
Abra langsung berlari keluar dari ruangannya untuk menghampiri Bella, dia langsung naik ke lift untuk menuju lantai 1.
Bruk!
"Maaf!"
Begitu keluar dari lift, tidak sengaja Abra menabrak karyawannya, membuat semua berkas-berkas yang di bawa wanita itu berserakan. Dia tidak sempat untuk membantu membereskannya, dan hanya bisa meminta maaf saja.
Soni yang melihat Abra berlarian di perusahaan segera menyusul adiknya, dia merasa penasaran kenapa Abra sampai berlari seperti itu.
"Tuan!"
Abra yang sudah berada di parkiran kembali berlari saat mendengar panggilan Rafi, kini dia sudah berdiri di samping lelaki itu dengan napas tersengal-sengal.
"Mana, hah. Mana Bella, hah!"
Rafi segera membuka pintu mobilnya membuat Abra terbelalak, lelaki itu lalu segera masuk dan memangku kepala Bella.
"Apa yang terjadi padamu, Bella? Kenapa kau pingsan seperti ini?"
Abra berusaha untuk membangunkan Bella dengan menepuk-nepuk wajahnya, tetapi wanita itu tetap diam membuatnya semakin dilanda kekhawatiran.
"Kita harus segera ke rumah sakit!"
Rafi menganggukkan kepalanya dan segera masuk ke dalam mobil, tetapi, belum sempat dia melajukan mobil itu. Tiba-tiba Soni berdiri tepat di hadapan mobil tersebut.
"Tuan Soni?"
Abra yang sedang sibuk membangunkan Bella melihat ke arah depan, dia sedikit kaget saat melihat apa yang sedang kakaknya lakukan.
Soni lalu menghampiri Abra dan menyuruhnya untuk membuka pintu mobil. "Kau mau ke mana, Abra?"
"Aku harus ke rumah sakit, sekarang Kakak minggir!"
Abra mendorong tubuh Soni lalu kembali menutup pintu mobil, dan mobil itu langsung melaju menuju jalanan begitu pintu tertutup.
"Astaga, sebenarnya apa yang terjadi padanya?"
Soni terus menatap kepergian mobil Rafi, dia lalu berjalan ke mobilnya sendiri untuk mengikuti mereka.
"Sebenarnya apa yang terjadi pada Abra? Dan siapa wanita yang ada dalam pangkuannya itu? Sepertinya wajahnya tidak asing?"
Soni terus memacu mobilnya untuk mengejar mobil Rafi, dia benar-benar sangat penasaran dengan apa yang sedang terjadi pada mereka. Terutama seorang wanita yang tadi sedang bersama dengan Abra.
__ADS_1
Tidak berselang lama, mobil mereka sudah sampai di rumah sakit terdekat. Abra segera menggendong Bella dan membawanya masuk ke rumah sakit itu.
"Dokter! Dokter!"
Suara Abra menggema dilobi rumah sakit membuat seorang Dokter dan beberapa perawat sigap membawa banker ke arahnya.
Abra segera membaringkan Bella di atas banker tersebut. "Tolong Bella!"
Dokter itu menganggukkan kepalanya, dan segera membawa Bella ke ruang UGD dibantu dengan beberapa perawat yang bersamanya.
"Tenanglah, Tuan! Tidak akan terjadi sesuatu pada Bella!"
Abra menganggukkan kepalanya, tetapi dia tetap khawatir dengan keadaan wanita itu saat ini. Apalagi tadi pagi dia masih melihat Bella baik-baik saja, mereka bahkan sempat berbincang saat baru selesai makan siang.
Soni yang baru tiba di rumah sakit langsung mencari keberadaan Abra, dia lalu mendekati adiknya itu yang sedang berdiri di lorong rumah sakit.
"Abra!"
Abra dan Rafi terlonjak kaget saat mendengar panggilan seseorang, mata mereka membulat sempurna saat melihat keberadaan Soni di tempat itu.
"Kakak?"
"Sebenarnya ada apa, Abra? Kenapa kau tadi berlarian di kantor? Terus sekarang apa lagi ini, siapa wanita yang kau bawa ke sini?"
"Katakan, Abra! Sebenarnya apa yang terjadi?"
Soni terus mendesak Abra agar mau mengatakan segalanya, sebenarnya dia hanya khawatir saja kalau-kalau adiknya mendapat masalah.
"namanya Bella, Kak! Dia salah satu karyawan kita!" jawab Abra.
Soni mengernyitkan keningnya. "Salah satu karyawan kita? Terus kenapa dia tidak sadar? Dan kenapa malah kau yang mengantarnya ke sini?"
Abra memijat pelipisnya yang terasa sakit. "Sudahlah Kak, ceritanya panjang! Pokoknya jangan tanyakan apapun lagi!"
Soni menghela napas berat, dia lalu melihat lurus ke depan dan tidak lagi mengeluarkan berbagai pertanyaan.
Tidak berselang lama, ruang UGD itu terbuka membuat ketiga lelaki yang ada di tempat itu langsung beranjak dari kursi.
"Bagaimana keadaan Bella, Dokter?"
Dokter itu tersenyum melihat kekhawatiran diwajah Abra saat ini. "Anda tidak perlu khawatir, Tuan! Nona Bella hanya sedang kelelahan saja!"
Abra akhirnya bisa bernapas lega, begitu juga dengan Rafi dan Soni yang jadi ikut-ikutan khawatir karna melihatnya.
__ADS_1
"maaf Tuan, apa anda suami pasien?" tanya Dokter itu.
"ti-tidak, saya adalah atasannya!" jawab Abra dengan tergagap, entah kenapa dadanya berdebar keras saat Dokter itu bertanya tentang suami Bella.
"Lalu, apa anda bertiga ada yang mengenal suami pasien?"
Ketiga lelaki itu kompak menggelengkan kepala. "Bella belum menikah, Dokter! Tapi, apa yang sedang terjadi? Kenapa Dokter menanyakan tentang suaminya?"
Dokter itu terdiam, dia sedang menimbang-nimbang apakah harus mengatakannya atau tidak.
"Dokter?"
Abra melihat Dokter itu dengan tajam, membuat Dokter tersebut terpaksa mengetakan semuanya.
"Jadi begini, Tuan! Saya sudah melakukan pemeriksaan terhadap pasien, dan hasilnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Pasien hanya butuh banyak istirahat, dan minum vitamin agar tidak lemas. Tapi ...,"
"Tapi apa, Dokter? Tolong langsung katakan saja dan jangan berbelit-belit!"
Abra tampak sangat tidak sabaran, begitu juga dengan yang lain. Mereka sudah sangat khawatir dan penasaran dengan apa yang terjadi pada wanita itu.
"tapi ada satu hal yang harus segera diperiksa ke Dokter kandungan, Tuan! Karna sepertinya, pasien saat ini sedang hamil!"
"A-apa? Hamil?"
Abra sangat terkejut mendengar penjelasan Dokter, begitu juga dengan Rafi dan Soni yang ikut terkejut karna terbawa suasana.
"ba-bagaimana bisa, Dokter?"
"Lebih baik Tuan segera membawa pasien ke Dokter kandungan, supaya bisa dipastikan kebenarannya!"
Bruk!
"Tuan!"
Tubuh Abra jatuh begitu saja dia atas kursi, kakinya terasa sangat lemas dan tidak sanggup untuk menahan berat tubuhnya sendiri.
"Hamil? Bella sedang hamil? Apa, apa jangan-jangan dia hamil karna malam itu?"
•
•
•
__ADS_1
Tbc.