Mengejar Cinta Kupu-Kupu Malam

Mengejar Cinta Kupu-Kupu Malam
Bab. 26. Rencana Pernikahan.


__ADS_3

Setelah sampai di rumah sakit, Bella segera mengajak teman-temannya untuk ke ruangan di mana adiknya di rawat. Terlihat Bobi sedang berbincang dengan Dokter yang selama ini merawatnya.


"hello, apa aku mengganggu?"


"Kakak!"


Bobi langsung tersenyum lebar saat melihat kedatangan sang Kakak, sementara Bella langsung memeluk Bobi seolah-olah sudah sekian lama tidak bertemu.


"kenapa Kakak baru datang sekarang?" tanya bocah kecil itu dengan cemberut.


"Maaf Sayang, semalam kakak enggak bisa datang ke sini!"


Bella mengusap-usap rambut Bobi dengan gemas, sementara adiknya itu hanya mencebikkan bibirnya saja.


"sepertinya kau tidak datang sendiri ya, Bel?"


"Astaga, aku sampai lupa!"


Bella segera mempersilahkan Rita dan Yola untuk masuk, sangking senangnya bertemu Bobi dia sampai lupa kalau sedang bersama teman-temannya.


"Kirain kami cuma disuruh jaga pintu!"


Bella tergelak mendengar sindiran Rita. "Iya-iya maaf, aku kan lupa alias enggak ingat!"


"Cih!"


Bella lalu memperkenalkan teman-temannya pada Bobi dan juga Rudi, seorang Dokter yang selama ini merawat dan menjaga sang adik.


"namaku Bobi, terima kasih karna sudah menjadi teman Kak Bella!"


"Aaw, kau manis sekali sih Sayang!"


Rita langsung memeluk tubuh Bobi yang tersipu malu, bocah berumur 9 tahun itu membalas pelukannya dengan hangat.


Setelah saling sapa dan mengobrol panjang lebar, Bella lalu mengantar teman-temannya yang ingin pulang ke rumah masing-masing.


"Lalu, bagaimana dengan sekolah Bobi, Bel? Selama ini kan dia harus berada di rumah sakit?"


Bella terdiam, selama ini dia tidak pernah memikirkan pendidikan untuk Bobi. Dia hanya fokus untuk mencari uang agar bisa membiayai pengobatan sang adik.


"Aku, aku tidak pernah memikirkan itu, Rit!"


Rita mengusap bahu Bella, begitu juga dengan Yola yang mengerti bagaimana keadaannya saat ini.


"maafkan aku Bel, seharusnya aku tidak-"


"Aku mengerti apa maksudmu, Rit! Aku sama sekali tidak tersinggung, aku malah sangat senang dengan perhatian dari kalian!"

__ADS_1


Rita dan Yola tersenyum lebar, mereka memeluk tubuh Bella dengan erat. Walaupun baru mengenal Bella beberapa hari, tapi mereka sudah menyayanginya dan menggapnya sebagai saudara mereka sendiri.


Dari kejauhan, Abra dan Rafi terus memperhatikan mereka bertiga. Ada suatu getaran aneh yang menjalar dalam hati kedua lelaki itu, apalagi saat mengetahui kondisi kesehatan adik Bella.


"Aku tidak menyangka kalau Bella harus menanggung pengobatan adiknya, apa jangan-jangan dia menjual diri karna hal itu?"


Abra melirik ke arah Rafi yang juga sedang meliriknya. "Entahlah, Rafi! Aku tidak tau, yang pasti dia wanita yang mengagumkan!"


Rafi menganggukkan kepalanya, dia setuju dengan apa yang Abra katakan terlepas dari pekerjaan yang dulu dijalani oleh wanita itu.


"jadi, sekarang kita harus ke mana, Tuan?" tanya Rafi kemudian.


"Kita-"


Belum sempat Abra menjawab ucapan Rafi, tiba-tiba ponselnya berdering dan menampakkan nama Stefy di layar benda pipih itu.


"Kita pulang!"


Rafi menganggukkan kepalanya dan segera pergi meninggalkan tempat itu, sementara Abra mengangkat panggilan masuk dari Stefy.


