Mengejar Cinta Kupu-Kupu Malam

Mengejar Cinta Kupu-Kupu Malam
Bab. 43. Sederhana Asal Bahagia.


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, Abra dan Bella menggelar acara pernikahan mereka di apartemen. Mereka sengaja melakukannya di tempat itu karna hanya mengundang keluarga dan teman dekat saja.


Terlihat Soni sudah sibuk ke sana kemari untuk menyiapkan acara yang akan diadakan satu jam, begitu juga dengan Rita dan Yola yang ikut membantu persiapan itu.


Abra sendiri sudah duduk disebuah kursi yang ada di tengah ruangan, di temani oleh Mama dan juga Pamannya yang merupakan adik kandung dari Mama Sintya.


"apa Kakak ipar tidak akan datang, Kak?" bisik laki-laki paruh baya itu pada Mama Sintya.


"Tidak, dan jangan lagi membahas tentang dia!"


Laki-laki paruh baya itu langsung menutup mulutnya saat mendapat ultimatum dari sang kakak, dia lalu melihat ke arah depan di mana pak penghulu baru saja sampai di tempat itu.


Rita dan Yola segera ke kamar untuk memanggil Bella, mereka juga menggandeng lengan wanita itu di kiri dan kanan lalu membawanya duduk di samping Abra.


Semua orang yang ada di ruangan itu sudah duduk di tempat masing-masing, terlihat Rita sudah melakukan video call dengan Bobi yang ingin melihat pernikahan kakaknya.


"SAH!"


Satu kata itu menggama di seluruh penjuru apartemen, sebagai tanda bahwa saat ini status Abra dan Bella sudah resmi menjadi sepasang suami istri.


Semua orang menangis haru melihat momen sakral itu, terutama Bella yang merasa sangat sedih karna tidak punya saudara yang bisa menemaninya dimomen bahagia ini.


"Jangan menangis lagi, Nak! Sekarang ada Mama di sini, juga ada Abra dan Soni. Kami semua keluargamu!"


Bella menganggukkan kepalanya sambil memeluk tubuh Mama Sintya dengan erat, dia benar-benar bersyukur karna dipertemukan oleh orang-orang baik seperti mereka.


Semua orang mengucapkan selamat pada Abra dan juga Bella karna sudah resmi menikah, tidak lupa ada hadiah juga yang mereka siapkan untuk sepasang pengantin baru itu.


"Kau benar-benar tidak mau mengadakan resepsi, Abra?" Soni berbicara tepat ditelinga adiknya membuat Abra langsung memalingkan wajah ke arahnya.


"Itu tidak perlu, Kak! Aku sudah sangat bahagia bisa menikah dengan Bella sekarang!"

__ADS_1


Soni menghembuskan napasnya dengan kasar, dia merasa sedih karna pernikahan Abra hanya dihadiri sekitar 20 orang saja. "Uang kita lebih dari cukup untuk menggelar acara resepsi, Abra!"


"Udah dibilang itu enggak perlu, Kak! Lagipula Bella enggak mau mengadakan resepsi, dia cuma mau sederhana kayak gini aja!"


Soni sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia lalu menepuk bahu Abra dan kembai duduk di samping sang Mama.


Setelah semua acara selesai, mereka semua berkumpul untuk menikmati makan siang. Kehadiran Rafi di tempat itu benar-benar membuat ramai suasana, apalagi ditambah dengan Rita dan juga Yola, membuat Mama Sintya selalu tertawa.


Suasana bahagia itu sangat berbanding terbalik dengan apa yang sedang terjadi di perusahaan, tampak semua pemegang saham menanyakan keberadaan Abra dan Soni pada Papa Adnan.


"Ke mana mereka? Sudah 3 hari Tuan Abra dan Tuan Soni tidak masuk kantor, tidak mungkin anda sebagai orang tua mereka tidak mengetahuinya!"


Papa Adnan terdiam dikursinya, tidak mungkin dia mengatakan kalau telah mengusir kedua putranya dari rumah dan juga perusahaan.


