik sekarang kita periksa dulu keadaan kandungan Nona!" ajak Dokter itu kemudian.


Bella menganggukkan kepalanya dengan lemah, tangannya lalu terangkat menyentuh perutnya yang masih rata.


Abra, Soni dan Rafi yang masih berada di depan ruang UGD langsung berdiri saat melihat Dokter membawa Bella keluar dengan menggunakan kursi roda.


"Ka-kau mau ke mana Bella?"

__ADS_1


Abra mendekati Bella yang sedang menatap lurus ke depan, tanpa berniat untuk melihat ke arah mereka.


"maaf Tuan, saya harus mengantar pasien ke Dokter kandungan!"


"Kalau gitu aku ikut!"


Bella langsung menatap Abra dengan tajam. "Tidak perlu, Tuan! Saya sangat berterima kasih atas bantuan anda, dan saya berharap anda bisa pergi dari tempat ini!"


Bella lalu mengajak Dokter itu setelah selesai bicara pada Abra, sementara Abra dan yang lainnya mematung di tempat mereka melihat kepergian wanita itu.


"Lebih baik kita pergi dulu, Abra! Biarkan wanita itu sedikit tenang, aku yakin kalau dia juga sangat terguncang dengan berita kehamilannya itu!"


Abra menggelengkan kepalanya. "Aku akan tetap di sini kak, jadi kakak dan Rafi pulang saja! Aku akan mengurus urusan ku sendiri!"


"Tapi Abra-"


Soni tidak bisa melanjutkan ucapannya karna Abra sudah beranjak pergi dari sana, dia hanya bisa menghela napas berat melihat kejadian ini.


"Ayo kita pergi, Rafi! Sepertinya ada banyak hal yang harus kau ceritakan padaku!"


Bella yang sudah sampai di ruang Dokter kandungan segera diperiksa, dan hasil pemeriksaannya benar-benar menyatakan kalau dia sedang hamil.


"Selamat ya Nona, sebentar lagi anda akan menjadi seorang Ibu. Tapi, usia kandungan anda ini masih sangat muda, yaitu sekitar 3 atau 4 minggu. Jadi, Nona harus banyak istirahat dan tidak boleh melakukan aktivitas yang melelahkan!"


Bella terdiam mendengar semua ucapan Dokter, air mata kembali menetes membuat wajahnya basah.


"Aku benar-benar hamil? Kenapa? Kenapa, Tuhan? Kenapa kau berikan anak ini padaku?"


Ingin rasanya Bella berteriak dan meluapkan segalanya, betapa kejam takdir yang Tuhan berikan padanya saat ini.


"Nona! Nona baik-baik saja kan?"


Bella sedikit kaget dengan panggilan Dokter itu. "Saya, saya baik-baik saja, Dokter!"


Dokter itu menganggukkan kepalanya, kemudian dia meresepkan vitamin agar Bella tidak lemas dan janin yang ada dalam kandungannya pun kuat.


Abra yang sejak tadi berdiri di balik pintu terus mendengar ucapan Dokter, dia sebenarnya ingin sekali masuk ke dalam, tapi dia takut kalau Bella akan menolak kehadirannya.

__ADS_1


"Ka-kalau gitu saya permisi, Dokter! Terima kasih!"


Bella lalu memundurkan kursi rodanya setelah melihat anggukan dari Dokter, dia harus segera menebus vitamin itu dan keluar dari rumah sakit.


"Bella!"


Bella menatap tajam ke arah Abra yang ternyata masih ada di tempat itu, dia lalu membuang muka dan enggan untuk bicara dengannya.


"Bella, aku mohon! Ayo, kita bicarakan ini baik-baik!"


"Tidak ada yang harus kita bicarakan, Tuan! Permisi!"


Abra menahan kursi roda Bella membuat wanita itu mengepalkan kedua tangannya, tanpa di duga. Abra langsung berlutut tepat di hadapan Bella membuatnya terlonjak kaget.


"Apa, apa yang anda lakukan?"


Abra tetap diam dalam posisi seperti itu membuat beberapa orang yang melintas memperhatikan mereka, tetapi dia tidak peduli sama sekali.


"Tuan-"


"Tolong bicara padaku, dan dengarkan aku, Bella! Ini demi masa depan kita, juga demi anak kita!"


Deg, jantung Bella berdebar kencang mendengar ucapan Abra. "Ini, ini bukan anak anda! Aku adalah seorang pe*l*a*c*u*r, jadi anda tidak perlu-"


"Tidak, Bella! Aku tau kalau itu adalah anakku, darah dagingku!"


Bella terdiam, dia juga yakin kalau anak itu adalah anak Abra. Dari usia kandungannya saja sudah terlihat, dan sudah hampir 2 bulan dia tidak berhubungan dengan laki-laki lain selain Abra.


Melihat Bella diam, Abra langsung berdiri dan membawanya pergi dari tempat itu. Mereka harus bicara 4 mata mengenai hubungan mereka kedepannya.





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2