Mengejar Cinta Kupu-Kupu Malam

Mengejar Cinta Kupu-Kupu Malam
Bab. 48. Bantuan Dari Tuhan.


__ADS_3

Setelah operasi itu selesai, petugas medis segera memindahkan Bobi ke ruang perawatan. Namun, saat ini mereka belum bisa menjenguknya dikarenakan kondisi pemuda itu belum stabil.


"Lebih baik Mama dan Kak Soni pulang saja, biar aku dan Abra yang menunggu di sini," ucap Bella. Dia tidak mau menyusahkan sang mertua dan dia ingin kalau mama Sintya istirahat saja di rumah.


"Kau ini ngomong apa sih? Lagian mama mau nungguin putra mama kok malah disuruh pulang," ucap mama Sintya dengan kesal. Bella memang selalu saja perhatian padanya, bahkan wanita itu sering memijat kakinya jika habis berjualan.


"Iya bener. Aku juga masih mau di sini, di apartemen pun sunyi." Soni memilih untuk di rumah sakit, karena saat ini toko mereka sedang tutup.


"Iya lah sunyi, orang tetangga sebelah lagi pergi," sindir Abra membuat Soni langsung salah tingkah.


"Iya ya, kok Rita enggak pulang-pulang, Bel? Dia baik-baik saja kan?" Mama Sintya merasa khawatir. Pasalnya sudah hampir satu minggu wanita itu belum pulang ke apartemen, Rita juga tidak memberi kabar pada Bella.


"Mama enggak usah khawatir, lagi pula Rita kan pulang ke rumah orangtuanya. Jadi dia pasti baik-baik saja."


Ucapan Bella langsung diaminkan oleh semua orang, termasuk Soni yang entah kenapa terus saja memikirkan Rita saat wanita itu tidak bersama mereka.


Di tengah obrolan itu, tiba-tiba ponsel Abra berdering membuat dia langsung mengambil benda pipih tersebut.


"Nomor tidak dikenal?" Dia segera menjawab panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal.


"Halo?"


"...."


"Benar, saya adalah Abra,"


"...."


"Be-benarkah?"


"...."


"Baik, baik, Tuan. Sekarang saya dan kakak saya akan segera menemui Anda, terima kasih, Tuan."


Tut. Panggilan itu langsung terputus saat mereka sudah selesai bicara membuat semua orang melihatnya dengan penuh tanda tanya.

__ADS_1


"Ada apa, Abra? Siapa yang menelponmu?" tanya Soni.


"Tuan Kiano, Kak. Dia Direktur dari Angkasa group,"


"Benarkah? Ke-kenapa dia menelponmu? Bukannya kita tidak pernah bekerja sama dengan mereka?"


Abra menganggukkan kepalanya. Kemudian dia menceritakan bahwa laki-laki bernama Kiano itu ingin menjadi investor untuk perusahaan yang akan mereka bangun, bahkan dia juga menawarkan dua orang investor lagi yang akan ikut bergabung bersama dengan mereka.


"A-apa kau bercanda? Bagaimana mungkin dia bisa menawarkan diri sebagai investor, sementara kita saja tidak pernah berhubungan dengan mereka. Apa kau yakin kalau ini bukan penipuan?" Soni benar-benar merasa kalau semua ini sangat tidak masuk akal.


"Dia mengetahuinya dari Rafi, kak. Katanya dia yang sudah menawarkan kerja sama padanya, itu sebabnya kita harus pergi sekarang," ajak Abra kemudian. Mereka harus segera pergi untuk menemui orang tersebut sebelum terlambat.


"Pergilah, Nak. Mungkin ini salah satu bantuan dari Tuhan, yang penting kalian harus selalu hati-hati."


Abra dan Soni menganggukkan kepala mereka pada sang mama, lalu beranjak pergi dari tempat itu untuk menemui Direktur dari Angkasa group.


Beberapa saat kemudian, mereka berdua sudah sampai di tempat yang telah disepakati. Kedatangan mereka disambut dengan ramah oleh sekretaris dari direktur tersebut dan langsung dibawa masuk ke dalam restoran.


