
Soni langsung keluar dari ruangan Papanya, dia lalu mendengar suara berisik dari dalam kamar itu pertanda kalau Papanya sedang mengamuk.
Prang
Brak
"Anak si*alan! Sudah susah payah aku membesarkan kalian, tapi kalian malah melawanku!"
Papa Adnan mengepalkan kedua tangannya, lihat saja mereka nanti. Dia akan mengusir mereka semua dan jangan harap bisa menikmati hartanya.
Abra dan Bella yang masih setia menemani Mama Sintya langsung melihat ke arah pintu saat ada yang membukanya, terlihta Soni berjalan gontai ke dalam ruangan itu.
"bagaimana, Kak? Apa Papa baik-baik saja?" tanya Abra, biar bagaimana pun dia merasa sangat mengkhawatirkan Papanya.
Soni langsung mendudukkan tubuhnya ke atas sofa. "Dia baik, sangat baik sampai bisa mengusir kita semua!"
Abra dan Bella langsung saling pandang, mereka tidak mengerti dengan apa yang Soni ucapkan. "Apa maksudnya?"
Soni langsung tersenyum sinis, tau gini sejak dulu saja dia pergi jauh dari Papanya. "Dia mengusir aku dan Mama juga, jadi kita semua sudah diusir olehnya!"
"Apa?" Abra dan Bella sangat terkejut saat mendengar ucapan Soni, sontak Abra langsung mendekati laki-laki itu.
"Kau, kau bercanda, Kak?"
Soni menghela napas kasar sambil menggelengkan kepalanya. "Aku akan membawa Mama keluar dari sana, aku juga sudah membeli apartemen di dekat apartemen mu!"
Abra mendessah frustasi saat mendengarnya, kenapa semua jadi seperti ini? Kenapa keluarganya jadi hancur karna apa yang dia lakukan?
__ADS_1
"Kau seperti itu lagi?" Soni langsung merangkul bahu sang adik. "Ini bukan salahmu, dan bukan salah siapa-siapa. Anggap saja kalau takdir kita memang seperti ini!" Dia mencoba untuk menenangkan hati Abra.
"tapi Kak, bagaimana dengan Mama? Mama pasti sedih saat mengetahui semua ini!"
"Mama akan jauh lebih sedih saat melihat anak-anak Mama menderita!"
Mereka semua langsung melihat ke arah Mama Sintya, sontak mereka langsung mendekati wanita paruh baya itu yang ternyata sudah sadar.
"Mama baik-baik saja kan?" Soni menggenggam tangan sang Mama yang menatapnya dengan senyuman.
"Mama akan baik-baik saja jika putra-putra mama ada di samping mama!"
Abra dan Soni langsung menganggukkan kepala mereka, tentu saja mereka akan selalu berada di samping sang Mama apapun yang terjadi.
"Dan kau, Abra! Jangan pernah menyalakan dirimu untuk semua ini, karna apa yang Kakakmu katakan itu sudah benar. Semua ini terjadi karna takdir Tuhan, dan bukan karnamu! Mama juga tidak keberatan jika harus keluar dari rumah itu, karna Mama bahagia jika bisa bersama kalian!"
Mama sintya meneteskan air mata saat mendengar ucapan Soni. "Tentu saja, Nak! Kau memang seorang kakak yang sangat baik, Mama bangga denganmu, Soni!"
Bukan hanya Mama Sintya saja yang bangga akan kedewasaan dan tanggung jawab Soni, bahkan Abra juga sangat menghormati dan menghargai kakaknya itu.
Setelah semua masalah yang terjadi, mereka akan membuka lembaran baru tanpa adanya seorang Ayah. Mereka juga harus lepas dari bayang-bayang Papa Adnan, tentu dengan segala kemewahan yang dulu mereka rasakan.
Dokter lalu kembali memeriksa keadaan Mama Sintya dan mengatakan kalau kondisinya sudah stabil, mungkin besok atau lusa Mama Sintya sudah bisa di bawa pulang.
Soni memutuskan untuk segera mengemas semua barang-barangnya, dia hanya akan mengambil beberapa pakaian dan juga uang hasil kerja kerasnya selama ini.
Selain itu, dia tidak membawa apapun yang merupakan milik Papanya. Mobil, kartu kredit bahkan barang-barang lain dia tinggal. Walaupun semua itu dia yang membelinya, tetapi dia merasa tidak pantas untuk menggunakannya.
__ADS_1
Para pelayan yang ada dirumah itu sangat terkejut saat melihat Soni mengemas beberapa barang, tidak lupa dia juga mengemas barang-barang sang Mama untuk dibawa.
"Maaf, Tuan! Tuan mau ke mana?"
Kepala pelayan mencegah langkah Soni yang baru saja menuruni anak tangga, dia menatap sedih ke arah anak dari majikannya itu.
"Tolong jaga Papa baik-baik ya, Buk Nem! Ibuk harus memastikan Papa makan dengan teratur, dan juga tidak boleh sering begadang!" Soni menepuk bahu wanita paruh baya itu yang dibalas dengan tatapan sendu.
"Tuan, saya mohon jangan tinggalkan rumah ini! Tuan Abra sudah pergi, dan sekarang Tuan juga. Siapa yang akan menjaga Tuan besar dan juga Nyonya?"
Soni tersenyum mendengar ucapan kepala pelayan itu, memang mereka sudah sangat dekat karna wanita paruh baya itu sudah puluhan tahun bekerja dengan keluarganya.
"Ibuk yang harus menjaga Papa, dan Mama akan ikut denganku!"
"A-apa? Tapi Tuan-"
Buk Nem tidak dapat melanjutkan ucapannya saat Soni sudah melangkahkan kakinya untuk keluar dari rumah itu, dia menaiki sebuah mobil yang baru sebulan yang lalu dia beli.
"Aku akan membawa mobil ini sebagai bayaran untuk semua kerja kerasku di perusahaan, Pa! Dan setelah ini, aku akan membangun perusahaanku dan Abra sendiri. Agar Papa melihatnya bahwa kami juga bisa menjadi orang yang sukses!"
•
•
•
Tbc.
__ADS_1