"Sayang, sekarang kau lagi di mana?"


"ada apa?" tanya Abra tanpa menjawab pertanyaan wanita itu.


"Aku sedang direstoran bersama orangtuaku dan juga orangtuamu, bisakah kau datang ke sini?"


Stefy lalu menyebutkan alamat dari restoran yang sedang mereka tempati saat ini, sementara Abra menekan loadspeaker agar Rafi bisa mendengarnya.


Setelah itu panggilan terputus, dan Rafi segera melajukan mobilnya menuju tempat yang disebut oleh Stefy tadi.


Sesampainya di tempat tujuan, Abra langsung berjalan masuk ke dalam ruang VIP restoran itu, sementara Rafi memilih untuk menunggu di luar ruangan.


"Sayang, kau sudah datang?"


Stefy langsung menghampiri Abra yang baru saja masuk ke dalam ruangan, dia lalu memeluk lengan lelaki itu dan membawanya duduk di sampingnya.


"selamat malam Ma, Pa. Om dan Tante!"


"selamat malam juga, Abra!" balas kedua orangtua Stefy.


Abra lalu menyandarkan tubuhnya di sandarakn kursi, tanpa sedikitpun melihat ke arah Stefy.


Setelah kedatangan Abra, para pelayan mulai menyajikan makanan dan minuman untuk mereka. Setelahnya mereka semua menikmati sajian itu sambil sesekali bersenda gurau.


"jadi, bagaimana rencana kita selanjutnya?" tanya Papa Renal.


Abra yang sudah tau tentang pembahasan dipertemuan itu memilih diam, dia asik memakan makanannya walaupun tidak tau apakah enak atau tidak.

__ADS_1


"Lebih baik segera kita nikahkan saja, untuk apa lama-lama lagi!"


Ya, mereka semua menyetujui apa yang Mama Sila katakan. Terutama Stefy yang langsung bersorak senang karna tujuannya akan segera terlaksana.


"Bagaimana denganmu, Abra? Apa kau punya pemikiran sama seperti kami?"


Abra mengambil selembar tisu dan mengusap mulutnya. "Terserah saja, Om! Aku cuma ngikut!"


Kedua orangtua Stefy merasa senang, mereka semua lalu memutuskan kalau pernikahan Abra dan Stefy akan dilaksanakan dua bulan ke depan.


Setelah semuanya di sepakati, mereka lalu bubar barisan dan pulang ke rumah masing-masing.


***


Waktu berlalu dengan sangat cepat, tidak terasa sudah sebulan Bella bekerja di Perusahaan Abra. Semua atasan sangat menyukai hasil kerjanya, walaupun dia hanya lulusan SMA, tetapi pekerjaannya sangat bagus, rapi dan juga teliti.


Bella sangat senang dengan gaji yang dia terima, walau jumlahnya tidak sebanyak saat dia menjajakan diri. Akan tetapi, entah kenapa hatinya benar-benar bahagia dengan pekerjaannya saat ini.


"Kau mau langsung ke rumah sakit, Bel?"


Bella menganggukkan kepalanya. "Ya, aku ingin membelikan makanan enak untuk Bobi dan juga Rudi!"


Rita dan Yola menganggukkan kepala, lalu mereka semua berpisah di pinggir jalan menuju tempat masing-masing.


"Tak-"


Bella yang akan memanggil taksi tiba-tiba merasa sangat pusing, pandangannya terasa berputar-putar dan tidak berselang lama dia jatuh pingsan.


Semua orang yang ada di tempat itu langsung menghampirinya, termasuk Rafi yang tidak sengaja melihatnya.


"Astaga, Bella? Kamu, kamu kenapa?"


Rafi mencoba untuk membangunkan Bella, tetapi wanita itu tidak bergeming dengan wajah sangat pucat.


Dia lalu membawa Bella ke mobilnya dengan dibantu yang lain. Setelah itu dia menelpon Abra untuk memberitahukan keadaan wanita itu.


"halo!"


"Tuan, Bella pingsan!"


"Apa?"




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2