"Silahkan duduk, Tuan."


"Senang bertemu dengan Anda berdua, Tuan. Perkenalkan, nama saya Kiano." Laki-laki berparas tampan itu langsung mengulurkan tangannya yang disambut oleh tangan Abra dan Soni secara bergantian.


"Kami yang merasa sangat senang dan beruntung dengan pertemuan ini, Tuan," ucap Soni dengan ramah dan rendah hati.


"Saya sudah banyak mendengar tentang Anda berdua, walaupun sebelumnya kita tidak pernah menjalin kerja sama,"


"Anda benar, Tuan. Kami juga seperti itu, kami sudah mendengar bagaimana hebatnya Anda dalam menguasai bisnis dalam era ini,"


"Ah, Anda bisa saja, Tuan Abra."


Mereka bertiga lalu sedikit mengobrol untuk mengakrabkan diri sebelum mulai membahas masalah bisnis.


Setelah cukup, mereka mulai membahas proyek pembangunan perusahaan yang akan didirikan oleh Abra dan juga Soni. Kedua kakak beradik itu menjelaskan dengan rinci semua rencana yang akan mereka lakukan, juga tentang sasaran pasar yang akan dicapai.


"Saya tidak percaya dengan semua rencana kalian ini, ini benar-benar akan menghasilkan keuntungan besar untuk kita,"

__ADS_1


"Terima kasih, Tuan. Kami masih merasa kurang dan mohon untuk bantuan dari Anda," ucap Soni. Dia tau pujian Kiano itu bermakna sebagai sesuatu yang baik dan akan jauh lebih baik lagi jika diperbaiki.


"Baiklah. Saya suka dengan semua rencana Anda ini, dan saya akan memberikan dana sebesar 50% untuk proyek ini."


Abra dan Soni terlonjak kaget dengan apa yang Kiano katakan. "A-Anda serius, Tuan?"


"Tentu saja. Saya sudah bisa melihat kesuksesan dalam perusahaan ini, dan saya pastikan mereka yang sudah menolak kalian pasti akan sangat menyesal!"


Abra dan Soni benar-benar merasa bahagia dengan apa yang terjadi saat ini. Mereka tidak menyangka kalau tiba-tiba saja datang keajaiban dengan mengirimkan seorang Kiano sebagai investor besar yang akan bekerja sama dengan mereka.


Kiano sendiri juga merasa senang. Sebenarnya sudah lama dia mendengar kehebatan Abra dan juga Soni, hanya saja perusahaan mereka tidak bisa bekerja sama karena adanya perbedaan dalam jenis usahanya.


"Tidak sia-sia aku mendengarkan rengekan bocah itu setiap malam, rupanya mereka berdua ini benar-benar hebat." Kiano tersenyum dengan puas.


Setelah semuanya disepakati, besok mereka akan kembali bertemu dengan 2 investor yang lainnya. Mereka juga akan langsung membahas tentang pembangunan dan juga pabrik untuk pembuatan produk mereka.


"Sekali lagi terima kasih atas kesediaan Anda untuk bergabung bersama dengan kami, kami benar-benar merasa sangat beruntung, Tuan,"


"Benar, Tuan. Kami berharap semoga perusahaan ini nantinya akan menjadi sukses dan jaya seperti perusahaan Anda," sambung Abra, dan semua itu di benarkan oleh Soni.


"Tidak. Saya berharap perusahaan ini nantinya akan menjadi perusahaan yang paling sukses dan berjaya."


Mereka semua lalu saling bersalaman dan memutuskan untuk kembali ke rumah masing-masing.


"Bagaimana, Kak? Kau puaskan, dengan proposal mereka?" Tiba-tiba seorang wanita menghampiri Kiano yang masih berada di tempat itu.


"Ya, ternyata apa yang kau katakan itu benar. Dan kakak mau kalau kau sendiri yang akan mengurus kerja sama ini, Rita."





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2