
Abra dan Soni lalu menceritakan tentang keadaan perusahaan pada mama Sintya dan juga Bella, kedua wanita itu sangat syok saat mengetahui apa yang sedang terjadi.
"Ba-bagaimana dengan Papa? Maksud mama-" Mama Sintya merasa khawatir dengan keadaan suaminya, biar bagaimana pun dia tetap masih sangat mencintai laki-laki itu.
"Papa berada di rumah sakit, Ma. Jika Mama mau, Mama bisa menjenguknya," ucap Soni membuat mata mama Sintya berkaca-kaca.
"Setelah apa yang papa lakukan kepada kalian, apa kalian tetap mau berhubungan dengannya?" tanya mama Sintya dengan lirih.
Abra dan Soni sama-sama tersenyum dengan apa yang mama mereka tanyakan.
"Ma, rasa sakit tentang masa lalu jelas masih ada dihati kami. Tapi bukan berarti kami berdiam diri dengan apa yang terjadi pada papa saat ini, kami sudah memaafkannya dan mencoba untuk menghilangkan rasa sakit itu. Lagi pula semua sudah berlalu, terlebih-lebih mama punya hak untuk memutuskan semuanya. Jika Mama ingin kembali pada papa, maka kami akan mengikuti apa yang Mama inginkan."
Mama Sintya terisak mendengar ucapan Abra, sungguh dia sangat bangga sekali dengan kedewasaan kedua putranya.
"Baiklah. Mama akan menjenguk dan merawat papa kalian dulu, urusan yang lainnya biarlah Tuhan saja yang mengaturnya."
Abra dan Soni menganggukkan kepala mereka, kemudian Abra berniat untuk pindah ke apartemennya dan Bella sendiri karena sejak waktu itu mereka masih tinggal bersama dengan Soni.
"Tinggalah di sini sampai Bella melahirkan, Abra. Mama ingin menjaganya."
Abra menganggukkan kepalanya, dia lupa jika sebentar lagi istrinya akan melahirkan.
****
Keesokan harinya, Abra dan Soni segera berangkat ke perusahaan untuk menyelesaikan masalah yang telah terjadi. Abra akan mengatasi masalah pemegang saham dan juga kolega bisnis, sementara Soni akan menyelesaikan masalah kerugian dan juga proyek yang terhambat di perusahaan.
"Selamat pagi, Tuan." Rafi dan Rama menyambut kedatangan mereka di pintu masuk perusahaan.
__ADS_1
Abra dan Soni mengganggukkan kepala mereka lalu berjalan masuk ke dalam perusahaan dengan diikuti sekretaris mereka masing-masing.
Para karyawan yang melihat kedatangan Abra dan Soni langsung memberikan sapaan, mereka sangat senang melihat kedua pimpinan mereka kembali ke perusahaan.
"Tuan Abra dan tuan Soni pasti akan menyelesaikan masalah yang terjadi,"
"Iya benar. Mereka berdua itu sangat hebat, perusahaan pasti akan keluar dari krisis jika ada mereka,"
"Itu benar. Mereka akan kembali mengembangkan perusahaan,"
Itulah ucapan para karyawan saat melihat kedatangan kedua putra papa Adnan, dan semoga mereka bisa menyelesaikan semuanya.
Abra segera menuju ruang rapat di mana para pemegang saham akan berkumpul, karena sebelumnya Rafi sudah meminta mereka datang untuk membahas sesuatu yang sangat penting.
Beberapa saat kemudian, para pemegang saham sudah berkumpul di ruangan itu. Mereka senang saat melihat Abra kembali ke perusahaan, dan mereka berjanji akan tetap mendukung perusahaan jika Abra dan Soni kembali memimpin perusahaan.
Semua pemegang saham setuju dengan apa yang Abra katakan. Kemudian mereka bersedia untuk meyakinkan para kolega bisnis agar tetap menjalin kerja sama dengan perusahaan.
Sementara itu, Soni sedang rapat dengan para dewan direksi dan juga keuangan perusahaan untuk membuat rencana agar perusahaan tidak semakin mengalami kerugian.
"Kita harus tekankan biaya produksi dan juga pemasaran, kita harus membuat strategi penjualan agar menarik minat para konsumen. Diskusikan masalah ini dengan pihak pemasaran dan penjualan, saya akan tambahkan modal dan juga aliran dana untuk menyokong kerugian yang sudah terjadi,"
"Baik, Tuan."
Semua orang tampak semangat dengan apa yang Soni katakan, apalagi dengan kehadiran laki-laki itu yang menjadi angin segar untuk mereka yang sudah berpikir jika perusahaan akan segera bangkrut.
Setelah menyelesaikan masalah di sana sini, Abra dan Soni bergegas untuk meninjau pembangunan proyek yang sedang berjalan sekaligus proyek yang mengalami penurunan.
__ADS_1
Sementara itu, di tempat lain terlihat mama Sintya dan Bella sedang berada di rumah sakit untuk menjenguk papa Adnan. Terlihat kepala pembantu sedang menemani lelaki paruh baya itu yang sedang terlelap dengan nyaman.
"Nyo-nyonya?" Kepala pelayan terkejut saat mama Sintya membuka pintu ruangan itu. "Nyonya, Andi di sini?" Dia bergegas menghampiri mama Sintya dan juga Bella yang berdiri di ambang pintu.
"Bagaimana keadaan tuan Adnan?" tanya mama Sintya dengan lirih membuat kepala pelayan itu menatap sendu.
"Tuan besar baik-baik saja, Nyonya. Hanya saja tuan sangat tidak bersemangat dan enggan untuk sembuh," jawabnya sambil melihat ke arah sang tuan.
Mama Sintya mendekati ranjang dan berdiri tepat di sampingnya, dia menatap wajah sang suami yang sangat pucat dengan sendu.
"Tuan Adnan, ini saya. Saya datang untuk menjenguk tuan," ucap mama Sintya membuat kedua mata papa Adnan langsung mengerjapkan.
"Si-sintya? Kau, kau di sini?" Dia langsung beranjak duduk dengan dibantu oleh mama Sintya.
Papa Adnan menatap istrinya itu dengan sendu. "Sayang, aku merindukanmu." Dia menggenggam kedua tangan mama Sintya membuat wanita paruh baya itu terdiam.
Bella yang melihat semuanya bergegas mengajak kepala pelayan itu untuk keluar, dan memberi waktu pada sepasang suami istri itu.
"Maaf, Tuan. Bagaimana kabar Anda?" Mama Sintya melepaskan genggaman tangan papa Adnan membuat laki-laki itu menatap sendu.
"Sayang, aku, aku sangat merindukanmu dan anak-anak kita."
•
•
•
__ADS_1
Tbc.