Mengejar Cinta Kupu-Kupu Malam

Mengejar Cinta Kupu-Kupu Malam
Bab. 38. Masih Selamat.


__ADS_3

Abra sangat terkejut dengan kabar yang Soni katakan, sementara Bella yang ada di sampingnya menatap dengan bingung.


"Cepat, kita harus ke rumah sakit!"


Abra segera mengambil jaket serta kunci mobilnya yang ada di atas meja, sementara Bella juga ikut bersiap-siap walaupun tidak tau apa yang terjadi.


Abra segera melajukan mobilnya ke rumah sakit tempat sang Mama dirawat, sangking kencangnya mobil itu. Bella sampai merasa mual dan akan muntah di dalam mobil.


"Ada apa?"


Sekilas dia melihat ke arah Bella yang sedang menutupi mulutnya dengan tangan, wajah wanita itu memerah membuat dia merasa khawatir.


"Eem, eem!"


Bella membuat isyarat agar Abra menghentikan mobilnya, dia memukul-mukul kaca jendela mobil itu dengan tangan sebelah kirinya.


Walaupun merasa bingung, Abra tetap menepikan mobilnya. Begitu berhenti, Bella langsung keluar dan memuntahkan semua isi perutnya.


"Hoek, hoek, hoek!"


Abra yang melihat Bella muntah-muntah langsung mengambil minum, yang untung saja ada dimobil itu.


Dia memijat punggung Bella agar rasa mual yang wanita itu rasakan hilang, lalu memberikan minum itu saat Bella sudah tenang.


"Hah, hah. Perutku sakit sekali!"


Dengan sigap Abra menggendong tubuh Bella membuat wanita itu memekik kaget. "Apa yang kau lakukan?"


Tanpa menjawab pertanyaan Bella, dia membuka pintu belakang mobil dan mendudukkan wanita itu di sana. Lalu kembali keluar dan berjalan ke arah belakang, rupanya dia ingin melipat kursi agar Bella bisa mensejajarkan tubuhnya.


Bella yang melihat semua itu tentu merasa senang, terlebih-lebih saat ini Abra sedang mengusap-usap perutnya yang sejak tadi bergejolak.


"Duduknya di sini aja ya, kita harus segera ke rumah sakit!"


Bella menganggukkan kepalanya dan langsung di balas dengan kecupan Abra dikeningnya, laki-laki itu lalu pindah kekursi belakang kemudi.


"Abra, jangan terlalu kencang ya!"


Abra tersenyum lalu menunjukkan jempolnya, dia lalu kembali melanjutkan perjalanan walaupun tidak sekencang tadi.

__ADS_1


Tidak berselang lama, mobil mereka sudah sampai di parkiran rumah sakit. Abra segera membantu Bella untuk turun dari mobil, walaupun wanita itu mengatakan baik-baik saja.


Mereka segera menuju ruang UGD, terlihat Soni dan beberapa pembantu ada di depan ruangan tersebut.


"Kak!"


Semua orang langsung mengalihkan pandangan mereka ke arah Abra, lalu dia semakin melajukan kakinya untuk mendekati mereka.


"kau sudah sampai?"


"ada apa Kak? Apa yang terjadi?" tanya Abra dengan sangat khawatir.


Soni menghela napas kasar, dia lalu menceritakan semua yang sudah terjadi sejak kepergian Abra. Termasuk apa yang sedang terjadi pada kedua orang tua mereka saat ini.


Bruk!


Tubuh Abra langsung terduduk dikursi saat mendengar semua cerita Soni, dia mengusap wajahnya dengan kasar karna melihat kekacauan yang sudah dia lakukan.


Bella yang mendengar semuanya tentu merasa sangat bersalah, karna dia dan anaknya, Abra sampai melawan keluarganya sendiri. Hasilnya, saat ini kedua orangtua laki-laki itu berada di rumah sakit.


"apa yang harus aku lakukan sekarang, Kak?" lirih Abra, saat ini dia benar-benar tidak tau lagi harus bagaimana.


"Itu kita pikirkan nanti, Abra! Sekarang kita fokus sama kesehatan Mama dan Papa dulu!"


Abra menganggukkan kepalanya, kemudian dia melihat ke arah Bella yang masih berdiri tidak jauh dari tempatnya saat ini.


"Kenapa berdiri situ, Bella? Kemari!"


Abra menepuk kursi yang ada di sampingnya dan menyuruh Bella untuk mendekat, walaupun tampak ragu-ragu. Wanita itu menuruti apa yang dia katakan.


"Apa yang sedang kau pikirkan? Apa kau merasa bersalah?"


Bella sedikit kaget dengan apa yang Abra katakan, dia tidak menyangka kalau laki-laki itu tau apa yang sedang dia pikirkan saat ini.


"Kenapa merasa bersalah? Kalian sudah melakukan hal yang tepat kok, cuma ya butuh waktu agar semuanya baik-baik saja!"


Tiba-tiba Soni angkat bicara, dia mengulas senyum saat bersitatatap mata dengan Bella.


"Oh ya, kita belum berkenalan secara resmi, Bella! Aku Soni, kakaknya Abra!"

__ADS_1


Soni menyodorkan tangannya yang langsung disambut oleh tangan Bella. "Saya Bella Tuan, mantan karyawan yang pernah bekerja di perusahaan Tuan!"


"Benarkah?"


Soni melihat ke arah Abra seolah-olah sedang bertanya, dan Abra sendiri hanya mendessah frustasi melihat Kakaknya.


"Bisa-bisanya kakak gak tau kalau dia kerja di perusahaan!"


Abra menggeleng-gelengkan kepalanya, Kakaknya itu memang pelupa dan susah sekali mengingat seseorang.


"Memangnya aku enggak ada kerjaan apa, sampai harus ngecek karyawan satu-satu!" Soni mencebikkan bibirnya dengan kesal.


Di tengah keributan itu, tiba-tiba Dokter keluar dari ruang UGD membuat mereka semua langsung mendekatinya.


"Bagaimana, Dokter? Mama saya baik-baik saja kan?"


Dokter itu menganggukkan kepalanya. "Saat ini kondisi Nyonya Sintya sudah mulai stabil, hanya saja tadi detak jantungnya sempat melemah. Sementara Tuan Adnan harus menerima jahitan dikepala sebanyak 6 jahitan, dan tidak ada lagi yang harus dikhawatirkan!"


Semua orang bernapas lega saat mendengarnya, rasa khawatir yang sejak tadi menyelimuti hati mereka langsung lenyap seketika.


"Tapi Tuan, sepertinya Ibu anda mengalami kekerasan fisik karna ada banyak luka memar disekujur tubuh. Kami sudah memeriksa semua sidik jari yang ada ditubuh Nyonya Sintya, saya harap-"


"Itu tidak perlu, Dokter!"


Dokter itu mengernyitkan keningnya dengan bingung. "Maksud anda, anda tidak mau tau siapa yang melakukannya?"


"Ya, karna kami sudah tau pelakukanya!"


Dokter itu menghela napas lega, karna pelaku kekerasan fisik itu harus segera dikirim ke penjara. "Syukurlah, Tuan! Semoga pelakunya segera tertangkap!"


"dia udah tertangkap, kok! Pelakukanya adalah Papaku!"


"Apa?"




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2