"Saya dan Kevin yang akan menghendel seluruh pekerjaan mereka, dan kalian tidak perlu khawatir dengan semuanya!"


Laki-laki yang ada di samping Papa Adnan tersenyum senang karna diberi jabatan sebagai direktur menggantikan posisi Soni, sudah sangat lama dia ingin menduduki jabatan tersebut.


"Bukan itu yang sedang kami tanyakan sekarang, Tuan Adnan! Kami bertanya di mana keberadaan putra-putra anda!"


"Cukup! Saya adalah presdir di perusahaan ini, dan yang harus kalian lakukan hanya percaya pada saya saja! Masalah Soni dan Abra, itu bukan merupakan urusan kalian!"


Semua pemegang saham terpaksa menutup mulut mereka saat sudah mendapat penegasan dari Papa Adnan, padahal selama ini mereka sangat puas dengan cara kerja Abra dan juga Soni.


Ternyata bukan hanya para petinggi saja yang bertanya-tanya tentang keberadaan dua bersaudara itu, bahkan semua karyawan sudah heboh karna Soni dan Abra tidak datang ke perusahaan.


Hanya Rita dan Yola saja lah yang tau di mana dua lelaki itu saat ini, mereka juga sudah mendengar cerita dari Bella dan berharap agar orang lain tidak mengetahuinya.


"Si*alan!" Papa Adnan menggeram marah saat semua petinggi menanyakan keberadaan kedua putranya, rasa kesal yang sedang dia rasakan semakin berlipat ganda sekarang.


"Minum dulu, Paman!" Kevin memberikan segelas air untuk laki-laki paruh baya itu, tetapi Papa Adnan tidak peduli dan tetap memandang lurus ke depan.

__ADS_1


"Pastikan tidak ada lagi yang menanyakan kabar mereka di perusahaan ini, Kevin! Aku tidak mau lagi mendengarnya!"


Kevin langsung menganggukkan kepalanya mendengar perintah sang Paman. "Baik, Paman! Kalau gitu aku permisi dulu!" Dia segera keluar dari ruangan itu setelah melihat anggukan kepala Papa Adnan.


"Hah!" Laki-laki paruh baya itu menyandarkan tubuhnya yang terasa sangat lelah, tidak di rumah tidak di perusahaan. Semua orang terus saja menanyakan keberadaan Abra dan juga Soni.


Sebenarnya dia sudah sangat merindukan istrinya, dia juga merasa sangat lelah jika harus mengurus perusahaan tanpa Abra dan juga Soni.


Namun, dia harus memberi pelajaran dulu pada mereka. Supaya istri dan juga anak-anaknya itu bisa menuruti semua yang dia katakan, karna dia yakin mereka pasti akan kembali.


Kemudian Papa Adnan memanggil sekretarisnya melalui sambungan intercom, untuk datang ke ruangannya.


"ya, Tuan?"


"Tetap awasi pergerakan Abra dan juga Soni, aku yakin kalau mereka berdua pasti akan mulai membangun sebuah perusahaan!"


Laki-laki itu menganggukkan kepalanya. "Baik, Tuan! Lalu, bagaimana dengan Rafi dan juga Dian, Tuan?" Laki-laki itu menanyakan nasib sekretaris Abra dan juga Soni.


"Mereka berdua orang-orang yang pintar dan juga cekatan, jadi tetap berikan pekerjaan pada mereka. Jadikan Rafi sebagai sekretaris Kevin, dia harus membantu Kevin agar bisa memajukan perusahaan!"


Laki-laki itu kembali mengangguk paham, dia lalu segera berbalik dan keluar dari ruangan itu.


"Oh ya, dan satu lagi!"


Dia yang sudah mencapai pintu kembali membalikkan tubuhnya, dan melihat ke arah Papa Adnan.


"Pastikan tidak ada investor yang mau bekerja sama dengan mereka!"



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2