Mengejar Cinta Kupu-Kupu Malam

Mengejar Cinta Kupu-Kupu Malam
Bab. 53. Kekuatan Jodoh.


__ADS_3

Soni langsung memeluk tubuh Rita dengan erat, begitu juga dengan Rita yang membalas pelukan laki-laki itu dengan tidak kalah erat.


Beberapa saat kemudian, mereka keluar dari tempat itu dengan bergandengan tangan dan raut wajah yang tampak berseri-seri.


Pada saat yang sama, Abra sudah sampai di apartemen. Terlihat mama, istri dan juga adik iparnya sedang duduk di depan televisi sambil tertawa riang.


"Aku pulang."


Mereka semua langsung menoleh ke arah sumber suara, dan tersenyum lebar saat melihat kedatangan Abra.


"Kau sudah pulang, Nak?"


Abra menganggukkan kepalanya dan mengecup pipi mama Sintya, dia lalu beralih pada Bella dan mengecup pipinya juga. Lalu Abra duduk di samping Bobi sambil merangkul tubuh adik iparnya itu.


"Loh, di mana kakakmu, Abra?" tanya mama Sintya sambil celingukan mencari keberadaan Soni.


"Kakak sedang bersama wanitanya, Ma. Paling pulang malam."


Mama Sintya mengernyitkan keningnya dengan bingung, begitu juga dengan Bella yang tidak mengerti. "Wanitanya siapa?" tanya mama Sintya.


Abra lalu menceritakan tentang pertemuannya dengan Rita, juga tentang siapa wanita itu yang sesungguhnya.


"Jadi, Rita itu adiknya Tuan Kiano?" tanya mama Sintya dengan terkejut membuat Abra memandang dengan heran.


"Apa Mama mengenalnya?"


Mama Sintya langsung menganggukkan kepalanya. "Tentu saja, Abra. Dia itu gadis yang akan papamu jodohkan dengan kakakmu, tapi katanya gadis itu kabur dari rumah karena menolak perjodohan yang kami lakukan."


Bella dan juga Abra tercengang dengan apa yang mama Sintya katakan, sementara mama Sintya tersenyum senang saat mengetahui semua ini.


"Jodoh memang tidak ke mana, ya. Sejauh mana pun pergi, dan sekuat apa pun menolak. Pada akhirnya akan tetap dipertemukan oleh Tuhan, dan dipersatukan dengan erat dalam mahligai cinta."

__ADS_1


"Yang Mama katakan benar. Mungkin kakak dan juga Rita memang sudah berjodoh, itu sebabnya mereka kembali bertemu."


Semua orang setuju dengan apa yang Abra katakan, dia lalu beralih pada Bobi yang sejak tadi terus menatapnya.


"Bagaimana keadaanmu, Bobi?" tanya Abra sambil merangkul tubuh pemuda itu.


"Aku sehat, Kak. Sangat sehat. Terima kasih untuk semuanya." Bobi menatap Abra dengan mata berkaca-kaca, membuat suasana berubah menjadi sendu.


"Kenapa berterima kasih segala, hem? Memangnya kakak kasi apa?" Abra merasa gemas dengan adik iparnya yang berusia sekitar 12 tahun itu membuat Bobi memeluk tubuhnya dengan erat.


"Terima kasih karena Kakak udah bayarin pengobatanku, juga udah menjaga kakakku. Pokoknya Kakak udah baik sekali padaku dan juga Kak Bella," ucap Bobi dengan lirih. Air mata sudah keluar dari kedua matanya karena merasa benar-benar bersyukur bisa bertemu dengan orang sebaik Abra.


Dengan cepat Abra mengusap air mata yang menetes diwajah Bobi. "Semua itu bukan karnaku, Bobi. Tapi karna kakakmu sendiri. Dia sudah bekerja keras untukmu, dan kau hanya membantu sedikit saja."


Bobi menganggukkan kepalanya. Dia tahu sekeras apa sang kakak berjuang selama ini, dia bahkan tau setiap menatap wajah lelah sang kakak.


"Sudahlah, kenapa malah sedih seperti ini sih?" Bella lalu merangkul tubuh suami dan juga adiknya, mereka lalu sama-sama tertawa dengan apa yang terjadi saat ini.


Tepat pukul 7 malam, Rita dan Soni datang ke apartemen setelah menghabiskan waktu di taman. Kedatangan Rita tentu disambut hangat oleh mama Sintya dan juga Bella, yang selama ini sangat merindukan wanita itu.


"Kau membuat kami khawatir, Rita," ucap Bella dengan kesal membuat Rita tersenyum lebar.


"Maaf. Kemaren itu aku sangat sibuk, sampai tidak sempat untuk memberi kabar,"


"Iya lah. Tapi sekarang sudah tidak sibuk, 'kan? Makanya bisa bertemu dengan Kak Soni."


Wajah Rita dan Soni bersemu merah dengan godaan dari Bella, membuat tawa semua orang pecah di tempat itu.


Kemudian mereka semua menikmati makan malam dengan suasana yang cukup ramai, membuat mama Sintya menatap dengan sendu.


"Andai hatimu tidak sekeras batu, Pa. Pasti saat ini kita bisa berkumpul dan tertawa seperti ini." Dia lalu menundukkan kepalanya sebelum mereka melihat kesedihan yang dia rasakan karena mengingat papa Adnan.

__ADS_1


Selesai makan, mereka lalu menghabiskan waktu untuk mengorbol ria. Abra lalu menceritakan tentang perjodohan yang terjadi antara Soni dan juga Rita dulu.


"Apa?" Soni sangat terkejut saat mendengarnya, tetapi berbeda sekali dengan Rita yang malah tersenyum simpul.


"Bagaimana mungkin aku tidak tau semua itu, Ma?" tanya Soni dengan tajam.


"Kau tanya saja pada Rita, Soni. Sepertinya dia juga sudah tahu tentang perjodohan itu."


Soni lalu mengalihkan pandangannya ke arah Rita seolah-olah sedang bertanya tentang semuanya.


"Memang benar kalau aku sudah tahu tentang perjodohan itu, tapi setelah aku bekerja diperusahaanmu," jawab Rita. "Setelah itu, aku tidak peduli dan sama sekali tidak tertarik karena kata kak Kiano perjodohan kita sudah dibatalkan."


Soni menganggukkan kepalanya, begitu juga dengan yang lain. "Ternyata cinta mencari jalannya sendiri ya." Dia merasa tidak percaya.


"Seperti itulah yang namanya jodoh, Nak. Tapi, kedua orangtua mu tidak akan keberatan dengan hubungan kalian sekarang, 'kan?" tanya mama Sintya dengan khawatir.


Rita menggelengkan kepalanya. "Sekarang mereka membebaskanku untuk menjalin hubungan dengan siapa pun, dan saat kakak mengatakan tentang tuan Soni. Kedua orang tuaku bereaksi sama seperti apa yang mama katakan tadi."


Mama Sintya merasa lega saat mendengarnya, begitu juga yang lain.


"Baguslah jika seperti itu, Nak. Jadi kalian tidak perlu menunggu apa-apa lagi dan segeralah menikah."


Soni dan Rita saling pandang saat mendengar apa yang mama Sintya katakan.





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2